google.com, pub-7927405703202979, DIRECT, f08c47fec0942fa0

Grand Mercure Malang Mirama Luncurkan Beyond Waste, Ubah Limbah Jadi Peluang Ekonomi

  • Bagikan
banner 468x60

Kota Malang, iKoneksi.com – Industri perhotelan di Jawa Timur mulai menunjukkan langkah nyata menuju pengelolaan lingkungan yang lebih berkelanjutan. Menyambut Hari Lingkungan Hidup Sedunia 2026, Grand Mercure Malang Mirama bersama Universitas PGRI Kanjuruhan Malang (Unikama), Local Preneur, dan People Hub meluncurkan gerakan “Beyond Waste”, Kamis (4/6/2026).

Program tersebut berfokus pada pengelolaan limbah makanan (food waste) menjadi produk bernilai guna sekaligus membuka peluang ekonomi baru bagi masyarakat.

Cluster General Manager Grand Mercure Malang Mirama dan Mercure Surabaya Grand Mirama, Sugito Adhi, menegaskan Beyond Waste bukan sekadar kegiatan seremonial, melainkan bagian dari komitmen jangka panjang dalam menerapkan prinsip Environmental, Social, and Governance (ESG).

“Beyond Waste diharapkan menjadi awal dari gerakan keberlanjutan yang dapat diterapkan secara nyata. Kami tidak hanya mengelola limbah, tetapi sedang membangun warisan tanggung jawab bagi generasi mendatang,” kata Sugito.

Menurutnya, limbah organik yang selama ini dianggap tidak memiliki nilai ternyata dapat diolah menjadi produk yang bermanfaat secara ekonomi maupun sosial. Konsep ekonomi sirkular yang diusung program tersebut diharapkan mampu menciptakan lapangan kerja baru sekaligus meningkatkan efisiensi pemanfaatan sumber daya.

“Ini bukan hanya soal mengurangi limbah. Dari food waste dapat lahir peluang usaha baru, menciptakan nilai ekonomi, dan mendukung kemandirian material yang sebelumnya terbuang begitu saja,” ujarnya.

“Komitmen tersebut telah diterapkan Grand Mercure Malang Mirama sejak hotel mulai beroperasi pada 2021. Sesuai kebijakan jaringan global Accor, hotel menerapkan pengawasan ketat terhadap produksi sampah makanan setiap hari,” sambung Sugito.

Operational Manager Grand Mercure Malang Mirama, Wahyu Widianto, mengungkapkan volume food waste sangat bergantung pada tingkat okupansi hotel. Penyumbang terbesar limbah makanan berasal dari sesi sarapan.

“Ketika jumlah tamu sarapan sekitar 250 orang, food waste berkisar 8 hingga 10 kilogram. Saat okupansi meningkat hingga 400 sampai 500 orang, jumlahnya bisa mencapai 13 hingga 15 kilogram,” jelas Wahyu.

Wahyu membeberkan manajemen hotel menetapkan batas maksimal limbah makanan harian sebesar 15 kilogram sesuai standar Accor. Untuk menekan angka tersebut, berbagai upaya pemanfaatan kembali dilakukan oleh tim dapur.

“Salah satunya adalah mengolah roti yang tidak habis terjual menjadi menu pencuci mulut khas Timur Tengah, Om Ali, yang kemudian disajikan kembali saat sarapan. Buah stroberi yang bentuknya kurang sempurna tetapi masih layak konsumsi juga diproses menjadi selai. Sementara limbah makanan yang sudah tidak dapat dikonsumsi dialihkan menjadi bahan pembuatan pupuk kompos dan pakan ternak,” terang dia.

Founder Local Preneur, Baskoro, menyebut langkah yang dilakukan Grand Mercure Malang Mirama menjadi contoh konkret bagaimana dunia usaha dapat berkontribusi terhadap pelestarian lingkungan.

“Pelaku industri tidak harus memulai dari langkah besar. Yang terpenting adalah melakukan sesuatu yang nyata dan bisa dijalankan sekarang juga,” ujarnya.

Pandangan serupa disampaikan pakar lingkungan sekaligus dosen Fakultas Peternakan Unikama, Dr. Ir. Tri Ida Wahyu Kustyorini. Ia mengingatkan limbah makanan yang tidak dikelola dengan baik berpotensi meningkatkan pencemaran lingkungan dan emisi gas rumah kaca.

“Limbah restoran maupun rumah tangga yang dibiarkan begitu saja akan menambah cemaran lingkungan dan memperburuk kondisi atmosfer,” katanya.

Menurut Tri Ida, pengolahan limbah organik menjadi pakan ternak maupun pupuk memiliki potensi ekonomi yang besar, terutama bagi masyarakat di Malang Raya.

Sugito menegaskan peluncuran Beyond Waste melibatkan sekitar 50 delegasi dari sektor perhotelan, pelaku UMKM, akademisi, hingga organisasi non-pemerintah. Kegiatan tersebut diisi dengan talkshow keberlanjutan, edukasi pengelolaan limbah makanan, hingga demonstrasi langsung pengolahan food waste menjadi pakan ternak.

“Mengusung tema “Building a Sustainable Future, One Waste at a Time”, gerakan ini menargetkan peningkatan kesadaran masyarakat hingga 95 persen serta pengurangan limbah makanan sebesar 80 persen. Program tersebut juga diharapkan mendukung pencapaian target Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya konsumsi dan produksi berkelanjutan, penanganan perubahan iklim, serta penguatan kemitraan lintas sektor,” pungkasnya.

banner 325x300banner 325x300
banner 120x600
  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *