google.com, pub-7927405703202979, DIRECT, f08c47fec0942fa0

Daya Beli Menurun Imbas Melemahnya Rupiah, Disparta gandeng PHRI Kota Batu Gencarkan Promo Wisata

  • Bagikan
Ketua PHRI Kota Batu, Sujud Hariadi, saat menjelaskan kondisi pariwisata di tengah pelemahan rupiah, Selasa (09/06/2026) (Sukma Fadilah/iKoneksi.com)
banner 468x60

Kota Batu, iKoneksi.com- Pelemahan nilai tukar rupiah ternyata tidak sepenuhnya menjadi kabar buruk bagi sektor pariwisata Kota Batu. Di tengah menurunnya daya beli masyarakat dan meningkatnya biaya operasional, pelaku wisata justru melihat peluang untuk menarik lebih banyak wisatawan domestik melalui strategi promo dan paket bundling.

Kepala Bidang Pemasaran Dinas Pariwisata Kota Batu, Farida Anifah, mengatakan kondisi rupiah yang melemah memang menghadirkan tantangan bagi industri wisata. Masyarakat menjadi lebih selektif dalam membelanjakan uang untuk rekreasi, sementara biaya operasional destinasi wisata, hotel, hingga sektor kuliner ikut terdampak.

Namun, di sisi lain, kondisi tersebut dinilai dapat menggeser minat masyarakat yang sebelumnya berlibur ke luar negeri atau luar pulau untuk memilih destinasi yang lebih terjangkau, termasuk Kota Batu.

“Batu memiliki banyak pilihan wisata, mulai wisata alam, edukasi, keluarga hingga desa wisata. Ini menjadi keunggulan yang bisa menarik wisatawan domestik,” ujar Farida dalam diskusi Idjen Talk City Guide 911 FM.

Ketua PHRI Kota Batu sekaligus Direktur Selekta Grup, Sujud Hariadi, mengakui pelemahan rupiah membuat biaya operasional hotel dan restoran meningkat. Sejumlah kebutuhan seperti energi, bahan baku makanan, hingga perlengkapan hotel mengalami kenaikan harga.

Meski demikian, pelaku usaha memilih menahan kenaikan tarif kamar agar tetap kompetitif di tengah melemahnya daya beli masyarakat.

“Kalau dulu saat long weekend tarif kamar bisa naik cukup tinggi. Sekarang kami lebih memilih mempertahankan harga agar okupansi tetap terjaga,” katanya.

Menurut Sujud, tren wisata saat ini juga mulai bergeser. Wisatawan cenderung memilih destinasi dan akomodasi yang lebih ekonomis dibandingkan wisata premium. Kondisi tersebut terlihat dari meningkatnya okupansi hotel kelas menengah dan destinasi dengan harga terjangkau.

“Untuk menjaga daya saing, pelaku pariwisata di Kota Batu mulai memperkuat kolaborasi melalui paket bundling antara hotel, destinasi wisata, hingga pusat rekreasi. Langkah ini diharapkan mampu memberikan nilai tambah bagi wisatawan tanpa harus membebani mereka dengan biaya yang lebih besar,” terang Sujud.

Sementara itu, Pengamat Ekonomi Pariwisata dari Politeknik Negeri Malang, Dr. Aang Afandi, menilai strategi efisiensi biaya dan paket wisata terjangkau menjadi kunci bertahan di tengah tekanan ekonomi.

“Yang penting aktivitas ekonomi tetap berjalan. Paket bundling, efisiensi biaya, dan penguatan pasar wisata domestik menjadi langkah yang realistis saat ini,” ujarnya.

Farida menegaskan di tengah berbagai tantangan tersebut, Dinas Pariwisata Kota Batu tetap optimistis sektor pariwisata akan bertahan.

“Dukungan promosi digital, penyelenggaraan event berskala nasional hingga internasional, serta kolaborasi antar pelaku wisata diyakini mampu menjaga daya tarik Kota Batu sebagai salah satu destinasi unggulan di Jawa Timur,” tandas Farida.

banner 325x300banner 325x300
banner 120x600
  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *