google.com, pub-7927405703202979, DIRECT, f08c47fec0942fa0

Diskusi Pancasila II, Romo Pius Bahas Pancasila dan Etika Politik Demokrasi Terwakilan

  • Bagikan
banner 468x60
  • Kota Malang, iKoneksi.com – Universitas Negeri Malang (UM) kembali menggelar diskusi bertajuk Pancasila dalam Kepungan Populisme yang sukses menarik perhatian akademisi dan mahasiswa. Acara yang dilaksanakan pada Rabu (30/4/2025), ini diadakan oleh UPT Laboratorium Pancasila (Lapasila) UM. Diskusi tersebut menghadirkan Dr. Pius Pandor, Lic.Phil, Dosen dari STFT Widya Sasana, sebagai pembicara utama, yang membahas bagaimana Pancasila sebagai ideologi negara kini berada dalam tekanan populisme dan tantangan etika politik demokrasi terwakilan.

Menimbang Etika Politik dalam Demokrasi Terwakilan

Dalam kesempatan tersebut, Pius mengungkapkan berbagai pandangan kritisnya terkait hubungan antara populisme dengan nilai-nilai yang terkandung dalam Pancasila. Pandor menyoroti bagaimana fenomena populisme yang berkembang saat ini berpotensi menggerus prinsip-prinsip dasar yang terkandung dalam ideologi bangsa Indonesia tersebut.

“Pancasila sebagai dasar negara seharusnya mampu mengimbangi dinamika politik populis. Sayangnya, dalam praktiknya, banyak tokoh politik yang lebih mengutamakan kemenangan jangka pendek ketimbang menjaga prinsip demokrasi yang berlandaskan pada nilai-nilai Pancasila,” ungkap Pandor di awal pembicaraannya.

Ia juga menekankan pentingnya etika politik dalam demokrasi terwakilan, sebuah sistem yang menuntut agar politik yang dijalankan tidak hanya mengutamakan kekuasaan, tetapi juga memastikan kesejahteraan dan kebijakan yang adil bagi seluruh rakyat.

“Demokrasi yang terwakili harus memperhatikan hak-hak semua pihak tanpa diskriminasi, yang mana itu adalah bagian dari nilai Pancasila,” kata Pandor.

Pancasila dalam Konteks Global dan Nasional

Pandor mengaitkan peran Pancasila tidak hanya dalam konteks Indonesia, tetapi juga dalam kerangka global. Pancasila, menurutnya, memiliki relevansi yang sangat besar dalam merespons dinamika politik dunia yang dipenuhi dengan kebangkitan populisme di berbagai belahan dunia. Ia menyatakan Pancasila sebagai falsafah hidup bangsa Indonesia bisa menjadi model bagi negara-negara lain yang sedang menghadapi tantangan serupa, yaitu bagaimana menjaga persatuan dan kesatuan dalam kemajemukan.

“Pancasila mengajarkan kita tentang pentingnya musyawarah dan mufakat, yaitu jalan tengah yang bisa menghindarkan kita dari polarisasi yang semakin tajam, seperti yang terjadi dalam politik populis,” tegasnya.

Diskusi ini ditekankan Pius tidak hanya menyentuh soal teori-teori politik, tetapi juga memancing para peserta untuk berpartisipasi aktif dalam membahas bagaimana Pancasila dapat diterapkan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara di tengah arus populisme yang semakin berkembang.

Peran Lapasila UM dalam Membentuk Karakter Bangsa

Kepala UPT Laboratorium Pancasila (Lapasila) UM, Akhirul Aminulloh, juga memberikan penjelasan mengenai pentingnya acara tersebut. Ia menjelaskan diskusi ini adalah bagian dari upaya Lapasila untuk terus mendorong pemahaman yang lebih dalam terhadap nilai-nilai Pancasila. Menurut Akhirul, saat ini, pemahaman terhadap Pancasila perlu dikuatkan, terutama dalam konteks perkembangan politik yang dipenuhi dengan populisme yang tidak selalu berakar pada prinsip-prinsip demokrasi yang sejati.

“Lapasila UM berkomitmen untuk memberikan ruang diskusi yang kritis dan konstruktif terkait Pancasila, agar dapat dipahami dan diterapkan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, khususnya di era modern yang penuh tantangan ini,” kata Akhirul.

Ia juga menambahkan diskusi semacam ini akan terus digelar oleh Lapasila untuk memperkuat pemahaman mahasiswa dan masyarakat mengenai nilai-nilai Pancasila yang menjadi dasar ideologi negara Indonesia.

Membangun Demokrasi yang Berlandaskan Pancasila

Acara diskusi ini diikuti oleh berbagai kalangan, mulai dari mahasiswa, dosen, hingga masyarakat umum. Selama acara, peserta diberikan kesempatan untuk berdiskusi dan bertanya langsung kepada pembicara mengenai bagaimana Pancasila dapat diimplementasikan dalam kehidupan politik yang semakin kompleks.

“Diskusi ini menegaskan tantangan besar yang dihadapi bangsa Indonesia bukan hanya datang dari dalam negeri, tetapi juga dari perkembangan ideologi global yang semakin mendominasi. Untuk itu, penting bagi setiap elemen bangsa untuk tetap berpegang pada nilai-nilai luhur Pancasila dalam menghadapi arus populisme yang mengancam kehidupan demokrasi yang sehat,” ungkap Akhirul

Di akhir acara, sosok yang akrab disapa Romo Pius itu mengingatkan peserta Pancasila bukan sekadar teks yang tertulis dalam undang-undang, tetapi juga merupakan pedoman hidup yang harus dipahami dan diterapkan dengan sungguh-sungguh oleh setiap warga negara Indonesia.

Harapan ke Depan

“Diskusi ini menjadi ruang refleksi yang penting untuk menggugah kesadaran kolektif akan pentingnya nilai-nilai Pancasila dalam menjaga keberagaman dan memperkuat demokrasi di Indonesia. Ke depan, diharapkan semakin banyak diskusi dan kegiatan serupa yang dapat memperkaya pemahaman masyarakat mengenai Pancasila, serta bagaimana etika politik demokrasi terwakilan dapat memperkokoh negara ini dalam menghadapi segala tantangan,” tukas Romo Pius. (04/iKoneksi.com)

banner 325x300banner 325x300
banner 120x600
  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *