Kab Sidoarjo, iKoneksi.com – Kasus dugaan penipuan berkedok investasi dengan sistem sharing profit kembali mencuat dan memantik keresahan publik. Kali ini, seorang pria berinisial HS, warga Sidoarjo kelahiran Surabaya pada 13 Januari 1987, diduga menipu banyak orang dengan janji keuntungan besar dari sebuah usaha jasa transportasi dengan menggunakan CV Kaji Bisnis Dan Transportasi. Namun, ketika banyak investor mulai mempertanyakan kejelasan modal dan pembagian keuntungan, HS justru menghilang tanpa jejak selama empat bulan terakhir.
Mengusung iming-iming keuntungan tinggi dan proses bisnis yang terlihat meyakinkan, HS berhasil menjerat sejumlah korban yang tak lain sebagian besar merupakan teman dekatnya sendiri. Kini, para korban bersiap membawa kasus ini ke ranah hukum setelah berbagai upaya penyelesaian secara kekeluargaan menemui jalan buntu.
Modus Sharing Profit yang Menggiurkan, Berujung Hilangnya Pelaku
Menurut sejumlah korban, HS menawarkan kerja sama modal usaha dengan sistem pembagian keuntungan yang diklaim stabil dan berkelanjutan. Untuk memperkuat kepercayaan, HS bahkan memberikan beberapa dokumen terkait usaha jasa transportasi miliknya yang berlokasi di Sidoarjo. Dokumen tersebut digunakan sebagai alat untuk memastikan bahwa modal yang disetorkan benar-benar dipergunakan untuk kegiatan bisnis.
Namun seiring waktu, sinyal janggal mulai dirasakan para investor. Pembagian keuntungan mulai tersendat, laporan usaha tidak jelas, dan komunikasi dengan HS semakin sulit. Hingga akhirnya, HS benar-benar menghilang seperti ditelan bumi.
“Sudah empat bulan kabur, dan nomor handphonenya sulit sekali dihubungi. Pernah sekali bertemu orangnya, bahkan sudah membuat perjanjian untuk mengembalikan uang, tapi lagi-lagi meleset,” kata YR, salah satu korban, Kamis.
Kerugian Ditaksir Tembus Miliaran Rupiah
YR mengungkapkan dirinya mengalami kerugian hingga Rp 50 juta. Namun jika digabungkan dengan para korban lainnya, nilai kerugian ditaksir mencapai ratusan juta hingga miliaran rupiah. Para korban mengaku awalnya percaya karena HS dikenal dekat dan memiliki hubungan pertemanan yang cukup panjang.
“Kami ini teman dekatnya sendiri. Tidak mengira bisa seperti ini,” sebut YR.
Beberapa korban juga mencoba mencari informasi tambahan dari istri HS. Namun langkah itu tidak membuahkan hasil.
Istri Pelaku Dinilai Tidak Kooperatif
Istri HS yang diketahui berprofesi sebagai notaris dan dosen di salah satu perguruan tinggi disebut tidak memberikan respon positif ketika para korban mencoba menjelaskan persoalan tersebut. Ia bahkan menyatakan bahwa dirinya sedang dalam proses perceraian dengan HS sehingga tidak ingin terlibat dalam urusan tersebut.
Sikap tertutup ini semakin memperkeruh keadaan, karena sebagian korban berharap setidaknya keluarga pelaku memberikan klarifikasi atau membantu membuka jalan penyelesaian. Namun hingga kini, komunikasi tetap buntu.
Korban Mulai Siapkan Berkas untuk Dilaporkan ke Polisi
Upaya pencarian HS telah dilakukan dengan berbagai cara, mulai dari mendatangi lokasi usaha hingga mencari ke sejumlah alamat lain yang berkaitan dengan pelaku. Meski demikian, semua usaha berakhir nihil.
Kini, para korban sepakat untuk menempuh jalur hukum.
“Kalau memang saudara HS tidak ada itikad baik menyelesaikan masalah ini, kami akan menyiapkan berkas dan bukti-bukti untuk kami laporkan ke kepolisian dalam waktu dekat,” tegas YR.
Ancaman pelaporan ini diperkirakan akan menguat dalam beberapa hari ke depan mengingat semakin banyak korban yang mulai membuka suara dan mengakui mengalami kerugian serupa.
Fenomena Investasi Bodong yang Terus Berulang
Kasus ini kembali mengingatkan masyarakat akan bahaya investasi tanpa legalitas jelas dan pengawasan resmi. Modus sharing profit kerap digunakan oleh pelaku untuk meraih kepercayaan korban dengan menampilkan kesan profesional dan usaha yang dianggap stabil. Sayangnya, banyak dari kasus ini berujung pada penipuan berantai yang memakan korban dari lingkaran terdekat.
Para ahli mengingatkan segala bentuk investasi harus melalui analisis mendalam, pengecekan dokumen resmi, dan memastikan legalitas bisnis sebelum menyerahkan sejumlah uang. Kasus HS menjadi contoh nyata bahwa kedekatan personal tidak selalu menjamin keamanan.
“Dengan ancaman laporan polisi dan semakin banyak korban yang bersuara, kasus ini diperkirakan akan menjadi perhatian aparat penegak hukum dalam waktu dekat. Masyarakat diimbau untuk tetap waspada dan bijak dalam memilih investasi, agar tidak terjerumus dalam modus serupa yang terus muncul dengan berbagai variasi setiap tahunnya,” tutup YR.




















