google.com, pub-7927405703202979, DIRECT, f08c47fec0942fa0

Mahasiswa FK UM Hadirkan Harapan Baru Penanganan Kanker Serviks

  • Bagikan
banner 468x60

Kota Malang, iKoneksi.com — Upaya melawan kanker serviks di Indonesia kembali menemukan secercah harapan melalui riset inovatif yang dilakukan tiga mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Negeri Malang (FK UM). Mereka adalah Farsya Hidayah Septiananda, Taurisma Aulia Nanda Wibisono, dan Rajendra Aulya Gilardino, yang menginisiasi penelitian berjudul “Produksi Antibodi Poliklonal Terhadap KMT2D sebagai Kandidat Targeted Therapy pada Kanker Serviks: Studi Imunogenitas Berbasis Biomolekuler.”

Dibimbing oleh dr. Andreas Budi Wijaya, M. Biomed, Sp. A, riset ini turut didukung secara teknis oleh Alvino Ramadhany Putra, Titus Nanda Pratama, dan Zalfani Madarina Widianti, serta dilaksanakan dalam rentang Juli hingga Oktober 2025. Penelitian ini menjadi salah satu langkah penting dalam upaya pengembangan terapi bertarget sebuah pendekatan yang kini menjadi fokus global dalam perang terhadap kanker.

Kanker Serviks dan Tantangan Terapi Modern

Kanker serviks masih menjadi ancaman serius bagi perempuan Indonesia. Meski program vaksinasi HPV dan skrining dini menunjukkan hasil menggembirakan, penanganan pada kasus stadium lanjut masih menghadapi jalan terjal. Pasien sering kali membutuhkan terapi yang lebih efektif, lebih presisi, dan minim efek samping.

Di sinilah konsep targeted therapy mengambil peran. Berbeda dengan kemoterapi konvensional yang menghantam seluruh sel, terapi bertarget menyerang sel kanker berdasarkan ekspresi gen atau protein spesifik.

Salah satu kandidat target yang tengah menarik perhatian dunia adalah gen KMT2D (Lysine Methyltransferase 2D). Gen ini berperan dalam regulasi ekspresi gen dan diferensiasi sel, dan mutasinya telah dikaitkan dengan berbagai jenis kanker, termasuk kanker serviks. Melihat potensi tersebut, tim FK UM mencoba membuka jalan bagi terapi berbasiskan antibodi yang mampu mengenali protein KMT2D secara spesifik.

Menyusun Antibodi dari Laboratorium Hingga Uji Spesifisitas

Penelitian ini disusun secara sistematis melalui pendekatan biomolekuler. Rangkaian tahapan dimulai dari:

  1. Desain Peptida Imunogenik
    Tim menyusun peptida yang dapat memicu respons imun terhadap protein KMT2D.
  2. Sintesis Antigen & Imunisasi Hewan Model
    Antigen hasil desain kemudian digunakan untuk menginduksi hewan model agar menghasilkan antibodi poliklonal.
  3. Karakterisasi Antibodi
    Tim melakukan analisis imunogenitas dan spesifisitas untuk memastikan bahwa antibodi yang diproduksi mampu mengenali epitop KMT2D secara tepat.
  4. Uji Konfirmasi Laboratorium
    Teknik Immunofluorescence dan Western Blot digunakan untuk mengevaluasi titer serta reaktivitas antibodi.

Hasil awal memperlihatkan bahwa antibodi poliklonal tersebut memiliki kemampuan signifikan dalam mendeteksi protein KMT2D. Ini menjadi indikasi penting bahwa antibodi ini berpotensi dikembangkan lebih lanjut sebagai alat diagnostik maupun basis terapi eksperimental bagi kanker serviks.

Langkah Awal Menuju Terapi Berbasis Biomarker

Menurut peneliti utama, Farsya Hidayah Septiananda, riset ini bukan sekadar penelitian laboratorium, tetapi langkah kecil menuju inovasi besar dalam dunia kedokteran Indonesia.

“Kami ingin menunjukkan bahwa mahasiswa kedokteran tidak hanya belajar klinis, tetapi juga dapat berkontribusi dalam penelitian translasi yang menghubungkan laboratorium dengan praktik medis nyata,” ujarnya.

Dosen pembimbing, dr. Andreas Budi Wijaya, M. Biomed, Sp. A, menegaskan penelitian ini membuka peluang luas bagi Indonesia untuk mengembangkan terapi kanker yang lebih personal dan berorientasi pada profil biomolekuler pasien.

Ia menambahkan bahwa penelitian semacam ini bukan hanya penting untuk dunia medis, tetapi juga menjadi bukti bahwa generasi muda Indonesia memiliki kemampuan bersaing dalam inovasi kesehatan global.

Indonesia Menuju Era Terapi Kanker Presisi

Penelitian antibodi poliklonal terhadap KMT2D ini memang masih berada pada tahap awal, namun menjadi tonggak penting dalam perjalanan panjang menuju terapi presisi bagi pasien kanker serviks. Temuan ini diharapkan Farsya dapat dikembangkan lebih luas melalui penelitian lanjutan, uji efektivitas antibodi, hingga potensi penerapannya sebagai targeted therapy dalam praktik klinis.

“Jiika penelitian ini terus berkembang, bukan tidak mungkin Indonesia kelak mampu memproduksi sendiri terapi kanker yang lebih efektif, lebih aman, dan lebih sesuai dengan profil genetik pasien di dalam negeri. Dengan lahirnya inovasi dari mahasiswa FK UM ini, harapan baru bagi dunia medis Indonesia semakin nyata sebuah langkah berani menuju masa depan pengobatan kanker berbasis sains dan teknologi biomolekuler,” tutup Farsya.

banner 325x300banner 325x300
banner 120x600
  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *