Kota Depok, iKoneksi.com – Kisruh finansial kembali menyelimuti Pengurus Besar Himpunan Mahasiswa Islam (PB HMI) periode 2023–2025. Organisasi mahasiswa tertua dan terbesar di Indonesia itu dilaporkan belum melunasi tunggakan pembayaran tiket pesawat kongres HMI di Pontianak, Kalimantan Barat, November 2023. Nilai tunggakan tersebut tidak main-main: Rp1,2 miliar, angka yang kini menghantam keras usaha seorang pengusaha travel bernama Ria Aulia.
Ria menceritakan awal mula persoalan ini terjadi ketika panitia kongres menghubunginya untuk bekerja sama memberangkatkan peserta dari berbagai daerah. Saat itu, panitia mengaku mengalami pembatalan sepihak dari maskapai yang membuat ratusan peserta telantar di bandara.
“Saya diminta membantu karena mereka kesulitan, dan saya percaya saja, apalagi sebelumnya pernah kerja sama di kongres HMI Surabaya 2021,” tuturnya.
Pembicaraan dengan koordinator kongres dan bendahara PB HMI menghasilkan kesepakatan. Data peserta dikirim, harga dihitung, dan total biaya mencapai Rp2,4 miliar. PB HMI kemudian mentransfer sebagian dana, namun tidak mencukupi. Sisanya diminta untuk ditangguhkan terlebih dahulu.
“Saya talangi pakai uang pribadi, investor, kartu kredit, sampai menjual barang. Totalnya Rp1,2 miliar,” terang Ria.
Masalah membengkak karena tambahan rute, perubahan jumlah peserta di setiap kota, hingga tiket hangus yang tetap diminta dibelikan ulang. Namun setelah kongres selesai, komunikasi PB HMI justru meredup. Ria mengaku hanya diberi janji pelunasan sebelum Idul Fitri 2024 janji yang tak pernah ditepati.
“Mendekati Lebaran, semuanya hilang. Dihubungi tidak merespons. Bahkan saya ditelepon Bagas, jawabannya cuma: tidak bisa bayar, tidak ada uang,” keluhnya.
Upaya diplomasi ditempuh lewat jalur organisasi dan senior-senior HMI yang kini duduk di kementerian dan DPR, tetapi hasilnya nihil. Terakhir, pertemuan pada 1 Agustus 2025 bersama MPK HMI juga tak memberi kejelasan. Ria bahkan merasa disudutkan karena dituduh melakukan pemerasan dan disebut travel-nya ilegal. “Kalau ilegal, bagaimana mungkin ratusan peserta bisa berangkat lewat saya?” tegasnya.
Kini, Ria hanya berharap PB HMI menyelesaikan kewajibannya. Usaha yang ia bangun terancam runtuh, sementara ia harus menanggung beban pinjaman dan karyawan yang perlu digaji.
“Saya hanya minta hak saya, bukan yang lain. Sampai hari ini satu rupiah pun belum saya terima,” ujarnya.
Ketua Umum PB HMI, Bagas Kurniawan, telah dihubungi iKoneksi.com untuk konfirmasi, namun belum memberikan respons. Polemik ini pun semakin menekan citra organisasi yang selama ini dikenal sebagai kawah candradimuka para intelektual muda bangsa.




















