Menu
Koneksi Informasi Pikiran Merdeka

Iran Ancam Tutup Selat Hormuz, Tiga Negara Terancam Lumpuh

  • Bagikan
banner 468x60

Jakarta, iKoneksi.com – Ancaman Iran untuk menutup total Selat Hormuz bukan lagi sekadar retorika. Parlemen Iran telah menyetujui rencana tersebut sebagai respons atas serangan Amerika Serikat terhadap tiga fasilitas nuklir strategis: Fordow, Natanz, dan Isfahan. Kini, keputusan akhir tinggal menunggu restu Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran.

Jika skenario penutupan Selat Hormuz benar-benar terjadi, guncangan besar dipastikan menghantam pasar energi global. Jalur sempit yang hanya selebar 39 kilometer ini merupakan nadi utama distribusi minyak dunia, dengan sekitar 20,5 juta barel minyak mentah per hari melaluinya sepertiga dari total perdagangan minyak global.

Di tengah ketegangan ini, tiga negara diprediksi menjadi korban paling parah: India, China, dan Jepang. Ketiganya sangat bergantung pada pasokan minyak dari kawasan Teluk, yang sepenuhnya harus melewati Selat Hormuz.

India: Subsidi Energi Tak Mampu Bendung Krisis

India, salah satu negara dengan konsumsi minyak terbesar dunia, mengimpor 85 persen dari total kebutuhan energi nasionalnya. Dari jumlah itu, lebih dari 60 persen berasal dari negara-negara Teluk seperti Arab Saudi, Uni Emirat Arab, dan Irak. Penutupan Hormuz akan memutus jalur utama pasokan tersebut.

Dampaknya akan langsung terasa: lonjakan harga minyak domestik, inflasi tajam, dan tekanan berat pada fiskal negara. Kurs rupee juga bisa melemah signifikan karena pembayaran minyak dalam dolar AS. Sektor penerbangan dan manufaktur diperkirakan lumpuh hanya dalam waktu sepekan jika pasokan terganggu.

India juga berada dalam posisi rawan karena cadangan strategisnya terbatas hanya cukup untuk 30 hari konsumsi nasional. Tanpa alternatif cepat, ekonomi India dapat terdorong ke dalam resesi teknis.

China: Raksasa Industri dalam Cengkeraman Ketergantungan

China, dengan konsumsi lebih dari 14 juta barel per hari, juga sangat bergantung pada pasokan dari Teluk. Sekitar 42 persen dari total impor minyaknya melewati Selat Hormuz. Jika Iran menutup selat ini, krisis energi multi-lapis akan menyapu Tiongkok.

Dampaknya mencakup krisis minyak dan LNG untuk pembangkit listrik dan transportasi, lonjakan harga energi yang memperlambat pemulihan pasca-COVID-19, serta ancaman terhadap rantai pasok global yang dikendalikan oleh sektor manufaktur China.

Kendati memiliki cadangan energi strategis, gangguan lebih dari dua minggu akan memaksa Beijing mengambil langkah ekstrem seperti pembatasan industri padat energi dan diplomasi agresif terhadap negara-negara penghasil minyak.

Jepang: Negara Tanpa Energi, Sangat Rentan

Jepang, hampir sepenuhnya bergantung pada impor energi, juga menjadi negara yang sangat rentan. Lebih dari 90 persen minyak dan LNG yang digunakan Jepang berasal dari Timur Tengah dan melewati Selat Hormuz.

Jika jalur itu tertutup, Jepang berisiko mengalami pemadaman listrik nasional, disrupsi industri otomotif dan elektronik, serta lonjakan harga BBM yang bisa memicu protes sosial di kalangan buruh dan masyarakat kelas bawah.

Perusahaan besar seperti Toyota, Sony, dan Mitsubishi juga akan terganggu operasionalnya karena terganggunya logistik dan suplai energi. Meski memiliki hubungan dagang kuat dengan negara Teluk, Jepang tetap bergantung pada Selat Hormuz secara fisik.

Negara Lain Ikut Terdampak

Amerika Serikat, meskipun kini menjadi net-exporter energi sejak 2019, tetap akan merasakan imbasnya melalui kenaikan harga BBM domestik dan inflasi. Namun, dengan cadangan strategis lebih dari 370 juta barel, AS memiliki ruang manuver yang lebih baik.

Negara-negara Arab Teluk seperti Arab Saudi, UEA, Kuwait, dan Qatar juga akan terdampak parah. 80–90 persen ekspor minyak mereka melewati Selat Hormuz. Pendapatan negara bisa anjlok drastis jika ekspor terhenti, mengancam stabilitas ekonomi dan politik dalam negeri.

Meski ada jalur alternatif seperti pipa Petroline milik Saudi dan pipa Habshan Fujairah milik UEA, kapasitasnya masih belum mampu menggantikan volume ekspor normal.

Dengan situasi geopolitik yang memanas, dunia kini menanti langkah Iran selanjutnya. Apakah Selat Hormuz akan benar-benar ditutup, atau masih ada ruang diplomasi untuk menghindari krisis energi global? Yang jelas, detak jantung pasar minyak dunia saat ini berdenyut di tengah ketidakpastian. (04/iKoneksi.com)

banner 325x300 banner 325x300
banner 120x600
  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *