Menu
Koneksi Informasi Pikiran Merdeka

Proyek Prestisius Mojokerto Terlilit Masalah dan Polemik

  • Bagikan
banner 468x60

Kota Mojokerto, iKoneksi.com – Sejumlah proyek andalan Pemerintah Kota (Pemkot) Mojokerto yang semula digadang-gadang sebagai kebanggaan daerah kini justru tersandung berbagai persoalan. Dua proyek besar, yakni Taman Bahari Mojopahit (TBM) dan Galeri Soekarno Kecil, kini menjadi sorotan publik akibat masalah hukum, keraguan narasi sejarah, hingga indikasi pemborosan anggaran.

Taman Bahari Mojopahit, yang dibangun di kawasan Jembatan Rejoto, Kecamatan Prajurit Kulon, dengan anggaran mencapai Rp 27,7 miliar, kini tak ubahnya proyek terbengkalai. Alih-alih menjadi destinasi wisata unggulan, kawasan tersebut justru mengalami kerusakan di berbagai sisi. Paving Jalan Ir Soekarno yang mengelilinginya bahkan harus berkali-kali dibongkar pasang karena mengalami kerenggangan dan penurunan kualitas struktur.

Parahnya lagi, lokasi TBM ternyata juga rawan tergenang banjir. Kondisi ini semakin menambah daftar persoalan infrastruktur yang seharusnya dirancang matang untuk mendukung kawasan wisata berbasis air tersebut.

Tak hanya soal teknis, proyek ini pun terseret kasus dugaan korupsi. Salah satu item pembangunan yang mencurigakan adalah kapal pujasera yang kini sedang dalam penyidikan aparat penegak hukum. Rif’an Hanum, Pembina Lembaga Pemantau Pembangunan dan Kinerja Pemerintah (LP2KP) Mojokerto, secara terbuka meminta kejaksaan untuk memperluas penyidikan ke seluruh pengerjaan di TBM.

“Kasus kapal pujasera ini bisa jadi pintu masuk membongkar semua kejanggalan proyek TBM,” ujarnya tegas.

Kebingungan atas kelanjutan proyek TBM turut menuai reaksi dari DPRD Kota Mojokerto. Anggota Komisi II, Wahju Nur Hidayat, mendorong pemerintah daerah segera memfungsikan kawasan tersebut agar anggaran yang telah digelontorkan tidak sia-sia.

“Sudah jelas menggunakan dana daerah, maka harus ada pemanfaatan konkret. Jangan dibiarkan mangkrak,” tegas Wahju.

Sementara itu, Galeri Soekarno Kecil yang baru saja diresmikan oleh Menteri Kebudayaan Fadli Zon pada 10 Juni lalu juga tak lepas dari kritik. Narasi sejarah yang ditampilkan pada tugu jejak masa kecil Bung Karno di SDN Purwotengah dianggap tidak akurat. Tertulis bahwa Soekarno bersekolah di Mojokerto sejak 1907 dan bersekolah di Sekolah Ongko Loro. Namun, menurut para sejarawan, termasuk Binhad Nurrohmat, informasi ini bertentangan dengan fakta sejarah.

Bung Karno kecil, kata Binhad, baru pindah ke Mojokerto pada 1909 dan mengenyam pendidikan di Sekolah Ongko Siji, sebagaimana tertuang dalam besluit mutasi ayahnya, Raden Soekeni.

“Kesalahan ini dinilai dapat berdampak fatal, terutama terhadap status cagar budaya yang disematkan pada SDN Purwotengah. Tjahjana Indra Kusuma, seorang aksesor museum, menyatakan SK penetapan cagar budaya itu bisa cacat hukum bila dasar historisnya tidak akurat,” tegasnya.

Menanggapi kritik tersebut, Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Mojokerto, Ruby Hartoyo, menyampaikan pihaknya membuka diri terhadap masukan masyarakat. Pemkot berencana menggelar forum bersama untuk meninjau ulang narasi sejarah Galeri Soekarno.

“Kami akan libatkan elemen masyarakat dan pemerhati sejarah untuk memastikan data yang digunakan benar dan dapat dipertanggungjawabkan,” tekan Ruby.

Dua proyek ini seharusnya menjadi simbol kebanggaan Kota Mojokerto. Namun bila tidak disikapi serius dan transparan, dikhawatirkan justru akan menjadi beban sejarah baru bagi kota ini. (04/iKoneksi.com)

banner 325x300 banner 325x300
banner 120x600
  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *