Menu
Koneksi Informasi Pikiran Merdeka

Dinkes Malang Selidiki Dugaan Keracunan MBG di MTs Al Khalifah

  • Bagikan
banner 468x60

Kab Malang, iKoneksi.com — Pemerintah Kabupaten Malang bergerak cepat menyusul insiden dugaan keracunan makanan yang menimpa belasan siswa dan guru MTs Al Khalifah di Desa Cepokomulyo, Kecamatan Kepanjen, pada Kamis (23/10/2025). Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Malang langsung menindaklanjuti kasus ini dengan melakukan uji laboratorium terhadap sampel makanan dan alat makan yang digunakan dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG).

Langkah cepat ini diambil untuk memastikan penyebab pasti munculnya gejala mual dan muntah yang dialami para siswa. Kepala Dinkes Kabupaten Malang, Wiyanto Wijoyo, menegaskan bahwa pihaknya tidak ingin berspekulasi sebelum hasil laboratorium keluar.

“Sampel sisa makanan sedang kami periksa di laboratorium. Pemeriksaan ini penting untuk memastikan penyebab munculnya gejala yang dialami para siswa dan guru,” tutur Wiyanto.

Langkah Cepat: Uji Lab dan Pemeriksaan Dapur Pengolah Makanan

Menurut Wiyanto, sampel makanan yang diuji berasal dari dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Kepanjen, tempat pengolahan menu MBG yang dikonsumsi oleh para siswa MTs Al Khalifah. Pemeriksaan meliputi makanan sisa, alat makan, hingga kebersihan dapur dan penyimpanan bahan baku.

“Secepatnya hasil akan keluar, tapi pemeriksaan lab tentu butuh waktu. Kami juga memeriksa dapur pengolahan MBG, termasuk kebersihan alat masak dan tempat penyimpanan bahan makanan,” kata Wiyanto.

Ia menekankan, timnya turun langsung ke lapangan untuk memastikan tidak ada kelalaian dalam proses pengolahan makanan yang seharusnya memenuhi standar keamanan pangan.

“Sudah dilakukan pengecekan ke dapurnya. Semua aspek kami periksa, mulai dari bahan baku, alat makan, hingga cara pengolahan makanan. Kami ingin memastikan keamanan pangan di setiap tahap,” tegasnya.

Kondisi Korban Berangsur Membaik

Sementara penyelidikan berjalan, kondisi 18 korban yang terdiri dari 16 siswa dan 2 guru dilaporkan sudah berangsur membaik. Mereka sebelumnya dilarikan ke RSUD Kanjuruhan Kepanjen setelah mengalami mual, muntah, dan lemas tak lama usai menyantap menu MBG.

“Kondisinya baik. Pasien kami monitor selama tiga sampai enam jam. Bila sudah membaik, langsung diperbolehkan pulang,” terang Wiyanto.

Pihak Dinkes juga terus memantau kondisi siswa yang tidak sempat dibawa ke rumah sakit, guna memastikan tidak ada gejala lanjutan yang muncul setelah kejadian.

Menunggu Hasil Uji Lab: Transparansi Jadi Kunci

Wiyanto menegaskan tidak akan terburu-buru menyimpulkan penyebab kejadian sebelum hasil laboratorium keluar. Menurut Wiyanto, hasil uji lab akan menjadi dasar penting dalam menentukan apakah benar makanan dari program MBG menjadi penyebab utama.

“Begitu hasil uji keluar, kami akan laporkan secara terbuka. Prinsipnya, keselamatan dan kesehatan masyarakat adalah prioritas,” lugas Wiyanto.

Hasil tersebut nantinya juga akan menjadi bahan evaluasi menyeluruh bagi pihak SPPG dan pengelola program MBG di Kabupaten Malang.

Catatan untuk Evaluasi Program Makan Bergizi Gratis

Insiden di MTs Al Khalifah ini menambah daftar panjang dugaan keracunan yang terjadi dalam pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG) di berbagai daerah Jawa Timur. Sebelumnya, kejadian serupa juga dilaporkan terjadi di Magetan dan Tulungagung, yang membuat pemerintah daerah setempat melakukan evaluasi ketat terhadap pelaksana program.

“Program MBG sendiri bertujuan mulia memastikan anak sekolah mendapatkan asupan gizi seimbang agar tumbuh sehat dan cerdas. Namun, kasus-kasus seperti ini menunjukkan bahwa pengawasan di lapangan masih lemah, terutama dalam hal kebersihan dapur, pengolahan makanan, dan distribusi hidangan ke sekolah-sekolah penerima,” papar Wiyanto.

Dinas Kesehatan Kabupaten Malang berkomitmen untuk memperketat pengawasan dan memberikan pembinaan ulang kepada seluruh SPPG di wilayahnya.

“Kami tidak ingin kejadian seperti ini terulang. Semua pihak harus memastikan standar keamanan pangan benar-benar dijalankan,” tekan Wiyanto.

Masyarakat Harap Ada Tanggung Jawab dan Kepastian

Sementara itu, para orang tua siswa berharap pemerintah segera memberikan kejelasan agar tidak muncul keresahan di masyarakat. Mereka menilai penting bagi pemerintah daerah untuk bertindak transparan dan tegas terhadap pihak-pihak yang lalai.

“Programnya bagus, tapi jangan sampai justru membahayakan anak-anak,” ujar salah satu wali murid yang anaknya turut menjadi korban.

“Kejadian di MTs Al Khalifah menjadi alarm bagi semua pihak bahwa keamanan pangan tidak boleh diabaikan, terutama dalam program berskala besar yang menyentuh langsung kehidupan masyarakat kecil,” pungkasnya.

banner 325x300 banner 325x300
banner 120x600
  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *