Menu
Koneksi Informasi Pikiran Merdeka

Okupansi Hotel Jomplang Saat Lebaran, Kota Malang Melonjak Kota Batu Stagnan

  • Bagikan
banner 468x60

Malang Raya, iKoneksi.com — Momentum Lebaran 2026 membawa dampak berbeda bagi sektor perhotelan di Malang Raya. Kota Malang mencatat lonjakan okupansi yang signifikan, sementara Kota Batu justru mengalami stagnasi tanpa peningkatan berarti. Di Kota Malang, tingkat hunian kamar rata-rata mencapai sekitar 70 persen pada hari H Lebaran. Bahkan, sejumlah hotel dilaporkan penuh hingga 100 persen, menandakan tingginya minat wisatawan dan pemudik.

Sebaliknya, kondisi berbeda terjadi di Kota Batu. Tingkat okupansi hotel di daerah wisata tersebut cenderung stagnan dan tidak menunjukkan lonjakan seperti yang terjadi di Kota Malang.

Wisatawan dan Pemudik Dongkrak Hunian Hotel

Lonjakan okupansi di Kota Malang dipicu meningkatnya arus wisatawan yang memanfaatkan libur Idulfitri untuk berkunjung sekaligus berlibur. Kawasan pusat kota menjadi titik dengan peningkatan paling signifikan, terutama di sekitar Masjid Agung Jami’ Kota Malang. Lokasi strategis yang dekat dengan pusat ibadah dan destinasi wisata menjadi daya tarik utama.

Salah satu hotel di kawasan tersebut mencatat tingkat hunian mencapai 80 persen. Sementara beberapa hotel besar bahkan melaporkan okupansi penuh selama puncak Lebaran.

Dari Ramadan Turun, Lebaran Langsung Melonjak

Ketua PHRI Kota Malang, Agoes Basoeki, mengungkapkan peningkatan ini terjadi setelah sektor perhotelan sempat mengalami penurunan tajam selama bulan Ramadan.

“Saat Ramadan okupansi turun hingga 30 persen. Saat Lebaran rata-rata naik ke 70 persen, bahkan ada yang penuh,” tutur Agoes.

Namun, ia memperkirakan tren tersebut tidak akan bertahan lama. Setelah puncak Lebaran, okupansi diprediksi kembali normal seperti hari biasa.

Kreativitas Hotel Jadi Penentu

Agoes menekankan pentingnya kreativitas pengelola hotel dalam memanfaatkan momentum. Menurutnya, hotel tidak bisa hanya bergantung pada kegiatan rapat pemerintah. Berbagai strategi mulai diterapkan, seperti paket iftar saat Ramadan, hingga paket halal bihalal dan pernikahan pasca-Lebaran.

“Teman-teman hotel harus kreatif. Jangan hanya mengandalkan event pemerintah, tapi juga menarik segmen lain,” tegasnya.

Ia menargetkan, dengan strategi yang tepat, okupansi bulanan dapat dijaga di kisaran 60 hingga 70 persen.

Nostalgia dan Reuni Jadi Peluang

Fenomena mudik juga membuka peluang baru bagi industri perhotelan di Kota Malang. Banyak perantau yang pulang kampung memanfaatkan momen Lebaran untuk berkumpul dan bernostalgia bersama teman lama. Kegiatan seperti reuni dan halal bihalal dinilai menjadi pasar potensial yang bisa digarap hotel.

“Banyak orang Malang pulang untuk reuni. Ini peluang yang harus ditangkap. Kalau tidak, mereka bisa memilih tempat lain,” sebut Agoes.

Kota Batu Masih Jalan di Tempat

Sementara itu, Ketua PHRI Kota Batu, Sujud Hariadi, mengakui kondisi perhotelan di wilayahnya tidak mengalami perubahan signifikan. Menurutnya, tingkat okupansi hotel di Kota Batu pada Lebaran tahun ini relatif sama dengan tahun sebelumnya.

“Secara keseluruhan stagnan, tidak ada perubahan berarti,” ujarnya.

“Kondisi ini menjadi catatan penting bagi pelaku industri pariwisata di Kota Batu untuk mengevaluasi strategi dalam menarik wisatawan,” lanjutnya.

Perlu Strategi Baru Hadapi Persaingan

Sujud membeberkan perbedaan mencolok antara Kota Malang dan Batu menunjukkan bahwa daya tarik dan strategi pemasaran menjadi faktor kunci dalam mendongkrak okupansi hotel. Kota Malang dinilai berhasil memanfaatkan momentum Lebaran dengan lebih optimal, sementara Kota Batu perlu mencari pendekatan baru agar tidak tertinggal.

“Dengan persaingan yang semakin ketat, pelaku industri diharapkan mampu beradaptasi dan menghadirkan inovasi agar tetap relevan di tengah perubahan tren wisata,” pungkas Sujud.

banner 325x300 banner 325x300
banner 120x600
  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *