Menu
Koneksi Informasi Pikiran Merdeka

Tim PKM RSH UM Kembangkan Psikoedukasi Berbasis REBT dan Budaya Jawa untuk Cegah Ide Bunuh Diri Remaja

  • Bagikan
banner 468x60

Kota Malang, IKoneksi.com — Tekanan yang dialami remaja tidak selalu terlihat dari luar. Di balik keseharian yang tampak normal, sebagian remaja menghadapi persoalan psikologis yang tidak mudah disampaikan kepada orang lain.

Survei Indonesia-National Adolescent Mental Health Survey (I-NAMHS) mencatat 34,9 persen atau sekitar 15,5 juta remaja Indonesia mengalami masalah kesehatan mental dalam satu tahun terakhir. Namun, hanya 2,6 persen yang mengakses layanan kesehatan mental atau konseling.

Persoalan tersebut menjadi perhatian mahasiswa Universitas Negeri Malang (UM) melalui Program Kreativitas Mahasiswa-Riset Sosial Humaniora (PKM-RSH). Mereka mengembangkan model psikoedukasi sebagai pendekatan preventif untuk membantu remaja mengenali persoalan psikologis dan membangun kemampuan menghadapi tekanan sejak dini.

Tim tersebut diketuai Fathan Aflahu Akmal dari S1 Bimbingan dan Konseling, dengan anggota Fatimah Mahdiyah, Nadin Nurma Pitaloka, Syakira Nabila Azzahra dari S1 Bimbingan dan Konseling serta Nadia Salsabila dari S1 Psikologi. Penelitian ini didampingi dosen Nur Mega Aris Saputra, S.Pd., M.Pd.

Fathan membeberkan model yang dikembangkan dituangkan dalam modul psikoedukasi yang dirancang untuk digunakan di lingkungan sekolah. Modul tersebut diharapkan dapat menjadi media pendukung bagi guru Bimbingan dan Konseling (BK) dalam memberikan edukasi kesehatan mental kepada siswa secara terstruktur.

“Pendekatan yang digunakan tidak hanya mengandalkan konsep psikologi. Tim mengintegrasikan Rational Emotive Behavior Therapy (REBT) dengan nilai budaya Jawa Mulat Sarira Hangrasa Wani. REBT digunakan untuk membantu remaja memahami hubungan antara pola pikir, emosi, dan perilaku ketika menghadapi persoalan. Sementara Mulat Sarira Hangrasa Wani menekankan keberanian untuk melihat, memahami, dan mengevaluasi diri sebelum menentukan sikap,” ucap Fathan.

Integrasi kedua pendekatan tersebut diarahkan agar remaja mampu mengenali pola pikir yang kurang adaptif, memahami kondisi emosional, serta mengembangkan respons yang lebih sehat ketika menghadapi tekanan.

“Nilai Mulat Sarira Hangrasa Wani juga mengajarkan bahwa keberanian tidak selalu berarti menghadapi persoalan seorang diri. Remaja perlu memiliki keberanian untuk mengakui keterbatasan, menerima kondisi diri, melakukan perbaikan, dan mencari dukungan ketika menghadapi persoalan yang tidak mampu diselesaikan sendiri,” sebut dia.

Ia menegaskan pendekatan preventif tersebut dinilai penting karena persoalan kesehatan mental remaja dapat berkaitan dengan berbagai tekanan, mulai dari akademik, keluarga, hubungan sosial hingga proses perkembangan diri. Data World Health Organization (WHO) yang dikutip dalam kajian tersebut juga menunjukkan adanya peningkatan persentase pelajar Indonesia berusia 13–17 tahun yang serius mempertimbangkan bunuh diri, dari 5,4 persen pada 2015 menjadi 8,5 persen pada 2023.

“Karena itu, pencegahan tidak cukup dilakukan ketika remaja telah berada dalam kondisi krisis. Kemampuan mengenali masalah, mengelola respons terhadap tekanan, serta mengetahui kapan dan kepada siapa harus meminta bantuan perlu dibangun sejak dini. Melalui modul tersebut, guru BK diharapkan memiliki perangkat pendukung untuk memberikan psikoedukasi mengenai pola pikir sehat, pengelolaan diri, pengambilan respons terhadap masalah, dan pentingnya mencari bantuan,” ungkap dia.

Bagi siswa, materi tersebut diarahkan untuk membangun pemahaman bahwa menghadapi masalah bukan berarti harus memendam semuanya seorang diri. Tim PKM-RSH UM menilai perpaduan pendekatan psikologis dengan nilai budaya dapat menjadi alternatif dalam membangun edukasi kesehatan mental yang lebih dekat dengan kehidupan remaja.

“Pada akhirnya, upaya pencegahan ide bunuh diri membutuhkan keterlibatan berbagai pihak. Sekolah, guru, keluarga, teman sebaya, dan lingkungan sosial memiliki peran dalam menciptakan ruang yang memungkinkan remaja berbicara, didengar, dan mendapatkan bantuan ketika menghadapi persoalan. Melalui pendekatan REBT dan Mulat Sarira Hangrasa Wani, mahasiswa UM berupaya membawa pesan bahwa mengenali diri, memahami pikiran dan emosi, serta berani mencari pertolongan merupakan bagian penting dari menjaga kesehatan mental remaja,” pungkas dia.

banner 325x300 banner 325x300
banner 120x600
  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *