Menu
Koneksi Informasi Pikiran Merdeka

Tim PKM RSH WIRASA UM Kaji Filosofi Jawa Mulat Sarira Hangrasa Wani, Bisa Jadi Bekal Kesehatan Mental Remaja

  • Bagikan
banner 468x60

Kota Malang, iKoneksi.com – Indonesia memiliki kekayaan budaya yang tidak hanya berupa tradisi, kesenian, bahasa, dan adat istiadat. Di balik warisan tersebut terdapat nilai kehidupan yang mengajarkan manusia memahami diri, mengendalikan perilaku, membangun hubungan dengan orang lain, hingga berani bertanggung jawab atas pilihan yang dibuat.

Salah satu nilai yang kembali ditelusuri Tim WIRASA Universitas Negeri Malang (UM) adalah Mulat Sarira Hangrasa Wani. Filosofi Jawa tersebut dikaji untuk melihat bagaimana nilai budaya yang diwariskan lintas generasi masih relevan dengan persoalan kehidupan remaja saat ini, termasuk dalam menghadapi tekanan dan menjaga kesehatan mental.

Tim WIRASA merupakan bagian dari Program Kreativitas Mahasiswa-Riset Sosial Humaniora (PKM-RSH). Tim tersebut diketuai Fathan Aflahu Akmal dari S1 Bimbingan dan Konseling, dengan anggota Fatimah Mahdiyah, Nadin Nurma Pitaloka, Syakira Nabila Azzahra, dan Nadia Salsabila. Penelitian ini didampingi Nur Mega Aris Saputra, S.Pd., M.Pd.

Dalam penelusurannya, Fathan mengatakan tim tidak hanya mengandalkan literatur. Mereka juga menggali pemahaman melalui wawancara dengan sejumlah narasumber yang memiliki pengetahuan mengenai budaya dan filsafat Jawa. Perspektif yang dihimpun mencakup sejarah, makna, perkembangan, hingga relevansi Mulat Sarira Hangrasa Wani dalam kehidupan masyarakat modern.

“Nilai tersebut berkaitan dengan perjalanan budaya Jawa dan dikaitkan dengan Pangeran Sambernyawa atau Mangkunegara I dalam sejarah berdirinya Praja Mangkunegaran. Mulat Sarira Hangrasa Wani menjadi bagian dari Tri Dharma Mangkunegaran bersama Rumangsa Melu Handarbeni dan Wajib Melu Hangrungkebi,” ucap Fathan.

Ia menegaskan inti ajarannya mengarah pada keberanian untuk mawas diri. Seseorang tidak hanya dituntut mampu melihat kesalahan orang lain, tetapi terlebih dahulu berani melihat dirinya sendiri.

“Dalam buku Mulat Sarira Otokritik Manusia karya Dr. Slamet Hendro Kusumo, konsep tersebut ditempatkan sebagai ajaran untuk melihat dan mengevaluasi diri. Salah satu ulasan mengenai buku itu menjelaskan bahwa “otokritik sejatinya adalah jiwa manusia yang sedang melihat dirinya sendiri,” tutur dia.

Gagasan tersebut membuat Mulat Sarira tidak berhenti sebagai istilah budaya. Nilainya dapat dipahami sebagai proses refleksi untuk mengenali pikiran, perasaan, tindakan, kelebihan, kekurangan, serta kesalahan diri sebelum seseorang menentukan sikap.

“Sementara itu, Hangrasa Wani menekankan keberanian menghadapi hasil refleksi tersebut. Keberanian yang dimaksud bukan tindakan spontan atau nekat, melainkan keberanian untuk mengakui kekurangan, menerima keadaan, menghadapi konsekuensi, dan mengambil langkah perbaikan,” jelas Fathan.

Dengan demikian, Mulat Sarira dan Hangrasa Wani membentuk satu rangkaian. Mulat Sarira mengajak seseorang melihat ke dalam diri, sedangkan Hangrasa Wani mendorong keberanian untuk menghadapi apa yang ditemukan dari proses tersebut.

“Bagi remaja, nilai itu dapat diterapkan ketika menghadapi kegagalan, tekanan akademik, konflik pertemanan, maupun persoalan dalam keluarga. Ketika melakukan kesalahan, misalnya, remaja tidak langsung larut dalam rasa bersalah atau menyalahkan orang lain,” beber dia.

Ia mengungkapkan mereka dapat terlebih dahulu melihat apa yang terjadi, memahami emosi yang muncul, mengenali bagian yang perlu diperbaiki, kemudian berani mengambil tindakan untuk memperbaiki keadaan. Begitu pula ketika menghadapi pilihan sulit. Alih-alih mengambil keputusan berdasarkan emosi sesaat, remaja dapat belajar berhenti sejenak, memahami kondisi dirinya, mempertimbangkan konsekuensi, kemudian menentukan langkah dengan lebih matang.

“Nilai tersebut juga mengajarkan bahwa mengakui kelemahan bukan berarti seseorang gagal. Justru, kesadaran terhadap keterbatasan dapat menjadi titik awal untuk melakukan perbaikan dan mencari bantuan ketika persoalan sudah tidak mampu dihadapi seorang diri. Karena itu, Mulat Sarira Hangrasa Wani memiliki kaitan dengan kemampuan mengenali dan mengelola emosi, mengendalikan diri, menerima kekurangan, terbuka terhadap masukan, mengambil keputusan, serta membangun hubungan yang lebih sehat dengan orang lain,” urai diam

Bagi Tim WIRASA, penelusuran ini menjadi upaya untuk membawa kembali nilai budaya ke dalam konteks kehidupan generasi muda. Warisan budaya tidak hanya dipelajari sebagai cerita masa lalu, tetapi juga dapat dimaknai kembali ketika memiliki hubungan dengan persoalan yang dihadapi masyarakat saat ini. Pada akhirnya, Mulat Sarira Hangrasa Wani menawarkan pesan sederhana: sebelum sibuk menilai dunia di luar diri, seseorang perlu berani melihat dirinya sendiri.

“Bagi remaja, kemampuan untuk mengenali diri, menerima apa yang ditemukan, dan berani memperbaiki diri dapat menjadi bekal penting menghadapi tekanan kehidupan. Dari proses mawas diri itulah, keberanian untuk tumbuh dan menjadi lebih baik dapat dimulai,”pungkas dia.

banner 325x300 banner 325x300
banner 120x600
  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *