google.com, pub-7927405703202979, DIRECT, f08c47fec0942fa0

AI Mengubah Wajah Linguistik dan Sastra: Menata Ulang Studi Bahasa dan Sastra di Era Kecerdasan Buatan

  • Bagikan
Pemateri sedang memaparkan materi, Rabu (10/06/2026) (Robi-iKoneksi.com)
banner 468x60

Kota Malang, iKoneksi.com – Fakultas Humaniora UIN Maulana Malik Ibrahim Malang bekerja sama dengan International Islamic University Malaysia (IIUM) menggelar International Academic Sharing for Quality Research Enhancement (IASQRE) 2026 pada Rabu (10/6/2026). Kegiatan yang berlangsung di Meeting Room Fakultas Humaniora ini mengangkat tema “Reimagining Linguistics and Literary Studies in the Age of Artificial Intelligence”, yang menyoroti transformasi kajian bahasa dan sastra di tengah perkembangan kecerdasan buatan (AI).

Acara ini menghadirkan Direktur Omani Research and Studies Centre IIUM, Prof. Dr. Rahmah Binti Ahmad H. Osman, serta Dekan Fakultas Humaniora UIN Malang, Prof. Dr. M. Faisol Fatawi. Diskusi berfokus pada bagaimana AI tidak lagi sekadar menjadi alat teknologi, melainkan telah mengubah cara manusia meneliti, mempelajari, dan memahami bahasa maupun karya sastra.

Dalam pemaparannya, para narasumber menyoroti bahwa perkembangan Artificial Intelligence telah membuka peluang baru bagi penelitian linguistik maupun sastra. Berbagai teknologi berbasis Natural Language Processing (NLP) kini memungkinkan peneliti menganalisis jutaan data bahasa dalam waktu yang jauh lebih singkat dibandingkan metode konvensional. AI juga mampu membantu proses identifikasi pola bahasa, analisis korpus digital, hingga penerjemahan lintas bahasa dengan tingkat efisiensi yang semakin tinggi.

“Kita tidak bisa lagi memandang AI sebagai ancaman, melainkan sebagai mitra analitis. Tantangan utamanya adalah bagaimana mengintegrasikan pemodelan AI ke dalam metodologi riset tanpa kehilangan ketajaman rasa bahasa dan kedalaman interpretasi manusiawi yang menjadi ruh dari studi humaniora itu sendiri,” ujar Direktur Omani Research and Studies Centre IIUM, Prof. Dr. Rahmah Binti Ahmad H. Osman.

Rahmah menuturkan perubahan tersebut turut memengaruhi dunia pendidikan bahasa. Jika sebelumnya pembelajaran linguistik berpusat pada teori dan analisis manual, kini mahasiswa dituntut memahami pemanfaatan teknologi digital dalam pengolahan data kebahasaan.

“Perguruan tinggi mulai mengintegrasikan penggunaan AI sebagai sarana penelitian dan pembelajaran agar lulusan memiliki kompetensi yang relevan dengan perkembangan zaman,” jelas Rahmah.

Rahmah menegaskan upaya integrasi teknologi dalam kurikulum ini juga sejalan dengan langkah Fakultas Humaniora UIN Malang yang tengah memperbarui kurikulum agar lebih adaptif terhadap perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.

“Selain linguistik, perkembangan AI juga menghadirkan perdebatan baru dalam studi sastra. Kemampuan AI menghasilkan puisi, cerpen, hingga novel memunculkan pertanyaan mengenai hakikat kreativitas dan kepengarangan,” bebernya.

Para akademisi menilai bahwa teknologi tersebut dapat menjadi alat bantu yang memperluas kemungkinan penciptaan karya, namun tidak serta-merta menggantikan pengalaman manusia sebagai sumber utama imajinasi, emosi, dan refleksi sosial yang selama ini menjadi fondasi kesusastraan.

“Acara yang berlangsung dari pukul 08.00 hingga 10.00 WIB ini dihadiri oleh puluhan dosen, dan mahasiswa yang mengambil profesi tarjamah. Seminar IASQRE 2026 ini berhasil menegaskan posisi Fakultas Humaniora UIN Malang dan IIUM dalam memelopori arah baru studi humaniora digital yang tangguh, etis, dan relevan dengan tuntutan zaman,” tukas Rahmah.

banner 325x300banner 325x300
banner 120x600
  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *