google.com, pub-7927405703202979, DIRECT, f08c47fec0942fa0

UMM Kupas Integritas Demokrasi hingga Fenomena Budaya K-Pop

  • Bagikan
banner 468x60

Kab Malang, iKoneksi.com – Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kembali menunjukkan kiprahnya sebagai kampus yang aktif melahirkan gagasan dan refleksi akademik melalui kegiatan Seminar dan Kolokium Doctoral Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) yang digelar pada 29 September 2025 lalu. Acara ini menghadirkan deretan pemikir dan peneliti sosial yang membedah tema-tema penting seputar demokrasi, keluarga, dan budaya populer dari sudut pandang ilmiah dan humanis.

Tiga pembicara utama tampil dalam forum ilmiah bergengsi tersebut. Di antaranya, Prof. Dr. Phil. Sukri, M.Si., Guru Besar Ilmu Studi Demokrasi sekaligus Dekan FISIP Universitas Hasanuddin; Dr. Winda Hardyanti, M.Si., dosen Ilmu Komunikasi UMM; serta Dr. Nurudin, M.Si., pakar media dan komunikasi UMM. Ketiganya menghadirkan sudut pandang tajam dan segar mengenai nilai kemanusiaan, empati, serta perubahan identitas sosial di era digital.

Demokrasi dan Nilai Kebaikan yang Mulai Luntur

Dalam pemaparannya, Sukri mengingatkan demokrasi sejatinya bukan sekadar sistem politik, tetapi cerminan dari moralitas publik. Ia menegaskan bahwa prinsip utama demokrasi berangkat dari kedaulatan rakyat, yang berarti kekuasaan tertinggi berada di tangan rakyat. Prinsip ini dirangkum dalam ungkapan Latin vox populi vox dei suara rakyat adalah suara Tuhan.

“Demokrasi lahir dari ekspresi rakyat dan harus sesuai dengan kehendak rakyat,” kata Sukri.

Ia kemudian menyinggung pandangan klasik para filsuf seperti John Locke yang menekankan pentingnya kebebasan individu, dan Jean-Jacques Rousseau yang mengedepankan kehendak umum (general will). Dari sanalah demokrasi dipahami sebagai sistem yang tidak hanya menjamin kebebasan, tetapi juga kebaikan bersama.

Namun, Sukri menyoroti tantangan besar demokrasi masa kini: krisis integritas dan hilangnya kebijaksanaan moral. Ia mengutip filsuf Thomas Hobbes, yang menggambarkan manusia sebagai homo homini lupus manusia adalah serigala bagi manusia lain. Artinya, tanpa etika dan batas moral, kebebasan bisa berubah menjadi ancaman.

“Berhati-hatilah dalam berdemokrasi, karena demokrasi membutuhkan kebijaksanaan. Sebagus apa pun sistem yang kita bangun, jika berada di tangan yang salah, maka hasilnya tidak akan sesuai harapan,” tegasnya, mengaitkan pesan itu dengan kisah dalam film Oppenheimer, di mana penemuan besar justru berujung pada kehancuran.

Adopsi Anak: Antara Kecemasan dan Harapan

Sesi kedua diisi oleh Dr. Winda Hardyanti, yang mengangkat topik penuh kehangatan bertajuk “Adopsi Anak: Antara Kecemasan dan Harapan.” Ia menyoroti sisi emosional dan sosial dari proses adopsi yang sering kali dipandang hanya dari aspek hukum.

Menurut Winda, keputusan untuk mengadopsi anak merupakan perjalanan panjang yang melibatkan konflik batin, harapan, dan cinta. Banyak pasangan mengambil langkah ini bukan sekadar karena kebutuhan biologis, tetapi karena keinginan membangun keluarga yang utuh.

“Proses adopsi anak tidak hanya soal legalitas, tetapi juga perjalanan emosional yang membutuhkan empati dan komunikasi mendalam,” ungkapnya.

Ia menegaskan, setelah anak resmi menjadi bagian keluarga, pasangan harus menyesuaikan peran dan tanggung jawab baru. Kesadaran diri sebagai orang tua adopsi sangat penting untuk menjaga keseimbangan hubungan dan mencegah konflik.

“Adaptasi pasangan saat anak masuk struktur keluarga menuntut penyesuaian peran dan tanggung jawab baru. Kesadaran diri menjadi kunci agar relasi keluarga tetap harmonis,” tutur Winda.

Baginya, adopsi bukan sekadar formalitas, melainkan wujud cinta dan penerimaan, simbol harapan baru yang memperkuat ikatan keluarga.

K-Pop dan Identitas Sosial Baru Generasi Muda

Sementara itu, Dr. Nurudin, M.Si. memaparkan penelitian bertajuk “Behind the Glamour: Identitas Baru K-Popers.” Ia menguraikan bagaimana gelombang budaya Korea atau Hallyu telah membentuk gaya hidup, nilai, bahkan identitas sosial baru bagi generasi muda di Indonesia.

Menurutnya, awal mula fenomena Hallyu tidak lepas dari inovasi teknologi digital Korea Selatan. Contohnya, merek Samsung yang mampu menyaingi dominasi Nokia di awal 2000-an, menjadi pintu masuk bagi pengaruh global Korea di bidang teknologi dan budaya. Dari sinilah musik K-Pop, drama, hingga mode Korea mulai menyebar luas dan memikat hati masyarakat dunia, termasuk Indonesia.

Nurudin menilai, pengaruh budaya Korea tidak semata-mata negatif. Ia melihat adanya nilai solidaritas, ekspresi diri, dan empati sosial yang tumbuh di kalangan penggemar K-Pop, seperti ketika mereka menggalang dana untuk korban bencana. Namun, ia juga mengingatkan tentang imperialisme budaya, di mana Korea berhasil mendominasi pasar dan gaya hidup global.

“Budaya Korea mampu masuk dan mendominasi hampir di semua aspek kehidupan. Hal ini karena mereka berani menolak ketergantungan produk luar dan fokus mengekspor karya budaya sendiri,” jelas Nurudin.

Refleksi Akademik: Dari Demokrasi hingga Budaya Populer

Seminar dan Kolokium Doctoral FISIP UMM ini menjadi ruang refleksi yang menarik. Para pembicara menunjukkan bahwa demokrasi, keluarga, dan budaya populer adalah tiga hal yang saling terkait dalam membentuk wajah kemanusiaan modern.

Dari urgensi integritas demokrasi hingga makna emosional dalam keluarga, dan dari dominasi budaya Korea hingga perubahan identitas sosial, semua diskusi tersebut menegaskan bahwa ilmu sosial bukan sekadar teori, tetapi lensa untuk memahami realitas hidup manusia yang kompleks.

Melalui forum ini, UMM menegaskan posisinya sebagai kampus yang terus mendorong lahirnya pemikiran-pemikiran kritis dan reflektif, agar akademisi dan masyarakat dapat bersama-sama membangun peradaban yang lebih beradab, beretika, dan manusiawi. (04/iKoneksi.com)

banner 325x300banner 325x300
banner 120x600
  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *