google.com, pub-7927405703202979, DIRECT, f08c47fec0942fa0

Haji Mengajarkan Batas Logika Manusia, Kisah Henny Nurhandayani di Armuzna Menyentuh Hati

  • Bagikan
banner 468x60

Makkah, iKoneksi.com – Di tengah jutaan umat Islam yang memadati Tanah Suci pada puncak ibadah haji 1447 Hijriah, terselip kisah reflektif dari Henny Nurhandayani, jamaah haji asal Kota Malang yang tergabung dalam Kloter 13 KBIH Universitas Brawijaya (UB).

Bagi Henny, perjalanan Armuzna—Arafah, Muzdalifah, dan Mina—bukan sekadar rangkaian ritual wajib dalam ibadah haji. Lebih dari itu, Armuzna menjadi perjalanan spiritual yang mengubah cara pandangnya tentang kehidupan, kemampuan manusia, dan pertolongan Allah SWT.

“Sebagai seseorang yang terbiasa bekerja dengan data, perencanaan, dan pendekatan yang sistematis, saya sering melihat berbagai persoalan melalui sudut pandang yang terukur. Namun perjalanan haji mengajarkan pelajaran yang berbeda. Ada fase kehidupan yang tidak dapat dijelaskan hanya dengan logika manusia,” ujar Henny.

Puncak pengalaman itu ia rasakan saat wukuf di Padang Arafah pada 9 Dzulhijjah. Di lokasi yang menjadi rukun terbesar ibadah haji tersebut, jutaan manusia dari berbagai negara berkumpul tanpa memandang jabatan, profesi, pendidikan, maupun status sosial.

Menurut Henny, Arafah menjadi tempat manusia kembali mengenal dirinya sebagai hamba Allah. Doa-doa dipanjatkan dengan penuh harap, menyebut nama orang tua, pasangan, anak, keluarga, guru, hingga sahabat yang pernah hadir dalam perjalanan hidup.

“Ada doa yang terucap melalui lisan, ada pula yang hanya mengalir melalui air mata,” tuturnya.

Usai wukuf, perjalanan berlanjut menuju Muzdalifah. Bermalam di ruang terbuka dengan fasilitas sederhana menjadi pengalaman yang tak terlupakan. Meski tanpa kenyamanan hotel dan tempat tidur yang layak, Henny mengaku merasakan ketenangan luar biasa.

Perjalanan berat kembali menanti saat menuju Mina. Setelah melaksanakan lempar Jumrah Aqabah, Henny dan sejumlah jamaah harus bergerak menuju Masjidil Haram untuk melaksanakan thawaf ifadah dan sa’i.

Di tengah lautan manusia yang mencapai jutaan orang, situasi tak terduga terjadi. Henny bersama sekitar sepuluh jamaah lainnya terpisah dari rombongan besar setelah menyelesaikan rangkaian ibadah di Masjidil Haram.

“Mengandalkan peta digital di telepon genggam, mereka harus mencari jalan kembali menuju Mina dalam kondisi fisik yang terus menurun. Kami berada di area yang belum familiar. Arus jamaah terus bergerak tanpa henti. Rasa cemas tentu sempat muncul,” ungkapnya.

Namun di tengah kondisi tersebut, solidaritas antarjamaah justru semakin kuat. Mereka saling menunggu, saling menguatkan, dan memastikan tidak ada yang tertinggal.

Perjalanan panjang hampir 18 kilometer harus ditempuh dengan berjalan kaki hingga menjelang Subuh. Dalam kondisi kurang tidur, kehabisan air minum, belum sempat makan malam, serta kelelahan akibat aktivitas tanpa jeda, Henny mengaku sempat mempertanyakan bagaimana dirinya mampu bertahan.

“Jika dihitung secara logika, perjalanan tersebut terasa sangat berat. Tetapi ketika dijalani, Allah menghadirkan kekuatan yang tidak pernah kami bayangkan sebelumnya,” ungkapnya.

Dari pengalaman itulah Henny memahami makna firman Allah dalam Surah Hud ayat 88, ‘Wa maa taufiiqii illaa billaah’, yang berarti tidak ada taufik kecuali dengan pertolongan Allah.

Menurutnya, Arafah adalah ruang muhasabah, Muzdalifah menjadi ruang perenungan, sedangkan Mina merupakan ruang latihan pengorbanan, kesabaran, dan perjuangan melawan hawa nafsu.

“Haji bukan hanya perjalanan menuju Tanah Suci. Haji adalah perjalanan kembali kepada Allah. Perjalanan untuk mengenal diri, membersihkan hati, dan menyadari bahwa di balik setiap keterbatasan manusia selalu ada pertolongan Allah yang tidak pernah berhenti menyertai hamba-Nya,” terang Henny.

“Kisah perjalanan spiritual tersebut menjadi pengingat bahwa di tengah kecanggihan teknologi, perencanaan matang, dan kemampuan manusia, terdapat ruang besar yang hanya dapat diisi oleh keyakinan, ketulusan, dan pertolongan Sang Pencipta,” tandasnya.

banner 325x300banner 325x300
banner 120x600
  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *