google.com, pub-7927405703202979, DIRECT, f08c47fec0942fa0

Sound Horeg Gampingan Jadi Magnet Wisata Baru di Malang Selatan

  • Bagikan
banner 468x60

Kab Malang, iKoneksi.com – Suasana Desa Gampingan, Kecamatan Pagak, Kabupaten Malang, mendadak semarak. Jalanan desa yang biasanya tenang kini berubah menjadi lautan manusia. Ribuan warga dari berbagai daerah tumpah ruah menyaksikan karnaval budaya yang diiringi sound horeg suguhan unik yang kini menjadi ikon khas desa ini.

Acara tahunan yang digelar pada 10–11 Oktober 2025 itu bukan sekadar hiburan rakyat, tapi juga ajang budaya dan ekonomi rakyat yang berhasil menarik perhatian hingga ke luar daerah. Dari tahun ke tahun, jumlah pengunjung terus meningkat pesat, menjadikan Desa Gampingan sebagai salah satu destinasi event rakyat paling dinanti di Malang Selatan.

Antusiasme Warga dan Ledakan Pengunjung

Salah satu panitia pelaksana, Monadi, yang juga menjabat sebagai Kepala Dusun Gampingan, menuturkan bahwa kegiatan ini sudah berlangsung selama tiga tahun berturut-turut sejak 2022, 2023, dan kini 2025. Ia menyebut bahwa antusiasme masyarakat terus melonjak dari tahun ke tahun.

“Mulai tahun sebelumnya selalu ada peningkatan. Tahun 2022 sudah ramai, 2023 pengunjung membludak bisa mencapai lebih dari 30 ribu orang. Kalau tahun ini, sepertinya lebih besar lagi,” ungkapnya saat ditemui iKoneksi.com, Jumat (10/10/2025).

Tak hanya warga Malang, pengunjung disebut datang dari berbagai penjuru mulai dari Banyuwangi, Jawa Tengah, hingga luar Pulau Jawa. Bahkan, kata Monadi, ada juga wisatawan asing yang datang karena penasaran dengan fenomena “sound horeg” yang viral di media sosial.

Berkah Ekonomi dari Getaran Bass

Bagi warga Desa Gampingan, festival ini bukan sekadar hiburan tahunan, melainkan berkah ekonomi yang nyata. Perputaran uang dari sektor UMKM meningkat drastis selama dua hari pelaksanaan. Warga menjajakan makanan khas, minuman, hingga menyewakan rumah sebagai penginapan bagi kru sound dan penonton luar daerah.

“Rumah-rumah warga banyak yang disewa. Ada tamu dari luar kota, bahkan luar provinsi, yang datang sejak sebelum acara cek sound. Dari kemarin sudah ada rombongan dari Banyuwangi dan Jawa Tengah,” tutur Monadi dengan bangga.

Denyut ekonomi lokal terasa kian hidup. Pedagang kaki lima hingga pemilik warung turut kecipratan rezeki. Jalan-jalan desa dipenuhi tenda kuliner dan stand produk lokal yang menambah semarak suasana malam.

Viral di TikTok, Dilirik Dunia

Fenomena sound horeg Gampingan rupanya tak hanya mengguncang speaker, tetapi juga jagat maya. Menurut Monadi, sebelum acara dimulai, berbagai konten promosi sudah beredar luas di TikTok dan media sosial lainnya.

“Sudah viral banyak di TikTok. Mulai dari harga tiket, rundown acara, sampai penampilan sound sudah di-share. Jadi, banyak yang tahu dan tertarik datang,” katanya.

Yang lebih mengejutkan, Monadi mengungkap seorang warga negara asing yang sempat viral di TikTok juga hadir dalam acara tersebut.

“Kemarin itu benar ada bule datang, dibawa oleh sound Minion. Itu yang viral di TikTok kemarin,” terangnya sambil tertawa kecil.

Fenomena viral ini semakin memperkuat posisi Desa Gampingan sebagai ikon budaya rakyat berbasis digital, di mana tradisi lokal berpadu dengan eksposur dunia maya.

Perpaduan Tradisi, Musik, dan Kreativitas

Kegiatan yang digelar selama dua hari ini dimulai dengan cek sound pada malam pertama pukul 19.00–23.00 WIB, diikuti dengan karnaval budaya besar-besaran pada hari berikutnya. Sebanyak 20 kelompok peserta ikut serta, masing-masing membawa sound system raksasa yang menjadi ciri khasnya.

“Setiap RT menyewa satu sound. Start-nya di dekat Perhutani Bendo dan finish di utara Pasar Gampingan,” jelas Monadi.

Karnaval dimulai sejak pagi dengan rombongan pelajar dan lembaga pendidikan, kemudian dilanjutkan oleh peserta umum hingga malam hari.

“Tahun kemarin 16 peserta selesai jam lima pagi. Sekarang ada 20 peserta, mungkin bisa lebih lama lagi,” lugasnya.

Selain parade musik keras, acara ini juga menampilkan tarian tradisional, kostum tematik, dan pertunjukan kolosal budaya Nusantara.

“Semua peserta dinilai oleh dewan juri berdasarkan kreativitas, kekompakan, dan kemampuan menonjolkan identitas lokal,” ungkap Monadi.

Harmoni Bass dan Budaya

Lebih dari sekadar festival, sound horeg Gampingan menjadi simbol perpaduan antara budaya rakyat dan ekspresi generasi muda. Dalam dentuman bass dan gemerlap lampu, tersimpan nilai gotong royong, kebersamaan, dan semangat kreatif warga desa.

“Yang terpenting bukan sekadar suaranya besar, tapi bagaimana kegiatan ini membuat warga semakin guyub dan dikenal luas,” ujar Monadi.

“Dengan dukungan masyarakat, aparat desa, dan daya tarik yang kian viral di dunia maya, Gampingan kini bukan sekadar desa kecil di selatan Malang, melainkan destinasi budaya yang hidup tempat di mana tradisi dan teknologi berpadu dalam harmoni bass dan kebanggaan lokal,” tandas Monadi. (04/iKoneksi.com)

banner 325x300banner 325x300
banner 120x600
  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *