google.com, pub-7927405703202979, DIRECT, f08c47fec0942fa0

Budi Arie Pilih Gerindra, Jokowi Tak Lagi Jadi Magnet Politik

  • Bagikan
banner 468x60

Jakarta, iKoneksi.com — Keputusan Ketua Umum Projo, Budi Arie Setiadi, untuk bergabung dengan Partai Gerindra bukan sekadar langkah politik biasa. Langkah ini, menurut pengamat politik, menandai perubahan besar dalam arah loyalitas politik para tokoh yang sebelumnya dikenal sebagai barisan inti pendukung Presiden ke-7 RI, Joko Widodo (Jokowi).

Direktur Eksekutif Indonesia Political Opinion (IPO), Dedi Kurnia Syah, menilai bahwa Jokowi kini tak lagi memiliki daya tarik politik yang kuat bagi sebagian pendukung lamanya. Ia menyebut, Budi Arie lebih memilih Gerindra karena faktor pragmatisme dan perlindungan politik, bukan karena loyalitas ideologis terhadap Jokowi.

“Jokowi sendiri tidak lagi menarik karena bukan penguasa. Posisi Gibran (Gibran Rakabuming Raka) juga tidak berpengaruh. Ini yang membuat PSI tidak cukup menarik bagi politisi pragmatis seperti Budi Arie,” ujar Dedi kepada iKoneksi.com, Ahad (2/11/2025).

Jokowi Tak Lagi Jadi Magnet Politik

Dedi menjelaskan, selama ini Budi Arie dikenal sebagai loyalis Jokowi yang paling lantang membela sang presiden di berbagai isu nasional. Namun setelah kekuasaan berpindah ke Presiden Prabowo Subianto, dinamika politik pun berubah. Jokowi, yang kini tidak lagi menjabat sebagai kepala pemerintahan, kehilangan posisi strategisnya dalam menentukan arah politik nasional.

“Loyalitas Budi Arie bukan lagi pada Jokowi, tapi pada kalkulasi untung rugi dalam menjaga karier politiknya. Ia melihat, dengan mendekat ke Gerindra, ia bisa menjaga posisi dan mendapatkan perlindungan hukum serta politik,” sebut Dedi.

Menurut Dedi, keputusan ini menunjukkan bahwa PSI (Partai Solidaritas Indonesia) kini mulai kehilangan magnet politiknya, terutama setelah harapan untuk menjadi wadah politik baru bagi para pendukung Jokowi meredup.

“PSI belum bisa memberi jaminan politik, baik perlindungan maupun posisi. Sedangkan Gerindra adalah partai penguasa, itu menjadi daya tarik tersendiri,” tuturnya.

Pilihan Pragmatis, Bukan Ideologis

Langkah Budi Arie untuk merapat ke Gerindra, kata Dedi, merupakan keputusan pragmatis, bukan ideologis. Ia melihat, Budi mempertimbangkan faktor keamanan politik di tengah bayang-bayang sejumlah kasus hukum yang sempat menyeret namanya saat menjabat sebagai Menteri Komunikasi dan Informatika.

“Budi Arie butuh perlindungan hukum. Dengan bergabung ke PSI, dia tidak punya jaminan itu. Tapi Gerindra tentu berbeda, karena merupakan partai penguasa. Jadi alasannya lebih ke soal suaka hukum,” terang Dedi.

Selain itu, Dedi juga menyoroti kecenderungan politisi pasca-era Jokowi yang cenderung realistis dan mencari posisi aman di lingkar kekuasaan baru.

“Budi Arie bukan satu-satunya. Banyak loyalis Jokowi yang kini mulai bermanuver karena mereka tahu, pengaruh Jokowi di ranah politik praktis sudah menurun drastis,” ujarnya.

PSI Kehilangan Daya Saing

Menurut Dedi, PSI kini tengah menghadapi ujian eksistensi politik yang berat. Meski sempat dielu-elukan sebagai partai muda yang dekat dengan Jokowi dan membawa semangat pembaruan, PSI dinilai belum mampu memberikan kepastian politik bagi para tokoh yang ingin mempertahankan karier mereka di pemerintahan.

“Gerindra bukan hanya partai penguasa, tapi juga punya jaringan kuat untuk memastikan keberlanjutan karier politik seseorang. Sedangkan PSI masih belum bisa menawarkan itu,” tegas Dedi.

Langkah Budi Arie, lanjutnya, menjadi sinyal kuat bahwa era politik Jokowi perlahan meredup, sementara politik realisme ala Prabowo mulai mendominasi.

“Budi Arie adalah simbol dari transisi kekuasaan ini. Loyalitasnya bergeser mengikuti arus baru politik nasional,” katanya.

Budi Arie Resmi Nyatakan Gabung Gerindra

Sebelumnya, dalam Kongres III Projo di Grand Sahid Jaya, Jakarta Pusat, Sabtu (1/11/2025), Budi Arie secara terbuka mengumumkan niatnya untuk bergabung dengan Partai Gerindra. Ia mengaku keputusan itu diambil setelah berdiskusi langsung dengan Presiden Prabowo Subianto.

“Ya, secepatnya (gabung Gerindra). Betul, pasti Gerindra. Kita akan memperkuat dan mendukung agenda-agenda politik Presiden Prabowo,” tegas Budi Arie di sela-sela kongres tersebut.

Pernyataan itu sontak memicu perbincangan publik, terutama di kalangan relawan Jokowi yang merasa langkah Budi Arie merupakan bentuk pergeseran arah politik dari kubu lama ke kekuasaan baru.

Pergeseran Loyalitas di Lingkar Jokowi

Langkah Budi Arie memperlihatkan fenomena besar pasca-pergantian kekuasaan: loyalitas politik yang mulai berpindah arah. Sosok Jokowi yang dulu menjadi pusat gravitasi politik nasional kini perlahan kehilangan daya magnetnya, sementara kekuatan baru di bawah kepemimpinan Prabowo mulai menyedot perhatian.

“Budi Arie hanya salah satu contoh dari banyak elite yang menyesuaikan diri dengan konstelasi politik baru,” pungkas Dedi.

banner 325x300banner 325x300
banner 120x600
  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *