google.com, pub-7927405703202979, DIRECT, f08c47fec0942fa0

Isu IQ 78 Dinilai Tak Representatif, Ini Penjelasan Pakar UMM

  • Bagikan
banner 468x60

Kab Malang, iKoneksi.com — Isu skor rata-rata Intelligence Quotient (IQ) Indonesia yang disebut berada di angka 78 kembali ramai diperbincangkan publik. Angka tersebut memicu perbandingan antarnegeri hingga melahirkan narasi sensasional yang kerap menyesatkan. Menanggapi hal itu, dosen Psikologi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), May Lia Elfina, M.Psi., Psikolog, menegaskan bahwa skor IQ tidak bisa dimaknai secara sederhana, apalagi dijadikan label kecerdasan suatu bangsa.

May menjelaskan, IQ pada dasarnya merupakan indikator kemampuan kognitif umum, seperti penalaran, pemecahan masalah, pemahaman verbal, dan kemampuan belajar.

“Skor IQ diperoleh melalui tes psikologi standar dengan alat ukur dan metodologi tertentu. Karena itu, pembahasan IQ tanpa pemahaman konsep yang utuh berpotensi menghasilkan kesimpulan keliru,” katanya.

Perdebatan publik mencuat setelah data World Population Review tahun 2022 mencantumkan rata-rata IQ Indonesia di angka 78,49. Namun, menurut May, data tersebut perlu dibaca secara kritis dan hati-hati.

“Data itu menurut saya tidak representatif. Bisa jadi merupakan kompilasi dari berbagai sumber dengan metodologi, alat ukur, dan jumlah sampel yang berbeda-beda. Ini yang sering tidak disadari publik,” ucap May kepada iKoneksi.com, Sabtu (27/12/2025).

Ia menambahkan, dalam kajian psikologi, kemampuan kognitif suatu bangsa tidak dapat direduksi menjadi satu angka agregat. Berbagai penelitian menunjukkan hasil yang beragam, mulai dari kisaran 70-an hingga di atas 90, bergantung pada instrumen tes, konteks budaya, dan populasi yang diteliti.

May juga menyoroti munculnya perbandingan ekstrem yang menyebut IQ Indonesia mendekati IQ gorila. Menurutnya, klaim tersebut merupakan kesalahan interpretasi ilmiah yang serius.

“Penelitian tentang kecerdasan gorila sendiri masih menjadi perdebatan di kalangan ilmuwan. Gorila jelas bukan manusia, baik secara biologis maupun psikologis. Menyamakan atau membandingkannya secara langsung adalah kekeliruan,” tegasnya.

Lebih jauh, May menekankan skor IQ sangat dipengaruhi oleh faktor lingkungan, terutama dalam konteks lintas budaya. Perbedaan bahasa, latar budaya, akses pendidikan, kondisi kesehatan, hingga kualitas gizi dapat memengaruhi hasil tes kecerdasan.

“Tes IQ dikembangkan dalam konteks budaya tertentu. Jika digunakan lintas budaya tanpa penyesuaian, hasilnya tentu tidak bisa dibandingkan secara adil,” ujarnya.

May juga menolak pandangan bahwa IQ merupakan penentu utama kesuksesan hidup seseorang. Menurutnya, banyak faktor lain yang berperan penting, seperti motivasi, kepribadian, kecerdasan emosional dan sosial, kreativitas, serta lingkungan yang mendukung perkembangan individu.

Sebagai penutup, May menegaskan bahwa IQ bukanlah vonis yang bersifat tetap. “IQ bisa berkembang jika lingkungannya mendukung,” katanya. Ia mendorong publik untuk lebih bijak memaknai isu kecerdasan dan mengalihkan perhatian pada upaya nyata, seperti pemenuhan gizi, stimulasi dini, serta pemerataan pendidikan dan layanan kesehatan sebagai fondasi peningkatan kualitas sumber daya manusia Indonesia.

banner 325x300banner 325x300
banner 120x600
  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *