google.com, pub-7927405703202979, DIRECT, f08c47fec0942fa0

Peneliti UB Temukan Metode Presisi Cegah Gangguan Tumbuh Kembang

  • Bagikan
banner 468x60

Kota Malang, iKoneksi.com — Universitas Brawijaya (UB) kembali menorehkan inovasi di bidang kesehatan. Tim peneliti yang dipimpin Prof. Dr. Aulanni’am berhasil mengembangkan alat deteksi dini hipotiroid pada bayi baru lahir berbasis metode Enzyme Linked Immunosorbent Assay (ELISA).

Inovasi ini menjadi jawaban atas tantangan besar dalam dunia medis, di mana gangguan hipotiroid kongenital kerap sulit terdeteksi karena minimnya gejala pada tahap awal. Padahal, keterlambatan diagnosis dapat berdampak serius pada tumbuh kembang anak.

“Hipotiroid kongenital harus dideteksi sedini mungkin karena dampaknya besar. Kami berupaya menghadirkan metode yang lebih presisi,” tutur Aulanni’am.

Teknologi Antibodi Jadi Kunci Akurasi Deteksi

Alat ini bekerja dengan memanfaatkan antibodi poliklonal yang dikembangkan melalui rekayasa protein rekombinan human Thyroid Stimulating Hormone (hTSH). Teknologi ini memungkinkan sistem mengenali biomarker hormon tiroid secara lebih spesifik.

“Antibodi yang dihasilkan memiliki kemampuan mendeteksi berbagai bagian antigen, sehingga meningkatkan peluang identifikasi target dalam sampel darah bayi. Hal ini menjadi kunci peningkatan akurasi dalam proses diagnosis. Dalam praktiknya, sampel darah bayi akan bereaksi dengan antibodi dalam sistem ELISA. Reaksi tersebut memicu perubahan warna yang kemudian dibaca secara optik untuk menentukan kadar hormon secara kuantitatif,” paparnya.

Lebih Sensitif, Deteksi Sebelum Gejala Muncul

Ia membeberkan keunggulan utama alat ini terletak pada tingkat sensitivitasnya yang tinggi. Bahkan, kadar hormon dalam jumlah sangat kecil dapat terdeteksi sebelum gejala klinis muncul. Selain itu, spesifisitas alat juga meningkat karena penggunaan antibodi yang dirancang khusus. Dibandingkan metode konvensional, inovasi ini dinilai lebih mampu mengidentifikasi kasus pada tahap sangat awal. Dengan kemampuan tersebut, alat ini berpotensi menekan risiko keterlambatan penanganan yang selama ini menjadi salah satu penyebab gangguan perkembangan pada anak.

Berpotensi Diproduksi Massal dan Lebih Terjangkau

Dari sisi pengembangan, alat ini dirancang dalam bentuk prototipe kit diagnostik yang praktis. Seluruh komponen utama dikembangkan berbasis riset dalam negeri, sehingga membuka peluang efisiensi biaya produksi. Langkah ini sekaligus menjadi upaya mengurangi ketergantungan terhadap produk impor di sektor alat kesehatan. Jika diproduksi massal, alat ini diharapkan dapat diakses lebih luas, termasuk di fasilitas kesehatan dengan sumber daya terbatas.

“Tak hanya itu, teknologi yang digunakan juga bersifat fleksibel dan berpotensi dikembangkan untuk mendeteksi berbagai penyakit lain dengan mengganti target antigen,” ungkapnya.

Dilirik Industri, Siap Masuk Tahap Hilirisasi

Meski belum dipasarkan, inovasi ini telah menarik perhatian industri farmasi nasional. Salah satunya PT Bio Farma (Persero) yang menunjukkan minat untuk mengembangkan produk ini ke tahap produksi skala industri.

“Kolaborasi ini membuka peluang hilirisasi riset agar dapat segera dimanfaatkan masyarakat luas. Ke depan, alat ini diharapkan menjadi bagian penting dalam program skrining bayi baru lahir di Indonesia. Dengan hadirnya inovasi ini, UB tak hanya memperkuat posisi sebagai pusat riset unggulan, tetapi juga menghadirkan solusi nyata bagi peningkatan kualitas kesehatan generasi masa depan,” pungkas dia.

banner 325x300banner 325x300
banner 120x600
  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *