google.com, pub-7927405703202979, DIRECT, f08c47fec0942fa0

Mahasiswa Rentan Krisis Mental, UB Siapkan Deteksi Dini Terpadu

  • Bagikan
banner 468x60

Kota Malang, iKoneksi.com — Universitas Brawijaya (UB) mempertegas komitmennya dalam memperkuat sistem kesehatan mental mahasiswa. Kampus ini mendorong pendekatan deteksi dini, membangun budaya pendengar aktif, serta menghadirkan sistem penanganan terintegrasi sebagai langkah strategis menghadapi persoalan yang kian kompleks.

Sorotan utama datang dari Kaprodi Psikiatri Fakultas Kedokteran UB, dr. Frilya Rachma Putri, yang menilai tantangan kesehatan mental mahasiswa saat ini tidak lagi sederhana.

“Masalah mental tidak muncul dari satu sebab. Ini akumulasi dari banyak tekanan,” ucap dia.

Mahasiswa di Fase Rentan, Tekanan Datang Berlapis

Frilya menjelaskan, mahasiswa berada pada fase transisi penting dalam perkembangan psikologis, yakni dari remaja menuju dewasa. Pada fase ini, proses pencarian jati diri kerap memicu kebingungan peran. Kondisi tersebut semakin kompleks ketika dibarengi tekanan dari berbagai aspek, mulai dari keluarga, relasi sosial, akademik, hingga pengalaman kekerasan.

“Jika tidak didukung lingkungan yang kuat, tekanan ini bisa berkembang menjadi krisis mental,” tegasnya.

Situasi ini menurut Frilya membuat pendekatan lama dinilai tidak lagi cukup untuk menjawab kebutuhan mahasiswa saat ini.

Dari Reaktif ke Proaktif: Kampus Harus Punya “Radar”

UB didorong untuk meninggalkan pendekatan reaktif yang hanya bergerak saat krisis terjadi. Sebaliknya, kampus harus mampu membaca tanda-tanda awal gangguan mental.

“Kampus tidak bisa hanya jadi ambulans. Harus punya radar untuk mendeteksi sejak dini,” sebut Frilya.

“Konsep ini menekankan pentingnya sistem yang mampu mengidentifikasi risiko sebelum kondisi mahasiswa memburuk, sehingga intervensi bisa dilakukan lebih cepat dan tepat,” sambungnya.

Bangun Sistem Terpadu dan Pendengar Aktif

Untuk mewujudkan hal tersebut, UB memperkuat layanan konseling yang telah berjalan sejak 2017 menjadi sistem yang lebih komprehensif. Frilya menegaskan, ada tiga fokus utama yang harus diperkuat, yakni akses pembiayaan layanan seperti BPJS, keterlibatan seluruh elemen kampus sebagai pendengar aktif, serta pengembangan sistem promotif, preventif, dan kuratif.

Pendekatan ini diharapkan Frilya mampu menciptakan lingkungan kampus yang lebih responsif dan suportif bagi mahasiswa.

Zero Tolerance Perundungan dan Kekerasan Seksual

Ia membeberkan sebagai bagian dari perlindungan mahasiswa, UB juga menerapkan kebijakan toleransi nol terhadap perundungan dan kekerasan seksual. Kebijakan ini dilengkapi dengan sanksi tegas bagi pelaku, sebagai bentuk komitmen menciptakan lingkungan kampus yang aman secara psikologis. Langkah ini menjadi bagian penting dalam membangun ekosistem kesehatan mental yang menyeluruh.

Safety Net Terbangun, Libatkan RSUB dan Mitra Nasional

Dalam implementasinya, UB membangun jejaring pengaman (safety net) kesehatan mental yang melibatkan berbagai pihak.

“Di internal kampus, layanan konseling menjadi garda terdepan. Sementara secara eksternal, UB bekerja sama dengan Program Indonesia Sehat Jiwa serta dukungan klinis dari Rumah Sakit Universitas Brawijaya (RSUB),” ungkap Frilya.

Ketua Program Indonesia Sehat Jiwa, Sofia Ambarini, menegaskan pentingnya pendekatan menyeluruh dalam penanganan kesehatan mental.

“Penanganan tidak bisa parsial. Harus dari promotif hingga rehabilitatif,” sebutnya.

Ia menambahkan, kerja sama juga mencakup layanan darurat melalui IGD serta dukungan tenaga ahli untuk menangani kondisi krisis mahasiswa.

UB Bangun Ekosistem Mental Tangguh Mahasiswa

Menurut Sofia langkah ini menegaskan arah baru UB dalam membangun sistem kesehatan mental yang tidak hanya responsif, tetapi juga preventif dan berkelanjutan. Dengan sistem yang terintegrasi, mahasiswa diharapkan tidak hanya mampu bertahan menghadapi tekanan, tetapi juga memiliki ketahanan mental yang kuat untuk menjalani kehidupan akademik dan sosial.

“Upaya ini sekaligus menjadi penanda bahwa isu kesehatan mental kini menjadi prioritas serius di lingkungan perguruan tinggi,” pungkas Sofia.

banner 325x300banner 325x300
banner 120x600
  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *