google.com, pub-7927405703202979, DIRECT, f08c47fec0942fa0

Stok Pangan Kota Malang Aman di Tengah Lonjakan MBG, Kadispangtan Buka Fakta Lapangan

  • Bagikan
banner 468x60

Kota Malang, iKoneksi.com – Di tengah meningkatnya permintaan bahan pangan untuk program Makan Bergizi Gratis (MBG), Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan (Dispangtan) Kota Malang memastikan stok tetap dalam kondisi aman. Kepala Dispangtan Kota Malang, Slamet Husnan, menegaskan pihaknya telah melakukan langkah antisipatif sejak awal.

Menurut Slamet, koordinasi lintas sektor menjadi kunci utama menjaga stabilitas pasokan. Pemerintah tidak hanya menggandeng kelompok tani, tetapi juga pelaku usaha dan distributor pangan.

“Kami berkoordinasi dengan penyedia, kelompok tani, dan pelaku usaha pangan untuk memastikan ketersediaan bahan baku seperti beras, sayuran, hingga protein hewani,” tutur Slamet.

Ia memastikan, meski permintaan meningkat signifikan akibat program MBG, stok pangan di Kota Malang masih mampu memenuhi kebutuhan masyarakat dan program secara bersamaan.

Permintaan Naik, Harga Dijaga Stabil

Lonjakan kebutuhan pangan menjadi tantangan tersendiri. Namun, Slamet menegaskan kondisi tersebut masih dalam batas terkendali.

“Memang ada peningkatan permintaan, tapi stok pangan saat ini masih aman,” katanya.

Tak hanya fokus pada ketersediaan, Dispangtan juga mengawasi pergerakan harga di pasar. Langkah ini penting untuk mencegah lonjakan harga yang dapat membebani masyarakat.

“Kami juga memantau stabilitas harga agar tidak terjadi lonjakan,” sebut dia.

Pengawasan ini dilakukan secara rutin di sejumlah pasar tradisional sebagai langkah preventif menjaga keseimbangan antara permintaan dan daya beli masyarakat.

Strategi Pasokan: Andalkan Kerja Sama Antar Daerah

Untuk menutup kekurangan produksi lokal, Pemkot Malang menerapkan strategi kerja sama antar daerah (KAD). Wilayah penyangga di Malang Raya hingga daerah lain di Jawa Timur dilibatkan sebagai pemasok tambahan.

“Kami bekerja sama dengan daerah lain untuk suplai beras dan beberapa komoditas yang tidak bisa dipenuhi dari dalam kota,” jelas Slamet.

Langkah ini dinilai Slamet efektif dalam menjaga kesinambungan pasokan, terutama untuk komoditas strategis yang produksinya terbatas di wilayah perkotaan. Selain itu, Dispangtan juga mendorong agar program MBG tidak hanya menjadi program konsumsi, tetapi juga mampu menggerakkan ekonomi petani lokal.

“Kami harapkan penyedia memprioritaskan hasil panen petani lokal,” tegasnya.

Fakta Lapangan: Kualitas Bahan Jadi Tantangan

Di sisi lain, tantangan muncul dari pelaku usaha penyedia makanan. Ketua DPW Gapembi Jawa Timur, Makhrus Sholeh, mengungkapkan keterbatasan bahan baku berkualitas di pasaran.

“Sekarang bahan baku cukup sulit. Idealnya dapur itu pakai bahan grade A, tapi karena keterbatasan, kadang harus memilih yang grade B yang masih layak,” ujarnya.

Meski begitu, ia memastikan kualitas tetap dijaga agar tidak mengorbankan standar makanan bagi penerima manfaat. Menariknya, kondisi ini justru membawa dampak positif bagi pedagang pasar. Permintaan sayuran meningkat tajam, membuat aktivitas perdagangan kembali menggeliat.

“Pasar sekarang ramai karena permintaan tinggi dari program ini,” katanya.

“Program MBG pun tak hanya berdampak pada pemenuhan gizi masyarakat, tetapi juga mendorong perputaran ekonomi di sektor pangan,” tukas Makhrus.

banner 325x300banner 325x300
banner 120x600
  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *