google.com, pub-7927405703202979, DIRECT, f08c47fec0942fa0

Disdik Kota Batu Pastikan MPLS Bebas Perpeloncoan, Usung Konsep SAE Bangun Karakter Siswa

  • Bagikan
banner 468x60

Kota Batu, iKoneksi.com – Dinas Pendidikan (Disdik) Kota Batu memastikan pelaksanaan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) tahun ajaran 2026/2027 berlangsung aman, nyaman, edukatif, dan sepenuhnya bebas dari praktik perpeloncoan maupun perundungan. Seluruh sekolah diminta menjadikan MPLS sebagai momentum membangun karakter sekaligus memberikan pengalaman pertama yang menyenangkan bagi peserta didik baru.

Kepala Bidang SMP Dinas Pendidikan Kota Batu, Cahyawisesa, menegaskan, prioritas utama MPLS bukan sekadar mengenalkan lingkungan sekolah, melainkan menciptakan rasa aman, baik secara fisik maupun psikologis.

“Kami ingin memastikan tidak ada bentuk perundungan, intimidasi, maupun tekanan terhadap siswa baru, baik yang dilakukan kakak kelas maupun pihak lain di lingkungan sekolah,” ujarnya.

Menurutnya, sekolah harus mampu memperkenalkan budaya belajar secara positif sehingga peserta didik merasa diterima, dihargai, dan termotivasi mengikuti proses pendidikan.

“Karena itu, seluruh satuan pendidikan diingatkan agar setiap rangkaian kegiatan MPLS benar-benar berorientasi pada pendidikan karakter, pengenalan tata tertib, budaya sekolah, pembentukan disiplin, serta tanggung jawab. Kegiatan yang tidak memiliki nilai edukatif diminta tidak lagi dilaksanakan,” tutur Sesa.

Pelaksanaan MPLS juga diberikan keleluasaan bagi setiap sekolah untuk menyesuaikan dengan kondisi masing-masing. Materi tidak hanya disampaikan di dalam kelas, tetapi dapat dikombinasikan dengan permainan edukatif, pengenalan fasilitas sekolah, kegiatan kebersamaan, hingga aktivitas yang membangun kerja sama antarsiswa.

“Intinya, pengalaman pertama siswa di sekolah harus menyenangkan sehingga mereka siap mengikuti proses pembelajaran ke depan,” tekan dia.

Sementara itu, Kepala Dinas Pendidikan Kota Batu, Alfi Nurhidayat, mengatakan MPLS tahun ini mengusung konsep SAE yang selaras dengan visi mBatu SAE (Sinergis, Akomodatif, dan Ekologis). Dalam pelaksanaannya, SAE juga dimaknai sebagai Santun, Aktif, dan Edukatif. Menurut Alfi, konsep tersebut dirancang agar MPLS tidak sekadar menjadi kegiatan seremonial, melainkan benar-benar menjadi fondasi pembentukan karakter siswa baru.

“Pada aspek Santun, sekolah diarahkan menanamkan etika, sopan santun, penghormatan kepada guru, kepedulian terhadap sesama, serta pengenalan budaya lokal Kota Batu,” ucap dia.

Sementara Aktif diwujudkan melalui partisipasi siswa dalam berbagai kegiatan eksplorasi diri, pengenalan organisasi sekolah, hingga aktivitas ekstrakurikuler yang mendorong keberanian berpendapat dan bekerja sama.

“Adapun Edukatif menekankan bahwa seluruh materi maupun permainan selama MPLS harus memiliki nilai pembelajaran. Tidak boleh ada kegiatan yang mempermalukan siswa ataupun mengandung unsur perpeloncoan,” tekan mantan Kadis PUPR Kota Batu itu.

Selain pendidikan karakter, Disdik Kota Batu juga mendorong sekolah memperkuat literasi digital, edukasi penggunaan media sosial secara bijak, pencegahan cyberbullying, serta pengenalan platform pembelajaran digital yang digunakan sekolah. Aspek kesehatan mental dan pencegahan bullying juga menjadi perhatian utama. Menurut Alfi, masa transisi ke jenjang pendidikan baru kerap menimbulkan kecemasan sehingga sekolah harus mampu menciptakan lingkungan yang ramah dan mendukung perkembangan peserta didik.

Ia juga meminta guru dan pengurus OSIS menjalankan peran sebagai pembimbing sekaligus sahabat bagi siswa baru, bukan sebagai pihak yang memberikan tekanan melalui tugas-tugas yang tidak relevan.

“Dengan komitmen seluruh sekolah, guru, orang tua, dan pemerintah, kami berharap MPLS di Kota Batu menjadi awal lahirnya generasi yang cerdas, berkarakter, peduli lingkungan, serta siap menghadapi tantangan masa depan,” lugasnya.

banner 325x300banner 325x300
banner 120x600
  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *