Menu
Koneksi Informasi Pikiran Merdeka

Dendy: Persatuan Nasional Jadi Kunci Indonesia Hadapi Konflik Geopolitik Global dan Ancaman Krisis

  • Bagikan
banner 468x60

Jakarta, iKoneksi.com — Memanasnya tensi geopolitik global, khususnya di kawasan Timur Tengah, mulai memicu kekhawatiran akan dampak yang lebih luas bagi dunia. Di tengah situasi tersebut, Ketua Dewan Pembina Yayasan Rumah Juang Indonesia, Muh Ageng Dendy Setiawan, menegaskan pentingnya memperkuat persatuan nasional sebagai benteng utama Indonesia menghadapi ketidakpastian global.

Menurut Dendy, eskalasi konflik internasional tidak hanya berdampak pada stabilitas politik global, tetapi juga berpotensi memicu krisis ekonomi, gangguan rantai pasok energi dan pangan, hingga ancaman terhadap keamanan nasional.

“Situasi geopolitik dunia saat ini menuntut seluruh elemen bangsa untuk memperkuat persatuan nasional. Indonesia harus tetap solid dan menempatkan kepentingan nasional di atas segala perbedaan,” kata Dendy dalam keterangannya.

Ia menilai, dalam kondisi global yang penuh tekanan, stabilitas dalam negeri menjadi faktor kunci agar Indonesia tidak ikut terseret dalam dampak negatif konflik internasional.

Eksponen aktivis Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) itu juga menyatakan dukungannya terhadap kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto, khususnya dalam memperkuat ketahanan nasional di berbagai sektor strategis. Dendy menekankan penguatan ketahanan pangan, energi, stabilitas ekonomi, serta sistem pertahanan menjadi langkah krusial untuk mengantisipasi dampak krisis global yang bisa terjadi sewaktu-waktu.

“Potensi krisis global harus diantisipasi sejak dini. Sinergi antara pemerintah, dunia usaha, akademisi, dan masyarakat sipil sangat penting untuk memastikan Indonesia tetap kuat dan stabil,” tegasnya.

Lebih jauh, ia mengingatkan ancaman terhadap persatuan tidak hanya datang dari luar, tetapi juga dari dalam negeri melalui narasi yang berpotensi memecah belah masyarakat. Karena itu, Dendy mengajak seluruh elemen masyarakat untuk tidak mudah terprovokasi oleh isu-isu yang dapat merusak solidaritas nasional, terutama di tengah situasi global yang sensitif.

“Sejarah menunjukkan Indonesia mampu melewati berbagai krisis ketika persatuan dijaga. Dengan kebersamaan, kita bisa menghadapi dinamika global tanpa kehilangan stabilitas,” sebut dia.

Dalam konteks tersebut, Dendy juga mengutip pemikiran Presiden pertama Republik Indonesia, Sukarno, yang secara konsisten menempatkan persatuan nasional sebagai fondasi utama bangsa. Ia mengingatkan kembali peringatan Bung Karno tentang bahaya politik adu domba yang pernah digunakan kekuatan kolonial untuk memecah belah rakyat Indonesia.

“Dalam pidatonya, Sukarno menggambarkan bagaimana masyarakat dari berbagai daerah diadu satu sama lain untuk melemahkan kekuatan bangsa,” kutip Dendy.

Tak hanya itu, Dendy juga menyinggung analogi “sapu lidi” yang kerap disampaikan Bung Karno. Menurutnya, filosofi tersebut tetap relevan hingga saat ini—bahwa persatuan adalah sumber kekuatan yang tidak mudah dipatahkan.

“Jika kita bersatu, kita kuat. Tapi jika terpecah, kita justru menjadi lemah. Ini pesan yang harus terus dijaga di tengah tantangan global saat ini,” seru dia.

Dengan dinamika geopolitik yang semakin kompleks, Dendy menilai persatuan nasional bukan sekadar slogan, melainkan kebutuhan strategis untuk menjaga kedaulatan, stabilitas ekonomi, dan keamanan negara.

banner 325x300 banner 325x300
banner 120x600
  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *