Menu
Koneksi Informasi Pikiran Merdeka

Generasi Muda Kota Batu Tinggalkan Pertanian, Ini Penyebabnya

  • Bagikan
banner 468x60

Kota Batu, iKoneksi.com — Jumlah petani dari kalangan generasi milenial dan generasi Z di Kota Batu terus menunjukkan tren penurunan. Fenomena ini memicu kekhawatiran akan keberlanjutan sektor pertanian di daerah yang selama ini dikenal sebagai salah satu lumbung hortikultura di Jawa Timur.

Wakil Ketua DPRD Kota Batu, Ludi Tanarto, menilai menurunnya minat generasi muda terhadap dunia pertanian bukan hanya terjadi di Kota Batu, melainkan menjadi persoalan nasional. Menurutnya, sektor pertanian kerap dipersepsikan sebagai bidang yang kurang menjanjikan secara ekonomi, terutama bagi generasi muda yang menginginkan kepastian pendapatan.

“Kalau menurut saya, ini problem nasional. Kenapa generasi milenial dan Gen Z tidak mau bertani? Karena dunia pertanian dianggap kurang prospek. Banyak fakta di lapangan, petani menanam tapi merugi, gagal panen karena faktor alam, atau hasil panen tidak laku di pasaran,” ujar Ludi.

Ia menjelaskan, kerugian yang kerap dialami petani menjadi faktor utama yang membuat generasi muda enggan terjun ke sektor pertanian. Investasi waktu, tenaga, dan biaya yang dikeluarkan sering kali tidak sebanding dengan hasil yang diperoleh. Kondisi ini, kata dia, menciptakan stigma bahwa bertani adalah pekerjaan berisiko tinggi dengan keuntungan yang tidak pasti.

Ludi menuturkan, salah satu persoalan mendasar adalah lemahnya nilai jual hasil pertanian. Tidak jarang petani mengalami panen melimpah, namun harga jual justru anjlok. Situasi ini diperparah dengan masuknya produk impor yang menekan harga hasil pertanian lokal.

“Panen sayur tidak laku, panen gabah harganya murah. Itu realitas yang sering dihadapi petani. Maka di level nasional, kami mengusulkan agar pemerintah menekan keran impor. Kalau impor dikurangi, otomatis harga hasil pertanian lokal bisa lebih pantas,” tegasnya.

Menurut Ludi, keseimbangan harga menjadi kunci utama. Petani harus memperoleh keuntungan yang layak, sementara konsumen juga tetap mendapatkan produk dengan harga yang terjangkau. Jika keseimbangan ini tercapai, sektor pertanian diyakini akan kembali menarik, termasuk bagi generasi muda.

Di tingkat daerah, Ludi mendorong Pemerintah Kota Batu untuk mengambil peran lebih aktif dalam melindungi dan mengembangkan sektor pertanian. Salah satu langkah yang bisa dilakukan, kata dia, adalah melalui Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) sebagai penampung hasil pertanian warga.

“Pemerintah daerah bisa hadir, misalnya BUMD menjadi penampung hasil panen petani. Hasil pertanian itu kemudian diproses atau disimpan. Kalau harga sedang murah, bisa disimpan di cold storage. Atau difasilitasi untuk ekspor dengan mencarikan pembeli di luar negeri,” jelasnya.

Ia mencontohkan komoditas khas Kota Batu seperti kentang dan sayuran hortikultura yang memiliki potensi besar jika dikelola dengan baik.

“Dengan dukungan infrastruktur dan akses pasar yang memadai, nilai tambah hasil pertanian dapat meningkat dan memberikan keuntungan yang lebih stabil bagi petani,” ungkap Ludi.

Selain soal pasar, Ludi juga menekankan pentingnya modernisasi pertanian. Menurutnya, pertanian tidak lagi harus identik dengan kerja berat dan metode tradisional. Penggunaan alat dan mesin pertanian modern diyakini mampu menarik minat generasi muda.

“Pertanian ke depan tidak lagi dengan cangkul dan sabit. Bisa pakai traktor, mesin panen, combine harvester. Kalau pertanian itu menghasilkan uang dan dikelola secara modern, saya yakin Gen Z juga akan tertarik,” ujarnya.

Ludi menegaskan, upaya mengembalikan minat generasi muda ke sektor pertanian membutuhkan langkah konkret dan keberpihakan kebijakan, baik di tingkat daerah maupun nasional. Ia optimistis, jika pemerintah konsisten menciptakan iklim pertanian yang menguntungkan, sektor ini akan kembali menjadi pilihan rasional dan menjanjikan bagi generasi penerus.

“Intinya sederhana. Kalau bertani bisa menghasilkan dan menjamin kesejahteraan, generasi muda pasti datang. Tinggal bagaimana kebijakan itu benar-benar diwujudkan,” pungkasnya.

banner 325x300 banner 325x300
banner 120x600
  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *