Menu
Koneksi Informasi Pikiran Merdeka

Konflik Kepemimpinan GMNI Berimbas Perpecahan Internal Cabang Kota Medan

  • Bagikan
banner 468x60

Kota Medan, iKoneksi.com – Dualisme kepemimpinan Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) pasca-Kongres XXII di Bandung memicu konflik internal hingga ke tingkat cabang, termasuk di Kota Medan. Perbedaan sikap terkait konsep “Menyulam Persatuan”, pelaksanaan Konferensi Cabang (Konfercab), serta kehadiran salah satu kubu DPP dalam agenda pelantikan pada 20 Februari 2026 disebut menjadi pemicu meruncingnya perpecahan organisasi mahasiswa tersebut.

GMNI sebagai organisasi kader dan organisasi massa yang berlandaskan ajaran Marhaenisme menempatkan persatuan sebagai fondasi perjuangan ideologis. Namun, hasil Kongres XXII GMNI di Bandung yang melahirkan dua kepemimpinan, yakni Risyad Falefi–Patra Dewa dan Sujahri Somar–Amir Mahfut, dinilai memunculkan dinamika baru di internal organisasi.

Perwakilan GMNI Cabang Medan menyatakan bahwa upaya penyatuan melalui gagasan “Menyulam Persatuan” sempat dibahas dalam pertemuan antara Sujahri Somar dan pimpinan Badan Kerja Cabang (Bakercab) GMNI Cabang Bandung. Dalam forum tersebut disepakati langkah awal berupa penguatan gerakan akar rumput.

“Konsepsi menyulam persatuan yang ditawarkan dimulai melalui gerakan grass root dan kami sepakat melaksanakan Konfercab GMNI Cabang Medan sebagai bagian dari proses itu,” ujarnya saat dihubungi iKoneksi.com.

Konfercab GMNI Cabang Medan sendiri telah digelar pada 13 Agustus 2025 di Sekretariat GMNI Cabang Medan, Jalan Kejaksaan Nomor 06, dengan mengusung tema Mempertegas Menyulam Persatuan dalam Mewujudkan Cita-Cita Sosialisme Indonesia. Forum tersebut, menurut panitia, juga telah mengundang sejumlah pihak untuk terlibat dalam proses konsolidasi organisasi.

Namun dalam perkembangannya, muncul perbedaan sikap politik di internal organisasi. GMNI Cabang Medan menilai kehadiran Sujahri Somar dalam agenda pelantikan yang direncanakan pada 20 Februari 2026 tidak sejalan dengan kesepakatan awal yang dibangun pascakongres.

“Kehadiran tersebut kami anggap sebagai bentuk pengingkaran terhadap komitmen bersama yang sebelumnya telah disepakati,” tambahnya.

Selain itu, dinamika juga dipengaruhi oleh perbedaan dukungan terhadap struktur kepengurusan di tingkat cabang. Pihak cabang menilai keputusan yang diambil lebih mengedepankan kepentingan kelompok tertentu dibandingkan hasil konsolidasi bersama dengan Bakercab.

Di sisi lain, GMNI Cabang Medan menegaskan sikap politik dan ideologis mereka terhadap konflik yang terjadi. Mereka menilai dualisme kepemimpinan di tingkat pusat telah berdampak langsung terhadap soliditas organisasi di daerah.

“Kami menilai konflik ini memperuncing perpecahan di GMNI Medan dan bertentangan dengan semangat persatuan yang selama ini digaungkan,” tutupnya.

banner 325x300 banner 325x300
banner 120x600
  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *