Menu
Koneksi Informasi Pikiran Merdeka

Malang Menyala di Festival Mbois 11, Menteri Ekraf Soroti Potensi Besar Ekonomi Kreatif

  • Bagikan
Foto bersama Menekraf RI dengan Duta Budaya Kota Malang di Stadion Gajayana, Sabtu (22/8/2026) (Sukma, iKoneksi.com)
banner 468x60

Kota Malang, iKoneksi.com – Stadion Gajayana tak sekadar menjadi venue Festival Mbois 11. Gelaran yang berlangsung 21–23 Agustus 2026 itu juga menjadi contoh pemanfaatan fasilitas publik sebagai ruang pengembangan ekonomi kreatif (ekraf).

Menteri Ekonomi Kreatif (Menekraf), Teuku Riefky Harsya menilai, aktivasi Stadion Gajayana sebagai ruang kreatif menjadi langkah positif pada kunjungannya di hari kedua. Sebab, pengembangan ekraf tidak harus selalu bergantung pada gedung khusus yang sejak awal dibangun sebagai creative hub.

Menurutnya, fasilitas olahraga maupun ruang terbuka hijau juga dapat dioptimalkan untuk mendukung aktivitas para pelaku ekraf. Hal itu sekaligus membuka peluang bagi daerah lain untuk mengembangkan ekosistem kreatif dengan memanfaatkan fasilitas yang sudah tersedia.

“Jangan terhambat karena ruang kreatif. Ruang kreatif bisa dengan menggunakan fasilitas gedung olahraga seperti ini. Ruang terbuka hijau itu juga banyak, bisa diaktifkan,” ujarnya saat menghadiri Festival Mbois 11 di Stadion Gajayana, Sabtu (22/8/2026)

Dia mencontohkan keberadaan Malang Creative Center (MCC) yang telah menjadi salah satu simpul aktivitas ekonomi kreatif di Kota Malang. Dengan banyaknya program yang berjalan, keberadaan ruang kreatif dinilai masih perlu diperluas melalui pemanfaatan berbagai fasilitas lain.

“Dengan diaktifkannya creative hub seperti MCC dengan lebih dari 1.100 sampai 1.200 program per bulan itu sudah maksimal. Ternyata sekarang tidak cukup. Stadion Gajayana ini mau diaktifkan juga. Ini luar biasa dan ini bisa menjadi contoh daerah-daerah lain,” sebut dia.

Namun, aktivasi ruang saja dinilai belum cukup. Ekosistem ekraf membutuhkan kolaborasi lintas pihak.

“Pemerintah daerah, komunitas, pelaku usaha hingga berbagai pemangku kepentingan harus berjalan bersama untuk memberikan dukungan kepada para pegiat ekonomi kreatif,” terangnya.

Menteri Ekraf menyebut kekuatan ekonomi kreatif Indonesia juga bertumpu pada potensi budaya dan kearifan lokal yang dimiliki setiap daerah. Ketika potensi tersebut dipadukan dengan inovasi, kreativitas, serta teknologi, nilai ekonominya dapat semakin besar.

“Potensi akar budaya kita yang kuat di berbagai daerah dengan kearifan lokalnya masing-masing ketika disentuh dengan inovasi, kreativitas, dan teknologi, itu akan memberikan nilai tambah dan memberikan dampak ekonomi kepada masyarakat,” ungkap Harsya.

Ia menegaskan tak hanya soal pertumbuhan ekonomi, sektor ekraf juga dinilai memiliki peluang besar dalam membuka lapangan kerja. Berdasarkan data yang disampaikannya, terdapat sekitar 27,4 juta pekerja di sektor ekonomi kreatif. Sebanyak 63 persen di antaranya merupakan generasi Z dan milenial, sedangkan 58 persen merupakan perempuan.

“Di sisi lain, jumlah pengangguran di Indonesia disebut mencapai sekitar 7,5 juta orang. Sebanyak 82 persen di antaranya berasal dari kelompok generasi Z dan milenial,” beber dia.

Kondisi tersebut menunjukkan adanya peluang besar bagi sektor ekraf untuk menjadi salah satu alternatif dalam menekan angka pengangguran, khususnya di kalangan anak muda.

“Kalau sekarang lapangan pekerjaan yang diminati oleh Gen Z dan milenial adalah ke sektor ekraf, pengangguran yang terjadi mayoritas Gen Z dan milenial, sebetulnya sektor ekraf ini dapat menurunkan angka pengangguran terbuka di seluruh daerah,” tekan dia.

Kendati demikian, potensi tersebut membutuhkan dukungan bersama. Pemerintah pusat dan daerah, komunitas, asosiasi, media, pelaku bisnis, akademisi hingga lembaga keuangan dinilai memiliki peran penting dalam membangun ekosistem ekonomi kreatif yang berkelanjutan.

“Festival Mbois 11 sendiri menjadi salah satu wadah yang mempertemukan berbagai subsektor kreatif. Aktivasi Stadion Gajayana selama tiga hari diharapkan tidak hanya menghadirkan hiburan, tetapi juga menunjukkan bahwa ruang publik dapat dihidupkan menjadi bagian dari ekosistem ekonomi kreatif Kota Malang,” urainya.

“Dengan begitu, Stadion Gajayana tak hanya menjadi tempat berlangsungnya event. Fasilitas tersebut juga berpotensi menjadi ruang temu komunitas, pelaku kreatif, generasi muda, sekaligus pintu masuk bagi pengembangan ekonomi kreatif berbasis potensi lokal,” pungkas dia.

banner 325x300 banner 325x300
banner 120x600
  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *