Menu
Koneksi Informasi Pikiran Merdeka

Mendikdasmen Abdul Mu’ti Tegaskan Pemimpin Tak Boleh ‘Ghoib’

  • Bagikan
banner 468x60

Kota Batu, iKoneksi.com — Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Prof. Dr. Abdul Mu’ti memberikan pesan tajam dan menggugah kepada para calon kepala sekolah se-Indonesia. Dalam sambutannya saat membuka Pelatihan Bakal Calon Kepala Sekolah Tahap II di Balai Besar Guru dan Tenaga Kependidikan (BBGTK) Provinsi Jawa Timur, Kota Batu, Kamis (9/10/2025), Abdul Mu’ti menegaskan seorang pemimpin sejati tidak boleh menjadi “pemimpin ghoib” pemimpin yang tidak hadir di tengah-tengah yang dipimpinnya.

“Pemimpin itu ibarat imam dalam salat. Dia hadir saja, masalah sudah selesai,” tegas Abdul Mu’ti yang disambut tepuk tangan para peserta pelatihan.

Pemimpin Harus Hadir dan Memberi Teladan

Dalam pandangannya, kepemimpinan di sekolah bukan hanya soal jabatan administratif, tetapi soal kehadiran yang memberi inspirasi. Seorang kepala sekolah, kata Mu’ti, harus menjadi figur yang bisa dirasakan keberadaannya oleh guru, siswa, dan seluruh tenaga kependidikan.

Ia mengingatkan hadir secara fisik dan emosional adalah kunci untuk menciptakan lingkungan kerja yang sehat dan penuh semangat.

“Jangan sampai kepala sekolah justru tidak pernah hadir di sekolah, tidak tahu kondisi gurunya, tidak paham situasi muridnya. Itu bukan pemimpin, itu bayangan,” sindirnya lugas.

Menurutnya, prinsip kepemimpinan dalam pendidikan sejatinya sudah tertulis jelas dalam semboyan Ki Hajar Dewantara “Ing ngarso sung tulodo, ing madyo mangun karso, tut wuri handayani.”

Semboyan itu, kata Mu’ti, mengajarkan bahwa seorang pemimpin harus menjadi teladan di depan, penggerak di tengah, dan pemberi semangat di belakang.

“Jika seorang kepala sekolah mampu menjalankan tiga peran itu, maka sekolah akan hidup dan tumbuh,” sebutnya.

Pemimpin Berani, Bukan Sekadar Populis

Dalam bagian lain sambutannya, Abdul Mu’ti menegaskan seorang pemimpin juga harus berani mengambil keputusan, bahkan jika keputusan itu tidak populer. Keberanian, menurutnya, adalah bagian dari tanggung jawab moral seorang pemimpin yang sejati.

“Pemimpin itu tidak harus populis, tetapi harus berani mengambil risiko. Bahkan jika harus dibully atau dibui demi kebenaran, seperti yang dilakukan Sukarno dahulu,” kata Mu’ti, menegaskan nilai keberanian moral yang patut diteladani.

Baginya, kepemimpinan yang berani bukan hanya soal mengatur, tetapi soal berpegang pada prinsip kebenaran dan integritas.

Kepala sekolah yang baik, tegasnya, harus berani menegakkan disiplin, menjaga profesionalisme guru, serta memastikan seluruh kegiatan pembelajaran berjalan dengan mutu tinggi.

Guru Tak Tergantikan oleh Teknologi

Selain berbicara soal kepemimpinan, Mu’ti juga menyoroti pentingnya peran guru di tengah kemajuan teknologi. Ia menegaskan bahwa secanggih apa pun teknologi pembelajaran, kehadiran guru tidak bisa digantikan.

“Teknologi memang membantu menciptakan pembelajaran yang berkualitas, bermakna, dan menyenangkan. Tetapi guru tetap aktor utama dalam proses pendidikan,” bebernya.

Ia menyebut, guru bukan hanya pengajar, tetapi juga pembentuk karakter, moral, dan nilai kehidupan bagi peserta didik.

“Tugas guru adalah membentuk generasi yang beriman, bertakwa, berakhlak mulia, cerdas, terampil, mandiri, dan bertanggung jawab terhadap masyarakat, bangsa, dan negara,” sebutnya penuh semangat.

Karena itu, pelatihan calon kepala sekolah seperti ini, menurutnya, harus menjadi wadah untuk melahirkan pemimpin-pemimpin sekolah yang berjiwa pendidik, bukan sekadar pengelola administrasi.

Bukan Sekadar Seremoni, Tapi Gerakan Perubahan

Menutup sambutannya, Mu’ti mengingatkan bahwa kegiatan pelatihan tidak boleh berhenti sebagai rutinitas seremonial.

“Pelatihan ini harus menjadi arah baru kebijakan pendidikan kita. Pendidikan yang tidak hanya mengejar angka dan peringkat, tetapi membangun karakter dan kualitas manusia,” tegasnya.

Ia berharap, calon kepala sekolah yang mengikuti pelatihan ini dapat menjadi agent of change dan agent of civilization penggerak perubahan yang membawa nilai-nilai kemajuan dan peradaban dalam sistem pendidikan nasional.

Antusiasme Peserta Pelatihan di Kota Batu

Sementara itu, Kepala Balai Besar Guru Penggerak (BBGP) Provinsi Jawa Timur, Dr. Abu Khaer, M.Pd., menyampaikan rasa terima kasih dan kebanggaannya atas kehadiran Mendikdasmen. Menurutnya, kunjungan langsung dari menteri menjadi dorongan besar bagi peserta untuk lebih bersemangat.

“Beliau datang langsung dan memberikan motivasi yang luar biasa. Ini bukan hanya menyentuh akal, tapi juga menyentuh hati para calon pemimpin sekolah,” kata Abu.

Pelatihan tahap kedua ini diikuti 584 peserta dari berbagai jenjang pendidikan mulai dari TK, SD, SMP, hingga SMA/SMK/SLB. Kegiatan berlangsung dalam tiga tahap, yakni 17–26 September, 1–10 Oktober, dan 11–20 Oktober 2025. Selama 10 hari pelatihan, para peserta dibimbing untuk memperdalam kompetensi kepemimpinan, manajerial, hingga kemampuan pengambilan keputusan strategis.

“Dengan pesan kuat dari Mendikdasmen Abdul Mu’ti, pelatihan ini diharapkan melahirkan generasi kepala sekolah yang bukan hanya hadir di atas kertas, tapi benar-benar hadir di hati dan kehidupan warganya pemimpin yang nyata, bukan pemimpin ghoib,” tutup Abu. (04/iKoneksi.com)

banner 325x300 banner 325x300
banner 120x600
  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *