google.com, pub-7927405703202979, DIRECT, f08c47fec0942fa0

Ketua FABEM Sumut Soroti Krisis Moral, Desak Kurikulum Pancasila Dihidupkan

  • Bagikan
banner 468x60

Kota Medan, iKoneksi.com — Ketua Forum Badan Eksekutif Mahasiswa (FABEM) Provinsi Sumatera Utara, Rinno Hadinata, menegaskan pentingnya keseimbangan antara kecerdasan dan moral dalam dunia pendidikan. Pernyataan itu disampaikannya dalam siaran nasional RRI Pro 3 Jakarta pada Minggu (3/5/2026).

Dalam dialog bertema refleksi Hari Pendidikan Nasional, Rinno menyoroti hilangnya kurikulum berbasis nilai seperti Pendidikan Moral Pancasila (PMP) dan Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila (P4).

“Anak didik tidak cukup hanya cerdas. Mereka harus memiliki moral dan etika sebagai fondasi utama,” tegasnya.

Ia menilai, absennya pendidikan moral berbasis Pancasila menjadi salah satu celah dalam sistem pendidikan saat ini.

Era Digital 5.0, Moral Dinilai Kian Tergerus

Rinno menyoroti derasnya arus digitalisasi yang kini memasuki era 5.0 sebagai tantangan serius bagi generasi muda. Kemajuan teknologi dinilai tidak selalu sejalan dengan penguatan karakter. Ia mengingatkan, tanpa intervensi kurikulum berbasis nilai, generasi muda berpotensi kehilangan arah dalam menghadapi perubahan zaman.

“Jika cerdas tapi tidak bermoral, itu menjadi persoalan besar bagi masa depan bangsa,” ujarnya.

Ia pun mendorong Prabowo Subianto bersama jajaran kementerian terkait untuk menghidupkan kembali kurikulum berbasis nilai Pancasila.

Isu Pendidikan Dibahas di Hambalang, Harapan Perubahan Menguat

Menurut Rinno, dorongan tersebut sejalan dengan agenda pembahasan pendidikan dalam pertemuan Presiden bersama sejumlah pejabat negara di Hambalang pada 2 Mei 2026. Ia melihat momentum tersebut sebagai peluang untuk melakukan evaluasi menyeluruh terhadap arah kebijakan pendidikan nasional.

Penguatan pendidikan karakter dinilai harus berjalan seiring dengan perkembangan teknologi dan kebutuhan zaman.

“Ini momentum penting untuk mengembalikan arah pendidikan agar tidak hanya mengejar capaian akademik,” katanya.

Soroti Sertifikasi Guru dan Adaptasi Teknologi AI

Selain kurikulum, Rinno juga menyoroti persoalan tenaga pendidik, khususnya guru berstatus PPPK yang belum tersertifikasi. Ia meminta proses sertifikasi dipermudah dan lebih fokus pada kompetensi bidang yang dikuasai guru, bukan sekadar prosedur administratif yang panjang.

Di sisi lain, ia menekankan pentingnya adaptasi teknologi, termasuk kecerdasan buatan (AI), dalam metode pembelajaran dari tingkat dasar hingga menengah.

“Guru harus mampu beradaptasi dengan teknologi agar pembelajaran lebih relevan dengan kebutuhan zaman,” serunya.

Rinno berharap, kombinasi antara penguatan moral dan inovasi teknologi dapat menjadi fondasi baru pendidikan Indonesia ke depan.

banner 325x300banner 325x300
banner 120x600
  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *