google.com, pub-7927405703202979, DIRECT, f08c47fec0942fa0

Zendo: Harapan, Kenyataan, dan Tantangan di Dunia Ojol Muhammadiyah

  • Bagikan
banner 468x60

Yogyakarta, iKoneksi.com – Peneliti dari Universitas Gadjah Mada (UGM), Arif Novianto, baru-baru ini meluapkan kekecewaannya terhadap Zendo, layanan ojek online yang diinisiasi oleh Muhammadiyah. Lewat akun X-nya, Arif mengungkapkan harapannya yang tinggi terhadap Zendo, yang sempat ia anggap sebagai alternatif ojol yang dapat memberikan jaminan kesejahteraan bagi mitranya. Namun, kenyataannya, ia merasa Zendo tak berbeda jauh dengan layanan ojol lain yang selama ini dianggap problematik. Ia menyebut bahwa dari sistem kerja Zendo saja sudah bisa diprediksi bahwa para mitra akan diperlakukan tidak manusiawi, seperti yang terjadi pada banyak aplikasi ojol lainnya.

Pernyataan Arif segera mendapat respons dari Sekretaris Jenderal Serikat Usaha Muhammadiyah (SUMU), Ghufron Mustaqim. Ghufron menanggapi kritik tersebut dengan menyertakan testimoni dari para mitra Zendo di berbagai kota, yang merasa terbantu dengan adanya layanan ojol Muhammadiyah ini. Diskusi antara Arif dan Ghufron pun semakin memicu perdebatan yang melibatkan banyak komentar dari warganet, menjadikan masalah ini semakin riuh di dunia maya.

Sebagai bagian dari upaya untuk memahami langsung bagaimana layanan Zendo bekerja, penulis mencoba melakukan pemesanan melalui Zendo di Jogja pada Ahad (19/1/2025). Namun, yang membuat Zendo berbeda dengan aplikasi ojol lainnya adalah sistem pemesanan yang tidak menggunakan aplikasi berbasis ponsel, melainkan melalui WhatsApp. Sebuah cara yang, meskipun sederhana, menyisakan pertanyaan tentang seberapa efektif metode ini dalam memenuhi kebutuhan konsumen yang semakin bergantung pada kemudahan dan kecepatan.

Untuk memesan, penulis menghubungi admin Zendo Jogja yang dapat ditemukan melalui tautan di bio akun Instagram resmi Zendo Jogja. Setelah beberapa saat menunggu, admin memberi informasi bahwa estimasi waktu kedatangan driver adalah sekitar 20 menit. Padahal, jika menggunakan aplikasi ojol lain, estimasi waktu tempuh untuk mencapai titik penjemputan biasanya hanya sekitar 3 hingga 5 menit. Hal ini menimbulkan kebingungan, karena semula penulis mengira bahwa Zendo sudah tersebar luas di seluruh Yogyakarta, dan driver yang terdekat akan segera tersedia.

Kendati demikian, penulis tetap menunggu driver Zendo yang diperkirakan akan datang dalam waktu 30 menit. Ketika driver tiba, ia menjelaskan bahwa sulit bagi driver Zendo untuk menemukan penumpang di daerah seperti Ngaglik dan Sleman, yang tidak terlalu dekat dengan pusat kota. Driver yang mengantar penulis tersebut juga mengungkapkan meskipun Zendo menawarkan jaminan kesejahteraan bagi mitranya, ia kesulitan menemukan penumpang untuk mendapatkan penghasilan yang layak. Bahkan, untuk mendapatkan lima penumpang dalam sehari saja dirasa sangat sulit.

Ketika penulis memutuskan untuk mencoba memesan lagi pada sore harinya, hasilnya tak jauh berbeda. Admin Zendo menyatakan bahwa driver yang dapat dijangkau hanya yang telah mengantar pada pagi hari, dengan estimasi waktu penjemputan 30 menit. Ketika penulis meminta admin untuk mencari driver yang lebih dekat, jawabannya adalah tak ada lagi driver yang tersedia lebih dekat dari itu. Akhirnya, penulis membatalkan pesanan karena merasa tidak tega jika driver harus menempuh jarak jauh dengan fee yang sangat rendah. Dalam hal ini, sistem kerja Zendo yang tidak memadai membuat penulis berpikir bahwa model bisnis ini masih perlu banyak pembenahan.

Pengalaman ini menggugah penulis untuk merenungkan tantangan yang dihadapi Zendo sebagai ojol Muhammadiyah yang berambisi menjadi alternatif dari layanan ojol mainstream. Tentu saja, Zendo perlu melakukan sejumlah perbaikan, terutama dalam hal ketersebaran driver yang masih terbatas dan pengaturan tarif yang lebih realistis. Zendo juga perlu memberi informasi yang jelas kepada pengguna tentang cakupan area operasionalnya, agar tidak ada lagi kebingungannya di kalangan pelanggan yang mengharapkan pelayanan yang serupa dengan aplikasi ojol lainnya.

Zendo sejatinya memiliki potensi untuk menjadi layanan ojek online yang mengedepankan kesejahteraan mitra. Namun, jika tidak ada perbaikan dari segi infrastruktur, pengelolaan sumber daya, dan komunikasi yang lebih jelas, Zendo akan sulit berkembang menjadi solusi yang diharapkan oleh banyak orang, baik itu bagi mitra pengemudi maupun para penggunanya. Ke depan, semoga Zendo dapat terus mengembangkan sistem yang lebih efisien dan memadai, serta mampu memenuhi harapan yang lebih besar, baik dari sisi kualitas layanan maupun kesejahteraan bagi semua pihak yang terlibat. (04/iKoneksi.com)

banner 325x300banner 325x300
banner 120x600
  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *