google.com, pub-7927405703202979, DIRECT, f08c47fec0942fa0

Ngeri! Inflasi Sumut Tembus 4,35 Persen, Tempe Ikut Melambung

  • Bagikan
banner 468x60

Kota Medan, iKoneksi.com – Tekanan inflasi di Sumatera Utara kembali menunjukkan tren mengkhawatirkan. Pada Mei 2026, inflasi bulanan (month to month) tercatat mencapai 0,89 persen, sementara inflasi tahunan (year on year) menyentuh angka 4,35 persen atau melampaui target inflasi nasional yang ditetapkan Bank Indonesia di kisaran 2,5±1 persen.

Ekonom Sumatera Utara, Gunawan, menilai kenaikan harga sejumlah komoditas pangan dan kebutuhan rumah tangga menjadi faktor utama yang mendorong laju inflasi di wilayah tersebut. Komoditas cabai dan tomat masih menjadi penyumbang terbesar kenaikan harga sepanjang Mei 2026.

Menurutnya, kenaikan harga cabai lebih dipengaruhi oleh normalisasi harga setelah sebelumnya mengalami penurunan tajam pada April lalu. Sementara harga tomat melonjak akibat gagal panen yang terjadi di sejumlah sentra produksi di Kabupaten Karo.

“Tomat dan cabai masih menjadi penyumbang utama inflasi. Untuk tomat, faktor gagal panen menjadi pemicu utama kenaikan harga di pasar,” ucap Gunawan.

Namun, tekanan inflasi tidak hanya datang dari sektor pangan. Pelemahan nilai tukar rupiah turut memberikan dampak signifikan terhadap kenaikan harga berbagai kebutuhan rumah tangga, terutama barang-barang yang memiliki ketergantungan terhadap bahan baku impor.

“Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat kenaikan harga produk elektronik seperti laptop dan telepon seluler. Selain itu, kebutuhan rumah tangga nonpangan seperti perlengkapan mandi, pakaian, hingga berbagai produk konsumsi harian juga mengalami kenaikan harga dalam beberapa bulan terakhir,” sebut Gunawan.

Tempe Naik Harga, Tahu Alami Shrinkflation

Ia menyebutkan dampak pelemahan rupiah juga mulai dirasakan pada produk olahan kedelai. Gunawan mengungkapkan harga tempe mengalami kenaikan sekitar 20 persen dibandingkan sebelumnya. Sementara itu, produk tahu menunjukkan fenomena berbeda. Harga relatif tetap, namun ukuran produk yang dijual kepada konsumen semakin kecil atau dikenal dengan istilah shrinkflation.

“Saya menemukan harga tempe naik sekitar 20 persen. Untuk tahu, ukuran yang dijual lebih kecil dibandingkan sebelumnya. Ini menunjukkan adanya fenomena shrinkflation yang mulai terjadi di pasar,” katanya.

Menurutnya kenaikan harga plastik, biaya logistik, serta bahan baku produksi disebut turut memperburuk kondisi tersebut. Akibatnya, sejumlah kebutuhan rumah tangga diperkirakan akan bertahan pada level harga yang tinggi dalam jangka waktu cukup panjang.

Ancaman Cuaca dan Geopolitik Bayangi Harga Pangan

Di tengah tekanan ekonomi global, Sumatera Utara juga dihadapkan pada ancaman cuaca ekstrem dan ketidakpastian geopolitik internasional yang berpotensi memengaruhi harga pangan. Gunawan menilai dampak konflik geopolitik, termasuk gangguan rantai pasok global, berpotensi meningkatkan biaya produksi sektor pertanian dan distribusi pangan. Di sisi lain, ancaman fenomena El Nino yang diperkirakan semakin kuat pada paruh kedua 2026 berisiko memperbesar potensi gagal panen di sejumlah daerah.

Menurutnya, kombinasi faktor cuaca dan kondisi global tersebut dapat membuat harga pangan semakin sulit dikendalikan hingga akhir tahun.

“Potensi kenaikan harga pangan masih sangat terbuka. Faktor geopolitik dan cuaca menjadi dua variabel yang sulit diprediksi dan sangat memengaruhi kondisi inflasi ke depan,” tutur dia.

Pemerintah Diminta Bertindak Cepat

Melihat tingginya ketidakpastian ekonomi, Gunawan meminta pemerintah segera mengambil langkah mitigasi untuk menahan laju inflasi agar tidak semakin membebani daya beli masyarakat. Beberapa langkah yang dinilai perlu dilakukan antara lain memperkuat kerja sama antar daerah dalam distribusi pangan, memetakan wilayah rawan gagal panen, menambah pasokan komoditas strategis, hingga menyiapkan skema subsidi bagi daerah yang terdampak paling berat.

Ia menegaskan pengendalian inflasi hingga akhir tahun akan menjadi tantangan besar bagi pemerintah. Bahkan, dengan kondisi saat ini, dirinya pesimistis inflasi Sumatera Utara dapat ditekan sesuai target maksimal 3,5 persen yang ditetapkan Bank Indonesia.

“Tekanan inflasi masih menghantui hingga akhir 2026. Dengan berbagai faktor yang ada saat ini, saya melihat peluang inflasi turun ke target cukup berat untuk dicapai,” pungkasnya.

banner 325x300banner 325x300
banner 120x600
  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *