google.com, pub-7927405703202979, DIRECT, f08c47fec0942fa0

Akademisi UB Mengubah Secangkir Kopi Menjadi Gerbang Ekowisata Cerdas

  • Bagikan
banner 468x60

Kab Banyuwangi, iKoneksi.com – Menyeruput kopi langsung dari sumbernya kini bukan sekadar tren gaya hidup, melainkan menjadi jembatan inovatif yang menghubungkan edukasi, ekowisata, dan pengembangan ekonomi desa. Di tengah geliat industri kopi yang semakin mengglobal, muncul satu gebrakan dari tim lintas disiplin Universitas Brawijaya (UB) yang memadukan teknologi, budaya lokal, dan pelestarian lingkungan ke dalam satu konsep bernama kedai kopi digital.

Dipimpin oleh Prof. Luchman Hakim dari FMIPA UB, tim ini terdiri dari akademisi lintas fakultas seperti Dr. Candra Dewi (FILKOM), Dr. Edriana Pangestuti (FIA), Dr. Wenny Bekti S (FTP), serta mahasiswa dari berbagai bidang. Mereka menyasar desa-desa penghasil kopi di Jawa Timur, salah satunya Desa Secang, Kalipuro Banyuwangi, sebagai lokasi awal penerapan program yang mulai dijalankan sejak akhir 2024 dalam kerangka Program DIKST.

Dari Tanah Kebun ke Meja Kopi Digital

Inovasi ini bukan sekadar mendirikan kedai kopi biasa. Konsepnya lebih dalam menghadirkan pengalaman menyeluruh tentang kopi kepada wisatawan, mulai dari proses panen, pascapanen, hingga filosofi dan budaya lokal yang menyertainya. Di tengah lonjakan minat terhadap kopi dan café, Luchman menekankan pentingnya sinergi antar sektor.

“Di tengah meningkatnya industri kopi dan café, tantangan kita adalah mengintegrasikan teknologi informasi, hospitality, dan edukasi pascapanen dalam satu ekosistem,” ujarnya.

Kunci dari integrasi ini menurut Luchman adalah teknologi QR code yang ditanamkan pada setiap produk kopi. Melalui satu kali pemindaian, pengunjung langsung disuguhi informasi lengkap tentang kopi yang mereka nikmati: mulai dari jenis dan lokasi kebun, metode pemrosesan, hingga catatan rasa dan keanekaragaman hayati di sekitar perkebunan.

“Dengan ini, secangkir kopi berubah menjadi pintu masuk menuju narasi besar tentang ekosistem dan kearifan lokal,” sebut Luchman.

Dari Edukasi Menuju Kolaborasi

Tak berhenti pada teknologi, keberlanjutan menjadi kata kunci. Luchman mengungkapkan Tim UB secara aktif menggandeng komunitas dan kader lokal, mulai dari kelompok pemuda, petani, hingga pelaku pariwisata. Mereka diberikan pelatihan intensif dalam bidang interpretasi wisata, digitalisasi produk, dan pelayanan hospitality.

“Dukungan komunitas seperti Markas Ekoliterasi Merdeka dan Kembang Galengan menjadi contoh nyata bagaimana pendekatan kolaboratif mampu memperkuat akar program ini di masyarakat. Mereka sebelumnya telah dibekali keterampilan dalam membangun narasi wisata berbasis konservasi dan kini menjadi mitra aktif pengembangan kedai kopi digital,” ungkap Luchman.

Kopi Sebagai Sarana Edukasi Wisatawan

Uji coba yang dilakukan terhadap wisatawan asing di Kalipuro menunjukkan hasil yang menjanjikan. Rangkaian kegiatan seperti tur ke kebun kopi, pengamatan langsung proses pascapanen, dan sesi interaktif ngopi digital terbukti mampu meningkatkan daya tarik dan nilai tambah wisata desa.

“Kedai kopi digital ini bukan hanya tempat ngopi, tapi menjadi pintu masuk bagi wisatawan untuk mengenal kekayaan hayati dan budaya lokal,” kata Imron, pengelola Markas Ekoliterasi Merdeka.

Respons positif dari wisatawan ini menegaskan kopi bukan lagi sekadar komoditas, melainkan media edukatif dan pengalaman wisata yang kaya makna.

Menjawab Tantangan Masa Depan Pariwisata

Dengan pendekatan berbasis teknologi dan kearifan lokal, kedai kopi digital tidak hanya menghadirkan pengalaman baru dalam menikmati kopi, tetapi juga menjawab kebutuhan dunia pariwisata masa kini yang lebih sadar lingkungan dan berorientasi pada edukasi.

Para mitra pun disebutkan Luchman sepakat kedai kopi digital bisa menjadi model pengembangan desa wisata yang berkelanjutan. Selain membuka peluang ekonomi baru, konsep ini juga memperkuat literasi kopi masyarakat, membuka pasar baru, dan menjaga identitas budaya lokal.

“Program ini memberi harapan baru bagi desa-desa penghasil kopi di Jawa Timur, bahwa melalui kreativitas dan kolaborasi lintas sektor, kopi bisa menjadi motor penggerak utama transformasi ekonomi desa. Bukan sekadar komoditas, tetapi sebuah cerita, pengalaman, dan jalan menuju masa depan desa yang mandiri, hijau, dan berdaya,” pungkas Luchman. (04/iKoneksi.com)

banner 325x300banner 325x300
banner 120x600
  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *