google.com, pub-7927405703202979, DIRECT, f08c47fec0942fa0

Akademisi UMM: Jadi Influencer Tak Cukup Modal Konten Saja

  • Bagikan
banner 468x60

Kab Malang, iKoneksi.com – Dalam era digital yang kian mendominasi, fenomena menjadi influencer bukan lagi sekadar tren, melainkan profesi yang dianggap menjanjikan. Dari remaja hingga orang dewasa, semakin banyak yang berlomba-lomba membangun persona di media sosial dengan harapan bisa dikenal luas dan mendapatkan penghasilan dari konten yang mereka hasilkan. Namun, benarkah menjadi influencer semudah mengunggah foto, video, atau cerita setiap hari?

Jawabannya jelas: tidak. Hal itu ditegaskan oleh Arum Martikasari, dosen Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), dalam wawancara mendalam mengenai fenomena influencer yang terus berkembang di Indonesia. Menurutnya, kesuksesan seorang influencer bukan hanya soal viralitas, melainkan tentang konsistensi membangun kepercayaan dan kredibilitas di mata pengikutnya.

Persona dan Kredibilitas: Fondasi yang Tak Bisa Dilewatkan

Dalam paparannya, Arum menyebut modal utama menjadi seorang influencer adalah memiliki basis pengikut yang kuat serta kredibilitas yang tinggi dalam bidang tertentu. Hal ini tak bisa dicapai secara instan, melainkan perlu dibangun secara konsisten dan strategis.

“Langkah pertama adalah menentukan persona atau citra diri,” kata Arum.

Menurutnya, seseorang harus mampu mengidentifikasi kebiasaan, keahlian, atau minat yang bisa dikemas menarik dan autentik sebagai brand personal di media sosial. Persona ini bisa beragam, mulai dari pecinta kuliner, penggiat olahraga, pemerhati skincare, hingga aktivis lingkungan.

“Yang terpenting, persona tersebut harus bisa dipertahankan dan dikembangkan secara konsisten agar pengikut merasa terhubung dan percaya pada apa yang disampaikan,” sebut Arum.

Kunci Engagement: Jangan Hanya Mengunggah, Tapi Juga Menyapa

Banyak orang beranggapan bahwa menjadi influencer hanya soal punya banyak followers. Padahal, menurut Arum, jumlah pengikut yang besar hanyalah satu sisi dari koin. Sisi lainnya, yang sering dilupakan, adalah engagement yakni seberapa kuat keterlibatan antara influencer dan pengikutnya.

“Kalau hanya unggah konten lalu selesai, itu tidak cukup. Harus ada komunikasi dua arah,” katanya.

Arum menyarankan agar calon influencer membalas komentar, merespons pesan langsung (DM), atau bahkan sekadar mengucapkan terima kasih ketika pengikut membagikan kontennya. Pendekatan ini bukan hanya membangun hubungan emosional yang lebih dekat dengan audiens, tetapi juga meningkatkan algoritma keterlihatan konten di platform seperti Instagram, TikTok, atau YouTube.

“Singkatnya, semakin aktif interaksi, semakin besar peluang konten dilihat lebih banyak orang,” tutur Arum.

Konten Ideal Harus Sesuai Niche

Dalam membangun persona yang kuat, konten yang dibuat harus disesuaikan dengan niche atau segmen audiens yang ditarget.

“Konten ideal sangat bergantung pada siapa yang ingin dijangkau,” seru Arum.

Ia menambahkan seorang influencer harus mengenal siapa pengikutnya baik dari sisi usia, minat, hingga kebutuhan informasi mereka. Misalnya, jika persona yang dibangun adalah tentang gaya hidup sehat, maka konten yang dibuat harus konsisten seputar olahraga, nutrisi, kesehatan mental, hingga tips sederhana menjaga kebugaran.

“Tidak relevan jika tiba-tiba membahas hal yang sangat jauh dari persona tersebut karena dapat membingungkan pengikut,” tekan Arum.

Untuk menjaga konsistensi ini, Arum menyarankan agar para influencer menggunakan kalender konten, yakni jadwal yang mengatur kapan dan tema apa saja yang akan diunggah.

“Dengan begitu, kreativitas dapat tetap mengalir tanpa kehilangan arah.
Iklan Berbayar Bukan Satu-Satunya Jalan,” jelas Arum.

Menariknya, Arum menyebut bahwa ads atau iklan berbayar sebenarnya tidak terlalu penting untuk para influencer pemula. Menurutnya, membangun audiens secara organik jauh lebih berdampak jangka panjang karena menciptakan keterikatan emosional dan kepercayaan yang lebih kuat.

“Tidak ada hasil yang instan,” lugasnya.

Iklan memang bisa memperluas jangkauan, tetapi tidak menjamin audiens yang datang akan bertahan. Yang lebih penting adalah bagaimana strategi konten bisa menjangkau audiens secara tepat dan membangun hubungan berkelanjutan. Ia juga menekankan bahwa strategi bisa berubah seiring waktu. Platform sosial media pun memiliki algoritma yang terus berkembang.

“Karena itu, fleksibilitas dan kepekaan terhadap perubahan sangat penting bagi seorang influencer untuk bisa tetap relevan,” ucap Arum.

Etika: Fondasi Utama di Balik Popularitas

Di tengah semangat berkarya dan mengejar popularitas, Arum memberikan pesan penting yang tak boleh dilupakan oleh siapa pun yang ingin terjun ke dunia influencer: jaga etika dan adab bermedia sosial.

“Boleh berkarya sebanyak-banyaknya, eksplor ide seluas mungkin, tapi jangan pernah lupakan adab dan etika,” tegasnya.

Menurut Arum, seberapa pun cerdas dan kreatifnya seorang influencer, semua akan sia-sia bila tidak dibarengi dengan perilaku yang santun dan bertanggung jawab di ruang digital. Etika ini mencakup banyak hal: tidak menyebarkan hoaks, tidak mencuri konten orang lain, tidak mengeksploitasi isu sensitif hanya demi konten, serta menjaga komunikasi yang baik dengan pengikut.

Influencer, Profesi Penuh Tanggung Jawab

Fenomena influencer memang membuka banyak peluang, termasuk finansial, namun juga hadir dengan tanggung jawab besar. Bukan hanya soal konten menarik, tetapi juga tentang membangun kepercayaan, menjadi panutan, serta memengaruhi perilaku publik secara luas. Pesan Arum dari Universitas Muhammadiyah Malang menjadi refleksi penting di tengah maraknya keinginan menjadi influencer instan. Dunia digital tidak melupakan jejak. Popularitas yang dibangun tanpa dasar bisa runtuh kapan saja. Namun, kredibilitas yang dibangun dengan etika dan konsistensi akan terus dikenang dan memberi dampak positif yang lebih luas.

“Jadi, sebelum memulai langkah pertama menjadi influencer, ada baiknya bertanya pada diri sendiri: Apa nilai yang ingin saya bawa? Dan apakah saya siap bertanggung jawab atasnya?,” pungkas Arum. (04/iKoneksi.com)

banner 325x300banner 325x300
banner 120x600
  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *