google.com, pub-7927405703202979, DIRECT, f08c47fec0942fa0

Andreas Eddy Ajak Mahasiswa Widya Karya Rasakan Kehadiran Negara

  • Bagikan
banner 468x60

Kota Malang, iKoneksi.com — Suasana ruang pertemuan Universitas Katolik Widya Karya, Kamis (16/10/2025), tampak berbeda. Sejak pagi, puluhan mahasiswa dari berbagai fakultas duduk antusias mendengarkan pemaparan Anggota Komisi XI DPR RI, Andreas Eddy Susetyo, yang hadir untuk berdialog langsung dengan mereka. Dalam acara bertema “Merasakan Kehadiran Negara dalam Pendidikan Anak Bangsa”, Andreas mengajak generasi muda untuk memahami peran strategis negara dalam dunia pendidikan sekaligus menumbuhkan kesadaran bahwa mereka bukan sekadar penerima manfaat, tetapi bagian dari perubahan itu sendiri.

Andreas membuka dialog dengan pesan yang menohok Generasi muda bukan hanya pewaris masa depan, tapi penentu arah bangsa.

Menurutnya, peran mahasiswa dalam membangun Indonesia tidak berhenti di ruang kelas. Mereka adalah ujung tombak pembaruan ide, penggerak perubahan sosial, dan mitra negara dalam memastikan keadilan pendidikan.

“Generasi muda adalah generasi kreatif, kritis, dan generasi yang mau ikut terlibat. Negara hadir melalui kebijakan dan kesempatan seperti beasiswa dan program magang. Itu bentuk nyata kehadiran negara di tengah kalian,” tegasnya, disambut tepuk tangan mahasiswa.

Dalam kesempatan itu, Andreas menjelaskan berbagai program pemerintah yang dirancang untuk membuka akses pendidikan seluas-luasnya bagi anak bangsa, salah satunya Kartu Indonesia Pintar (KIP) Kuliah. Program ini, katanya, bukan sekadar beasiswa prestasi, tetapi bentuk nyata keadilan sosial agar setiap anak memiliki kesempatan yang sama menempuh pendidikan tinggi.

“KIP Kuliah membantu mahasiswa dari keluarga kurang mampu agar bisa kuliah tanpa memikirkan biaya SPP atau biaya hidup. Negara tidak boleh membiarkan potensi anak bangsa terhambat hanya karena faktor ekonomi,” ujarnya.

Selain KIP Kuliah, Andreas juga menyoroti peluang beasiswa pascasarjana seperti LPDP (Lembaga Pengelola Dana Pendidikan) yang dikelola Kementerian Keuangan, Beasiswa Unggulan Kemendikbud, dan Beasiswa Pendidikan Indonesia (BPI). Semua itu, menurutnya, menunjukkan keseriusan negara dalam menyiapkan sumber daya manusia unggul di berbagai bidang.

“Banyak dari kalian nanti akan menjadi pemimpin, pengusaha, birokrat, atau pendidik. Negara hadir dengan membuka jalur pendidikan setinggi-tingginya, tapi tanggung jawab untuk memanfaatkan kesempatan itu ada di tangan kalian,” tuturnya penuh semangat.

Andreas juga menyinggung peran DPR RI, khususnya Komisi X dan Komisi XI, yang memiliki mandat langsung dalam menyusun dan mengawasi alokasi anggaran pendidikan nasional. Ia menjelaskan bahwa setiap rupiah yang disalurkan dalam bentuk beasiswa maupun program pendidikan tidak boleh keluar dari koridor keadilan dan transparansi.

“DPR tidak hanya menyetujui anggaran, tapi juga mengawasi implementasinya. Kami ingin memastikan beasiswa sampai ke daerah-daerah, bukan hanya ke universitas besar di kota,” tegasnya.

Dalam sesi tanya jawab, beberapa mahasiswa mengajukan pertanyaan seputar pemerataan akses beasiswa hingga tantangan dunia kerja setelah lulus. Andreas menanggapinya dengan menekankan pentingnya program magang sebagai jembatan antara pendidikan dan dunia kerja. Ia menilai magang bukan sekadar formalitas akademik, melainkan proses transformasi mahasiswa menjadi warga produktif yang berpikir kritis dan bekerja kolaboratif.

“Lewat program seperti Magang Berdampak dari Kemendikbud, mahasiswa bisa belajar langsung di dunia industri, pemerintahan, atau lembaga sosial. Itu adalah bentuk nyata kolaborasi antara kampus dan negara dalam menyiapkan generasi yang siap bersaing,” jelas Andreas.

Dialog berlangsung hidup. Mahasiswa terlihat aktif mengajukan pertanyaan dan berbagi pengalaman. Beberapa di antaranya bahkan mengusulkan agar DPR memperkuat pengawasan terhadap distribusi beasiswa dan memperluas kesempatan magang lintas instansi.

Andreas menutup pertemuan dengan pesan reflektif. Ia mengingatkan bahwa peran negara dalam pendidikan tidak akan berarti jika generasi muda sendiri abai terhadap tanggung jawabnya.

“Negara sudah berusaha hadir. Tapi kehadiran itu akan nyata jika kalian juga mau hadir dalam semangat belajar, berjuang, dan berkontribusi,” terangnya disambut tepuk tangan panjang.

Dialog antara Andreas Eddy Susetyo dan mahasiswa Universitas Katolik Widya Karya bukan sekadar pertemuan formal. Ia menjadi ruang inspiratif yang menegaskan pendidikan adalah jantung keberlanjutan bangsa, dan generasi muda dengan seluruh daya pikir, ide, dan semangatnya adalah denyut yang membuatnya tetap hidup.

banner 325x300banner 325x300
banner 120x600
  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *