google.com, pub-7927405703202979, DIRECT, f08c47fec0942fa0

Peneliti FBiPK UB Temukan Spesies Baru Kumbang di Jepang

  • Bagikan
Dua spesies yang baru dilaporkan petama kali di Jepang. Panel kiri: Anisandrus auratipilus Smith, Beaver & Cognato, 2020. Panel kanan: Debus shoreae.
banner 468x60

Kota Malang, iKoneksi.com – Penelitian biodiversitas di Jepang membawa temuan baru bagi dunia entomologi. Peneliti Fakultas Bio-industri, Pertanian, dan Kehutanan Universitas Brawijaya (FBiPK UB), Yogo Setiawan, S.P., M.P., berhasil mendeskripsikan spesies baru kumbang kulit kayu.

Tak hanya satu spesies baru, penelitian tersebut juga mencatat dua spesies kumbang ambrosia yang sebelumnya belum pernah dilaporkan keberadaannya di Jepang. Temuan itu merupakan bagian dari penelitian doktoral Yogo di The United Graduate School of Agricultural Sciences, Kagoshima University, Jepang.

Spesies baru tersebut diberi nama Hyorrhynchus takakumaensis Setiawan, Hata & Smith, sp. nov. Nama takakumaensis merujuk pada lokasi ditemukannya spesies tersebut, yakni Takakuma Experimental Forest, kawasan hutan penelitian milik Kagoshima University di Pegunungan Takakuma, Prefektur Kagoshima.

Kumbang tersebut juga memiliki nama umum dalam bahasa Jepang, タカクマオオキクイムシ (Takakuma-ōkikuimushi).

Selain menemukan spesies baru, Yogo melaporkan dua spesies kumbang ambrosia yang sebelumnya belum tercatat di Jepang. Keduanya yakni Anisandrus auratipilus Smith, Beaver & Cognato, 2020 dan Debus shoreae (Stebbing, 1907).

Penemuan A. auratipilus menjadi catatan persebaran kedua di dunia. Spesies tersebut sebelumnya hanya diketahui dari Provinsi Fujian, Tiongkok. Sementara D. shoreae diketahui memiliki persebaran di kawasan tropis Asia Timur dan Asia Tenggara.

Temuan itu diperoleh setelah Yogo melakukan pengambilan sampel selama satu tahun, mulai musim panas 2024 hingga musim panas 2025. Pengambilan sampel dilakukan setiap dua minggu di Takakuma Experimental Forest untuk mencatat keanekaragaman sekaligus dinamika komunitas kumbang kulit kayu dan kumbang ambrosia.

“Saya melakukan pengambilan sampel selama satu tahun, mulai musim panas 2024 hingga musim panas 2025, sehingga mencakup empat musim,” ujar Yogo.

Dalam proses identifikasi, Yogo menemukan satu spesimen yang memiliki karakter morfologi berbeda dibandingkan spesies lain dalam genus Hyorrhynchus. Spesimen tersebut kemudian dikonsultasikan dengan ahli taksonomi kumbang ambrosia dari Michigan State University.

Identifikasi juga diperkuat melalui perbandingan dengan koleksi spesimen di sejumlah museum, termasuk National Agriculture and Food Research Organization (NARO) di Tsukuba, Jepang.

“Setelah berkonsultasi dengan ahli taksonomi di Michigan State University dan membandingkannya dengan koleksi di beberapa museum, kami menyimpulkan bahwa spesimen tersebut memang belum pernah dideskripsikan sebelumnya,” jelasnya.

Perbedaan utama spesies baru tersebut terlihat pada karakter morfologi epistoma. Bagian itu memiliki tanduk atau tuberkel berbentuk lebar. Selain itu, pola setae dan vestiture pada elitra juga berbeda dibandingkan spesies lain dalam genus Hyorrhynchus.

Sebelum temuan tersebut, genus Hyorrhynchus tercatat memiliki sepuluh spesies di dunia. Penemuan Yogo menambah jumlahnya menjadi sebelas spesies. Sementara catatan spesies Hyorrhynchus di Jepang bertambah dari dua menjadi tiga spesies.

Proses untuk memastikan status spesies baru itu tidak berlangsung singkat. Yogo harus melewati tahapan pengambilan sampel, identifikasi, konsultasi dengan pakar, perbandingan koleksi museum, hingga penyusunan deskripsi morfologi secara rinci.

Medan penelitian juga menjadi tantangan tersendiri. Pada musim dingin, penampung spesimen pada perangkap dapat membeku. Sementara saat musim panas, suhu di lokasi penelitian bisa mencapai 36 derajat Celsius dengan kondisi yang lembap.

Lokasi penelitian juga membutuhkan perjalanan cukup panjang. Yogo harus menempuh perjalanan menggunakan feri sekitar 45 menit, kemudian dilanjutkan perjalanan darat sekitar satu jam untuk mencapai kawasan penelitian.

Meski menghadapi berbagai kendala, hasil penelitian tersebut dinilai penting untuk memperkaya dokumentasi biodiversitas. Temuan itu sekaligus memperluas pengetahuan mengenai persebaran biogeografis kumbang kulit kayu dan kumbang ambrosia.

“Kumbang ambrosia berperan penting dalam dekomposisi kayu dan daur ulang unsur hara di hutan. Namun, beberapa spesies juga merupakan hama penting pada sektor kehutanan dan pertanian. Untuk itu, pendokumentasian keanekaragaman kelompok kumbang ini sangat penting,” tandas Yogo.

Penelitian tersebut merupakan hasil kolaborasi Kagoshima University, Saga University, Universitas Brawijaya, dan Michigan State University. Hasil penelitian telah dipublikasikan pada 14 Juli 2026 di jurnal internasional ZooKeys melalui artikel berjudul “A new species of Hyorrhynchus Blandford, 1894 (Coleoptera, Curculionidae, Scolytinae, Hyorrhynchini) and two new records of xyleborine ambrosia beetles from Japan”.

banner 325x300banner 325x300
banner 120x600
  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *