google.com, pub-7927405703202979, DIRECT, f08c47fec0942fa0

Enam Tahun Macapat Idol, Disdik Kota Batu Dorong Tembang Jawa Jadi Gerakan Pendidikan Karakter

  • Bagikan
banner 468x60

Kota Batu, iKoneksi.com – Enam tahun berjalan, Macapat Idol di Kota Batu mulai diarahkan tidak lagi sekadar menjadi ajang perlombaan seni tradisional. Dinas Pendidikan Kota Batu mendorong kegiatan tersebut berkembang menjadi ruang pendidikan karakter sekaligus gerakan pelestarian budaya Jawa di kalangan generasi muda.

Kepala Dinas Pendidikan Kota Batu, Mohammad Nur Adhim, menyampaikan hal itu setelah menghadiri workshop dan Technical Meeting (TM) Macapat Idol. Menurutnya, tembang macapat memiliki nilai pendidikan yang jauh lebih besar daripada sekadar kemampuan melantunkan tembang.

“Bagi kami, Macapat Idol bukan sekadar sebuah perlombaan untuk mencari siapa yang terbaik. Lebih dari itu, kegiatan ini merupakan bagian dari proses pendidikan karakter dan pelestarian budaya,” kata Nur Adhim kepada iKoneksi.com, Rabu (12/8/2026).

Macapat Tak Sekadar Tembang

Nur Adhim menilai, di balik tembang macapat terdapat nilai kehidupan, tata krama, budi pekerti, ketekunan, hingga kearifan lokal. Nilai-nilai tersebut dinilai relevan untuk ditanamkan kepada anak-anak di tengah perkembangan teknologi dan perubahan gaya hidup yang semakin cepat. Karena itu, peserta Macapat Idol diharapkan tidak berhenti pada kemampuan menyanyikan tembang. Mereka juga perlu memahami pesan dan makna yang terkandung dalam setiap tembang yang dibawakan.

Menurutnya, pemahaman tersebut penting agar generasi muda tidak hanya menjadi pelaku seni tradisi, tetapi juga memahami identitas budaya yang mereka warisi.

Enam Tahun Jadi Modal Naik Kelas

Setelah berlangsung selama enam tahun, Dinas Pendidikan Kota Batu berharap Macapat Idol memasuki tahap pengembangan berikutnya. Nur Adhim ingin peningkatan tidak hanya terlihat dari kualitas penyelenggaraan maupun jumlah peserta. Dampak kegiatan terhadap dunia pendidikan juga harus semakin kuat.

“Macapat hendaknya semakin dikenal dan diminati oleh peserta didik, sehingga anak-anak tidak hanya mampu melantunkan tembang, tetapi juga memahami makna dan nilai kehidupan yang terkandung di dalamnya,” sebut dia.

Ia berharap Macapat Idol dapat menjadi pintu masuk untuk menemukan sekaligus membina talenta muda di bidang seni dan budaya.

“Peserta yang memiliki potensi, termasuk para juara, diharapkan tidak berhenti berkarya setelah kompetisi berakhir. Mereka perlu mendapat ruang pembinaan, kesempatan tampil, serta dilibatkan dalam berbagai kegiatan seni dan budaya,” terang kepala Bapenda Kota Batu itu.

Sekolah Diminta Jadi Ruang Pelestarian

Dinas Pendidikan juga mendorong sekolah mengambil peran lebih besar dalam mengenalkan sastra, bahasa, dan seni tradisi Jawa kepada peserta didik. Namun, pendekatannya dinilai harus mengikuti karakter generasi muda saat ini. Teknologi dan media sosial justru dapat dimanfaatkan untuk memperkenalkan macapat secara lebih kreatif tanpa menghilangkan nilai serta jati diri budaya tersebut.

Bagi Nur Adhim, perkembangan zaman tidak semestinya membuat generasi muda semakin jauh dari akar budayanya. Karena itu, Macapat Idol diharapkan tidak berhenti sebagai agenda tahunan, melainkan berkembang menjadi ekosistem pembinaan seni tradisi yang melibatkan sekolah, peserta didik, pendidik, pelaku seni, dan pemerintah daerah.

Dari Ajang Lomba Menjadi Gerakan Budaya

Nur Adhim menegaskan, enam tahun penyelenggaraan Macapat Idol harus menjadi pijakan untuk melangkah lebih jauh.

“Dari sebuah lomba menjadi gerakan pelestarian budaya, dari mencari juara menjadi membangun generasi yang mencintai budayanya, dan dari panggung kompetisi menjadi ruang pendidikan karakter bagi anak-anak kita,” tekan dia.

Ia berharap Macapat Idol terus tumbuh, semakin berkualitas, dikenal masyarakat luas, serta menjadi salah satu kegiatan kebanggaan Kota Batu. Pada akhirnya, keberhasilan kegiatan tersebut bukan hanya diukur dari siapa yang menjadi juara. Ukuran yang lebih penting adalah seberapa jauh macapat mampu tetap hidup, dipahami, dan dicintai generasi muda.

“Nglestarekake budaya, ngukuhake karakter, lan nyiapake generasi kang bangga marang jati dhirine,” ungkapnya.

Bagi Dinas Pendidikan Kota Batu, semangat itulah yang ingin terus dibangun agar nilai-nilai luhur budaya Jawa tetap hidup dan diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.

banner 325x300banner 325x300
banner 120x600
  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *