google.com, pub-7927405703202979, DIRECT, f08c47fec0942fa0

Bangga Indonesia: Monopoli Budaya Anak Malang, Edukasi dan Peduli Sejak Dini

  • Bagikan
banner 468x60

Kota Malang, iKoneksi.com — Suasana The Cakra Ballroom di The Shalimar Boutique Hotel, Kota Malang, berubah menjadi ruang penuh warna, tawa, dan semangat nasionalisme pada Sabtu (26/7/2025). Sebuah pameran seni bertajuk “Bangga Indonesia” resmi dibuka sebagai bagian dari rangkaian Tong-Tong Night Market 2025. Namun bukan sekadar pameran biasa, kegiatan ini menghadirkan ide cemerlang yang memadukan edukasi, seni, dan kepedulian sosial lewat permainan monopoli budaya hasil karya anak-anak Indonesia.

Sebanyak 60 anak berusia 5 hingga 16 tahun berpartisipasi dalam pameran ini. Mereka menyajikan visualisasi budaya dari 38 provinsi dalam bentuk 22 lukisan akrilik, 12 lukisan teknik gouache, 18 lukisan watercolor, serta 8 karya digital. Semua karya tersebut dituangkan dalam bentuk papan permainan monopoli, sebuah media yang dekat dengan dunia anak-anak.

Yoga, kurator sekaligus penggagas acara, menjelaskan bahwa pemilihan monopoli bukanlah tanpa alasan.

“Permainan ini bersifat edukatif dan menyenangkan. Anak-anak bisa belajar mengenal budaya Indonesia sambil bermain. Mereka memilih budaya favorit dari berbagai provinsi, lalu memvisualisasikannya ke dalam desain yang unik dan penuh makna,” katanya saat pembukaan pameran.

Lebih dari sekadar ajang unjuk kreativitas, pameran ini juga menjadi momen untuk menanamkan nilai kepedulian sosial. Sebanyak 70 persen hasil penjualan karya akan disumbangkan kepada Yayasan Asmorobangun, sebuah lembaga pelestari seni dan kerajinan Topeng Malangan. Sebuah langkah nyata dari anak-anak untuk mendukung pelestarian budaya lokal sejak dini.

“Harapannya, sejak kecil mereka mengenal dan mencintai budaya bangsa. Karena jika sudah kenal dan cinta, maka akan muncul kepedulian untuk menjaga dan melestarikannya,” jelas Yoga.

Wali Kota Malang, Wahyu Hidayat, yang hadir dalam pembukaan pameran, memberikan apresiasi tinggi terhadap inisiatif ini. Baginya, pameran ini bukan hanya menghadirkan nilai estetika, tetapi juga memuat unsur pendidikan karakter dan pembentukan empati.

“Ini bentuk konkret pendidikan karakter yang kita harapkan. Anak-anak tidak hanya diajak berkarya, tapi juga belajar peduli terhadap sesama dan mencintai budayanya sendiri. Ini luar biasa,” kata Wahyu.

Pameran Bangga Indonesia akan berlangsung hingga 30 Juli 2025 dan terbuka untuk umum. Pengunjung tidak hanya dapat menikmati karya seni yang segar dan penuh warna, tetapi juga berkesempatan membeli versi cetak dari permainan monopoli budaya yang dibuat oleh anak-anak. Tak hanya itu, ruang donasi langsung kepada Yayasan Asmorobangun juga tersedia bagi masyarakat yang ingin mendukung pelestarian seni tradisional.

“Festival ini menjadi bukti pelestarian budaya bisa dilakukan dengan cara yang menyenangkan, edukatif, dan menginspirasi bahkan oleh tangan-tangan kecil yang baru mengenal dunia. Di tengah era digital dan globalisasi, semangat untuk mengenal jati diri bangsa justru bisa tumbuh subur di atas papan monopoli, melalui kuas-kuas kecil yang digerakkan oleh cinta anak-anak terhadap tanah air mereka. Pameran ini layak dikunjungi, bukan hanya karena keunikannya, tetapi juga karena pesan besar yang disuarakan: bangga menjadi Indonesia bisa dimulai sejak usia dini,” pungkas Wahyu. (04/iKoneksi.com)

banner 325x300banner 325x300
banner 120x600
  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *