google.com, pub-7927405703202979, DIRECT, f08c47fec0942fa0

Banyu Biru Ajak Warga Mojokerto Bumikan Pancasila

  • Bagikan
banner 468x60

Kab Mojokerto, iKoneksi.com – Suasana sejuk di Desa Claket, Kecamatan Pacet, Kabupaten Mojokerto, Rabu (11/6/2025), mendadak berubah menjadi ruang dialog kebangsaan yang hangat dan penuh semangat nasionalisme. Anggota Komisi VII DPR RI, Banyu Biru Djarot, hadir langsung untuk menggelar sarasehan dalam rangka memperingati Bulan Bung Karno. Acara yang mengusung tema Merajut Jiwa Nasionalisme dan Membumikan Pancasila ini tak hanya menjadi ajang seremonial, tetapi juga panggilan moral untuk memperkuat fondasi kebangsaan di tengah arus zaman yang terus berubah.

Puluhan warga dari berbagai kalangan memenuhi tempat acara. Tak hanya mendengarkan pidato, mereka juga ikut berdialog, menyampaikan aspirasi, dan berdiskusi tentang pentingnya nilai-nilai kebangsaan yang kini kerap tergerus oleh perkembangan teknologi dan tantangan globalisasi.

Empat Pilar MPR RI: Penyangga Utama Indonesia

Dalam sambutannya, Banyu Biru menekankan Empat Pilar MPR RI yakni Pancasila, UUD 1945, Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), dan Bhinneka Tunggal Ika adalah pondasi utama dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Menurutnya, pilar-pilar tersebut bukan sekadar simbol atau jargon politik, melainkan pedoman hidup yang harus diresapi dan dijalankan oleh setiap warga negara Indonesia.

“Empat pilar ini adalah penyangga utama keberlangsungan Indonesia. Jika salah satunya rapuh, maka bangunan kebangsaan kita bisa goyah,” tegas Banyu Biru dalam penyampaiannya.

Ia menambahkan, tugas MPR RI saat ini bukan hanya menjalankan fungsi legislasi, tetapi juga memastikan bahwa semangat kebangsaan tetap tertanam dalam benak rakyat, terutama generasi muda.

“Oleh sebab itu, sosialisasi Empat Pilar terus digencarkan di berbagai daerah, termasuk di pelosok desa seperti Claket, Mojokerto,” tutur Banyu Biru.

Menggali Semangat Bung Karno di Bulan Pancasila

Momentum Bulan Bung Karno bukan tanpa alasan dipilih untuk menggelar sarasehan. Bulan Juni adalah bulan penuh makna dalam sejarah Indonesia. Di bulan inilah Proklamator sekaligus Bapak Bangsa, Ir. Soekarno, lahir dan menyampaikan pidato bersejarah tentang dasar negara yang kemudian menjadi Pancasila.

Banyu Biru mengajak masyarakat untuk tidak hanya mengagungkan Bung Karno sebagai tokoh sejarah, tapi juga menghidupkan kembali ajaran dan semangatnya di kehidupan sehari-hari.

“Pancasila bukan hanya dihafal, tapi dijalani. Kita harus mempraktekkannya dalam perilaku sosial, gotong royong, menghargai perbedaan, dan menjunjung tinggi keadilan,” ucapnya.

Nasionalisme di Tengah Ancaman Disintegrasi

Dalam forum sarasehan, muncul pula berbagai pertanyaan dari peserta, mulai dari isu kebhinekaan yang mulai luntur, polarisasi politik, hingga tantangan menjaga persatuan dalam era media sosial yang kerap memperuncing perbedaan. Banyu Biru menanggapi dengan lugas bahwa nasionalisme saat ini sedang diuji.

“Kita menghadapi era di mana hoaks dan ujaran kebencian bisa memecah belah bangsa. Empat pilar ini menjadi penawar, menjadi kompas moral agar kita tidak tersesat,” tegasnya.

Ia juga mendorong para pemuda untuk menjadi agen perubahan, bukan sekadar penonton. Generasi muda, menurutnya, harus berani tampil sebagai penjaga nilai-nilai Pancasila di tengah derasnya arus global.

Bumikan Pancasila, Jangan Biarkan Jadi Wacana Elit

Pesan penting yang digaungkan Banyu Biru dalam sarasehan ini adalah bagaimana membawa Pancasila turun dari langit konsep dan jargon politik, menjadi perilaku nyata di masyarakat.

“Kita tidak ingin Pancasila hanya jadi slogan atau sekadar dihafalkan anak sekolah. Ia harus hidup dalam keseharian: dalam cara kita berbicara, bekerja, bermasyarakat,” katanya.

Membumikan Pancasila bukan tugas pemerintah semata, melainkan tanggung jawab kolektif seluruh rakyat. Karenanya, acara semacam ini penting untuk membuka ruang diskusi, memberi pemahaman yang benar, dan membangun kesadaran bahwa bangsa ini berdiri di atas nilai-nilai luhur yang harus terus dijaga.

Menatap Masa Depan dengan Fondasi yang Kokoh

Sarasehan ini menjadi pengingat bahwa di tengah tantangan zaman, bangsa Indonesia tidak boleh kehilangan arah. Empat pilar MPR RI harus menjadi pegangan utama untuk melangkah ke depan dengan tegak, bukan terombang-ambing oleh isu-isu yang mengancam persatuan.

Dengan kegiatan seperti ini, Banyu Biru tidak hanya menjalankan tugas konstitusional sebagai anggota DPR RI, tetapi juga meneguhkan kembali peran wakil rakyat sebagai penyambung nilai antara negara dan masyarakat. Ia menutup acara dengan harapan bahwa dari desa seperti Claket inilah semangat kebangsaan bisa kembali menyala, menjalar, dan memperkuat Indonesia dari akar rumput. (04/iKoneksi.com)

banner 325x300banner 325x300
banner 120x600
  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *