google.com, pub-7927405703202979, DIRECT, f08c47fec0942fa0

Bayu Fast Track, Raih Wisudawan Terbaik Pascasarjana UB

  • Bagikan
banner 468x60

Kota Malang, iKoneksi – Prestasi membanggakan kembali diraih mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Brawijaya. Endrianto Bayu Setiawan, mahasiswa Program Studi Magister Ilmu Hukum (MIH) Fakultas Hukum Universitas Brawijaya, dinobatkan sebagai Wisudawan Terbaik Pascasarjana Universitas Brawijaya pada Wisuda Periode 13 Tahun Akademik 2025/2026. Ia menyelesaikan studi melalui jalur fast track dengan Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) sempurna, 4.00.

Mahasiswa yang akrab disapa Bayu ini memulai perjalanan akademiknya di FH UB sebagai mahasiswa Sarjana Ilmu Hukum angkatan 2020. Sejak awal kuliah, ia telah menetapkan peta pendidikan jangka panjang hingga jenjang doktoral.

“Saat jadi mahasiswa baru, saya pernah membuat life mapping. Salah satu isinya adalah target untuk bisa kuliah sampai jenjang paling tinggi, S3. Dari situ saya berpikir untuk memanfaatkan peluang fast track agar target tersebut bisa tercapai,” ungkap Bayu.

Keputusan menempuh jalur fast track, menurutnya, didasari pertimbangan efisiensi sekaligus kesinambungan minat pada riset hukum.

“Fast track menurut saya sangat worth it karena efisiensi waktu dan biaya. Selain itu, saya memang tertarik di bidang riset hukum, sehingga ada keberlanjutan riset yang lebih mendalam ketika melanjutkan ke magister,” jelasnya.

Selama menjalani studi sarjana hingga magister, Bayu aktif mengikuti perkuliahan, kompetisi hukum, serta kegiatan riset dan penulisan ilmiah. Aktivitas tersebut justru membantu dirinya beradaptasi dengan dinamika akademik.

“Banyaknya kegiatan riset dan menulis justru membuat saya merasa lebih mudah melalui berbagai dinamika perkuliahan,” ujarnya.

Untuk meraih IPK 4.00 di jenjang magister, Bayu menerapkan disiplin akademik yang konsisten. Ia menekankan pentingnya keterlibatan aktif di kelas dan ketekunan dalam membaca serta menulis.

“Bagi saya, agar kuliah hukum berjalan lancar, ada tiga kunci yang harus dilatih, yaitu kemampuan membaca, menulis, dan berbicara. Ketiganya sangat menentukan selama proses studi,” tuturnya.

Ia juga menilai lingkungan akademik FH UB berperan besar dalam menunjang proses belajarnya.

“Atmosfer akademik di FH UB sangat mendukung. Dosen-dosennya mudah diajak diskusi, fasilitasnya memadai, mulai dari layanan pemeriksaan plagiasi, buku-buku di PDIH, hingga akses jurnal internasional. Semua itu sangat membantu kelancaran studi saya,” katanya.

Meski demikian, Bayu mengakui jalur fast track menghadirkan tantangan tersendiri. Perbedaan tuntutan akademik antara S1 dan S2 menjadi ujian utama, terutama dalam penulisan artikel ilmiah.

“Tantangan terberat tentu dari atmosfer tugas-tugas kuliah yang jauh berbeda dengan S1. Di S2, kami dituntut lebih serius, terutama dalam menyusun artikel ilmiah jurnal. Apalagi syarat kelulusan harus publikasi di jurnal terakreditasi Sinta 2, sehingga persiapannya harus jauh-jauh hari. Bahkan saya menyiapkan artikel jurnal itu satu tahun sebelum target lulus,” jelasnya.

Di tengah tekanan akademik, Bayu tetap menjaga keseimbangan fisik dan mental.

“Kalau sudah jenuh, biasanya saya obati dengan ngopi dan nongkrong bersama teman-teman, atau olahraga ringan seperti jogging dan bulutangkis. Intinya, meski tuntutannya tinggi, kita tetap harus sadar untuk menjaga kesehatan fisik dan mental,” ujarnya.

Saat diumumkan sebagai wisudawan terbaik, Bayu mengaku terkejut sekaligus bersyukur.

“Saya tentu sangat senang dan bersyukur. Apresiasi ini menjadi pemicu agar ke depan saya terus mengusahakan yang terbaik dan tidak berhenti belajar,” ungkapnya.

Capaian tersebut, lanjut Bayu, dimaknai sebagai dorongan untuk terus mengembangkan diri.

“Prinsip hidup saya adalah lifelong learner. Saya harus terus belajar kapan pun dan di mana pun, tidak hanya sekarang tetapi juga di masa depan,” katanya.

Kepada mahasiswa FH UB yang berminat mengikuti fast track, Bayu berpesan agar mempersiapkan diri secara matang dan menjaga komitmen.

“Adik-adik tidak perlu takut atau khawatir. Kunci agar studi fast track berjalan lancar sangat tergantung pada komitmen dan ambisi yang konsisten serta totalitas. Kalau mau menempuh fast track, harus well prepared dan tahan banting,” pesannya.

Ia juga menekankan pentingnya komunikasi dengan pihak akademik.

“Manfaatkan setiap waktu yang ada dan kalau ada masalah, meskipun kecil, tetap perlu dikomunikasikan dengan pihak Akademik Fakultas, terutama Kaprodi,” tambahnya.

Menurut Bayu, keberhasilan studi pascasarjana sangat ditentukan oleh target dan strategi yang dirancang sejak awal.

“Sebelum S2, atau paling tidak di awal semester, kita harus punya target studi, strategi, dan rencana capaian. Sehingga S2 tidak hanya sekadar belajar di kelas dan mendapatkan nilai, tetapi benar-benar memberi dampak dan meng-upgrade kapasitas diri,” jelasnya.

Ia mengingatkan, mahasiswa pascasarjana perlu memiliki nilai pembeda agar mampu bersaing.

“Yang sedang menempuh S2 itu bukan hanya kita. Di kampus lain juga banyak. Karena itu, kita harus menemukan hal pembeda agar proses studi S2 menjadi kesempatan yang benar-benar meaningful untuk terus berkembang,” pungkasnya.

banner 325x300banner 325x300
banner 120x600
  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *