google.com, pub-7927405703202979, DIRECT, f08c47fec0942fa0

Beras 5 Kg Langka di Malang, Pasar Kian Sepi

  • Bagikan
banner 468x60

Kota Malang, iKoneksi.com – Kelangkaan beras medium kemasan 5 kilogram (kg) melanda Kota Malang, Jawa Timur, dan mulai menimbulkan keresahan di kalangan pedagang maupun konsumen. Kondisi ini terpantau di Pasar Bunulrejo, salah satu pusat perdagangan beras terbesar di kota tersebut. Pedagang mengaku penjualan anjlok tajam, sementara pasar semakin sepi pembeli.

Wahyudi, pedagang beras yang sudah bertahun-tahun berjualan di Pasar Bunulrejo, tak bisa menyembunyikan keresahannya. Ia menuturkan bahwa stok beras medium kemasan 5 kg semakin hari semakin menipis.

“Beras kemasan 5 kg semakin langka,” tegasnya kepada iKoneksi.com, Selasa (26/8/2025).

Menurutnya, kelangkaan ini sudah terjadi sejak beberapa pekan terakhir. Jika sebelumnya ia mampu menyimpan stok hingga 4 ton dengan sekitar 18 merek beras lokal, kini lapaknya hanya menyisakan 500 kg. Jumlah itu pun cepat habis karena permintaan konsumen tetap tinggi.

Pasokan Tak Sesuai Permintaan

Wahyudi mengaku kesulitan saat memesan barang ke pemasok. Permintaan besar seringkali hanya dipenuhi sebagian kecil. “Saya pesan 20 kemasan 5 kg, hanya dikirim 5 sak. Kirimnya pun dua minggu sekali,” keluhnya.

Satu-satunya merek yang masih datang dari pabrik adalah beras Belitung. Harganya dipatok Rp76.000 per 5 kg, dan pedagang terpaksa menjualnya kepada konsumen seharga Rp80.000. Harga ini dirasa cukup tinggi bagi sebagian pembeli, apalagi jika dibandingkan dengan produk substitusi yang disediakan pemerintah.

Peran Bulog dan Kehadiran Beras SPHP

Dalam kondisi darurat, Bulog Malang menyalurkan beras Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP). Supriyono sendiri mendapat jatah 2 ton. Namun, alih-alih menjadi solusi, beras SPHP justru kurang diminati pembeli.

Harga kulakan beras SPHP dari Bulog sebesar Rp57.000 per 5 kg (naik dari Rp56.500), lalu dijual di pasar seharga Rp60.000. Sayangnya, beras ini tidak laris karena warga lebih memilih membeli langsung di kantor kelurahan yang menjual lebih murah, yakni Rp55.000 per 5 kg.

“Pasar makin sepi. Konsumen sudah terbiasa membeli beras komersial, bukan SPHP. Apalagi di kelurahan dijual lebih murah. Jadinya pedagang seperti kami makin rugi,” ungkap Wahyudi.

Ia bahkan merasa masyarakat “dipaksa” beralih ke beras SPHP meski banyak yang kurang menyukainya.

“Harapan saya, pemerintah memberikan solusi agar beras komersial gampang diperoleh. Jangan hanya mengandalkan SPHP,” pintanya.

Pemerintah Turun Tangan

Merespons kondisi ini, Kepala Dinas Koperasi, Perindustrian, dan Perdagangan (Diskopindag) Kota Malang, Eko Sri Yuliadi, menyatakan pihaknya telah melakukan pengecekan langsung ke pasar. Hasil pemantauan menunjukkan stok beras medium benar-benar kosong, sementara beras premium justru mengalami kenaikan harga hingga Rp1.000 per kg.

Menurut Eko, penyebab utama kelangkaan beras medium kemasan 5 kg adalah isu beras oplosan yang sempat mencuat. Imbasnya, banyak produsen memilih menghentikan sementara produksi beras medium dalam kemasan tersebut.

“Produsen berhenti produksi, pasar pun kehabisan stok. Ini yang membuat situasi semakin pelik,” jelasnya.

Pasar yang Semakin Sunyi

Menurut Wahyudi situasi kelangkaan ini membuat suasana pasar di Malang semakin lengang. Pedagang mengeluh omzet turun drastis karena pembeli enggan datang. Para konsumen pun mengaku kesulitan mendapatkan pilihan beras yang sesuai dengan kebiasaan mereka.

“Kondisi ini menciptakan dilema: pedagang dirugikan karena stok berkurang, konsumen terbatas pilihannya, sementara harga beras premium semakin melambung,” terang Wahyudi.

Desakan Solusi Nyata

Wahyudi dan para pedagang lain berharap pemerintah segera turun tangan dengan langkah nyata, bukan sekadar menyalurkan beras SPHP. Menurutnya, keberadaan beras komersial yang sudah akrab dengan lidah masyarakat tetap dibutuhkan.

“Kalau begini terus, lama-lama pasar bisa makin ditinggalkan,” sebut Wahyudi.

Kelangkaan beras medium 5 kg di Kota Malang ini bukan hanya persoalan logistik, tetapi juga menyangkut keberlangsungan pasar tradisional dan kesejahteraan pedagang kecil.

“Tanpa intervensi yang tepat, masalah ini bisa merembet ke aspek lain, termasuk inflasi pangan di tingkat lokal,” tukas Wahyudi. (05/iKoneksi.com)

banner 325x300banner 325x300
banner 120x600
  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *