google.com, pub-7927405703202979, DIRECT, f08c47fec0942fa0

BI Tetap Responsif Atasi Tekanan Rupiah terhadap Dolar

  • Bagikan
banner 468x60

Jakarta, iKoneksi.com – Perry Warjiyo, Gubernur Bank Indonesia (BI), mengungkapkan tekanan besar yang dihadapi nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (USD), yang terjadi setelah dimulainya perang tarif dagang yang diumumkan oleh Presiden AS Donald Trump pada awal April 2025. Dalam konferensi pers yang digelar pada Rabu, (23/4/2025), Perry menjelaskan dengan rinci bagaimana kebijakan tarif resiprokal yang diberlakukan oleh Amerika Serikat memengaruhi pasar valuta asing Indonesia, yang pada saat itu membuat nilai tukar rupiah tertekan di pasar non-delivery forward (NDF) luar negeri.

Dampak Perang Tarif Dagang terhadap Nilai Tukar Rupiah

Perang tarif dagang yang dimulai dengan pengumuman Presiden Trump pada April 2025 menyebabkan lonjakan ketegangan di pasar global, dan Indonesia tidak luput dari dampaknya. Perry mengungkapkan akibat kebijakan tarif resiprokal yang diterapkan AS, nilai tukar rupiah di pasar offshore, seperti di Hong Kong dan Eropa, sempat menyentuh angka yang sangat tinggi, yakni Rp 17.300 hingga Rp 17.400 per dolar AS. Angka ini, menurut Perry, menjadi titik terendah bagi rupiah di pasar global selama beberapa minggu.

“Kondisi ini terjadi di pasar NDF luar negeri yang sangat memengaruhi stabilitas nilai tukar kita,” ujar Perry.

“Keadaan ini jelas menambah kekhawatiran mengenai dampak lanjutan terhadap perekonomian Indonesia, mengingat fluktuasi nilai tukar yang tajam bisa mengganggu sektor-sektor yang bergantung pada kestabilan nilai rupiah,” lanjut Perry.

Tindakan Cepat BI: Intervensi di Pasar Offshore

Menyadari pentingnya menjaga stabilitas nilai tukar rupiah, Bank Indonesia segera mengambil tindakan cepat meski Indonesia tengah memasuki masa libur panjang Lebaran 2025. Pada (7/4/2025), meskipun tengah memasuki masa libur, Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia tetap digelar untuk menanggapi perkembangan yang terjadi. Perry menegaskan bahwa keputusan untuk melakukan intervensi langsung di pasar NDF luar negeri diambil untuk meredam tekanan terhadap rupiah yang semakin kuat.

“Selama libur Ramadan, kami melihat kebijakan resiprokal yang diterapkan semakin tinggi dan memberikan tekanan yang besar terhadap nilai tukar rupiah di pasar NDF luar negeri,” kata Perry.

“Oleh karena itu, kami memutuskan untuk melakukan intervensi dengan cara yang berkesinambungan di berbagai pasar utama seperti di Hong Kong, Eropa, dan Amerika Serikat, secara around the clock,” tegas Perry, menggambarkan betapa intensnya upaya yang dilakukan oleh BI untuk menjaga stabilitas rupiah.

Hasil Positif dari Intervensi Bank Indonesia

Upaya Bank Indonesia untuk melakukan intervensi tersebut ternyata membuahkan hasil yang positif. Setelah langkah tersebut diambil, nilai tukar rupiah mulai mengalami stabilisasi. Perry menyatakan bahwa pada akhirnya, nilai tukar rupiah bisa kembali berada pada level yang lebih stabil, yakni Rp 16.800 per dolar AS, setelah melewati tekanan besar tersebut.

“Alhamdulillah, sekarang nilai tukar rupiah stabil di Rp 16.800, dan kami akan terus melakukan langkah-langkah stabilisasi untuk menjaga keberlanjutan ekonomi Indonesia,” ucap Perry dengan penuh keyakinan.

Perry juga menambahkan Bank Indonesia akan terus memantau perkembangan kondisi global dan melakukan intervensi jika diperlukan, guna menjaga agar nilai tukar rupiah tetap berada dalam kisaran yang wajar dan stabil.

Komitmen Bank Indonesia untuk Perekonomian Nasional

Perry menekankan stabilitas nilai tukar rupiah adalah bagian dari upaya Bank Indonesia dalam menjaga keseimbangan perekonomian nasional. BI, menurutnya, berkomitmen untuk terus mengoptimalkan kebijakan moneter guna memperkuat posisi Indonesia di pasar global dan mendukung pertumbuhan ekonomi domestik. Selain itu, BI juga terus berupaya menjaga inflasi, mendorong investasi, serta memperkuat sektor perbankan dalam rangka mencapai tujuan pembangunan ekonomi yang berkelanjutan.

“Dalam menghadapi ketidakpastian global, Bank Indonesia berkomitmen untuk tetap responsif dan melakukan langkah-langkah yang diperlukan demi menciptakan stabilitas makroekonomi yang mendukung kesejahteraan rakyat Indonesia. Melalui intervensi yang tegas dan terukur, Bank Indonesia menunjukkan peranannya sebagai pengendali yang handal dalam menjaga kestabilan sistem keuangan dan nilai tukar rupiah di tengah gejolak pasar global,” tandas Perry. (04/iKoneksi.com)

banner 325x300banner 325x300
banner 120x600
  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *