google.com, pub-7927405703202979, DIRECT, f08c47fec0942fa0

Bullying di Kota Pendidikan, DPRD Kota Malang Desak Evaluasi Sistem Sekolah

  • Bagikan
banner 468x60

Kota Malang, iKoneksi.com – Kasus perundungan atau bullying kembali mencoreng wajah Kota Malang yang selama ini dikenal sebagai “Kota Pendidikan.” Insiden terbaru yang terjadi di SMP Negeri 28 Malang menimbulkan keprihatinan mendalam dari berbagai kalangan, termasuk Ketua Komisi D DPRD Kota Malang, Eko Herdiyanto. Ia menilai peristiwa ini bukan hanya persoalan perilaku siswa semata, melainkan juga refleksi dari lemahnya sistem pendidikan dalam membentuk karakter dan etika peserta didik.

“Ini sangat memprihatinkan. Kota Malang yang dikenal sebagai Kota Pendidikan seharusnya menjadi contoh dalam membangun lingkungan belajar yang aman, beradab, dan penuh rasa hormat. Kalau kasus seperti ini masih terjadi, berarti ada yang harus segera kita evaluasi bersama,” tegas Eko saat dikonfirmasi iKoneksi.com melalui WhatsApp, Sabtu (18/10/2025).

Eko menyebut, kasus bullying di sekolah-sekolah menjadi alarm serius yang menandakan adanya krisis moral dan empati di kalangan pelajar. Ia menilai bahwa perundungan bukanlah masalah individu, melainkan gejala sosial yang harus diatasi secara sistemik. Menurutnya, sekolah tidak cukup hanya berfokus pada capaian akademik, tetapi juga harus memperkuat pendidikan karakter, pengawasan psikologis, dan budaya saling menghargai di lingkungan belajar.

“Anak-anak sekarang tumbuh di era digital yang serba cepat. Banyak hal yang mereka serap dari media sosial, dari lingkungan luar sekolah, dan kadang tidak semuanya positif. Maka, sekolah perlu hadir bukan hanya sebagai tempat belajar, tapi juga sebagai ruang pembentukan moral dan empati,” jelasnya.

Eko menegaskan, DPRD Kota Malang akan mendorong evaluasi menyeluruh terhadap sistem pendidikan di kota ini. Ia juga menyerukan kolaborasi lintas sektor antara Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dikbud) Kota Malang, pengawas sekolah, pemerhati pendidikan, hingga kalangan akademisi untuk merumuskan langkah konkret dalam mencegah kasus serupa terulang.

“Harus ada langkah konkret dan berkelanjutan. Kami akan berkoordinasi dengan stakeholder terkait seperti Dikbud, para pemerhati pendidikan, MKKS (Musyawarah Kerja Kepala Sekolah), dan juga kalangan akademisi. Kita perlu duduk bersama mencari solusi yang tidak hanya memadamkan api, tapi juga mencegah percikan kecil yang bisa memicu kebakaran serupa di masa depan,” tutur sekretaris DPC PDIP Kota Malang itu.

Ia juga menilai perlunya pembaruan dalam pola pembinaan guru dan tenaga pendidik agar lebih peka terhadap gejala-gejala awal terjadinya perundungan di sekolah. Menurutnya, banyak kasus yang sebenarnya bisa dicegah jika lingkungan sekolah memiliki sistem pengawasan dan pelaporan yang efektif.

“Guru harus punya kepekaan sosial. Jangan sampai anak-anak merasa takut, tertekan, atau tidak berani bicara ketika menjadi korban. Sekolah harus menjadi rumah kedua yang aman bagi mereka,” sebutnya.

Fenomena bullying di sekolah, lanjut Eko, sering kali berakar dari budaya kompetisi yang tidak sehat, tekanan sosial, hingga kurangnya keteladanan dari orang dewasa di sekitar anak. Ia mengingatkan bahwa membangun karakter pelajar bukan hanya tanggung jawab sekolah, tetapi juga keluarga dan masyarakat luas.

“Ini tugas bersama. Orang tua, guru, masyarakat semua punya peran. Kalau kita hanya menyalahkan siswa, masalah tidak akan selesai. Kita perlu memperkuat ekosistem pendidikan yang saling mendukung, bukan saling menekan,” tekannya.

Eko juga meminta agar Dinas Pendidikan melakukan pendampingan psikologis bagi korban bullying agar tidak menimbulkan trauma berkepanjangan. Ia menilai, pemulihan korban sama pentingnya dengan memberikan sanksi kepada pelaku.

“Anak yang menjadi korban butuh perlindungan dan pemulihan, bukan hanya simpati. Pemerintah harus hadir di situ,” ujarnya.

Kasus bullying di SMPN 28 Malang kini menjadi perhatian publik dan menjadi ujian bagi Kota Malang dalam membuktikan predikatnya sebagai kota yang menjunjung tinggi nilai pendidikan dan kemanusiaan. Di tengah sorotan masyarakat, seruan Eko Herdiyanto menjadi pengingat pendidikan sejati bukan sekadar soal nilai di rapor, melainkan tentang membentuk generasi yang beradab, berempati, dan menghormati sesamanya.

banner 325x300banner 325x300
banner 120x600
  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *