google.com, pub-7927405703202979, DIRECT, f08c47fec0942fa0

Bumdes dan Lumbung Stroberi Kota Batu Didorong Jadi Pusat Green Packaging: Penelitian Prof. Dr. Sumarmi, M.Pd

  • Bagikan
banner 468x60

Kota Batu, iKoneksi.com – Kota Batu kembali menunjukkan potensinya sebagai daerah dengan geliat ekonomi lokal yang kuat. Di balik dinginnya udara pegunungan, terdapat upaya serius dalam pengembangan Badan Usaha Milik Desa (Bumdes) dan pengelolaan lumbung stroberi yang tak hanya menghasilkan keuntungan ekonomi, tapi juga membawa semangat inovasi dan pelestarian lingkungan. Salah satu tokoh penting di balik upaya ini adalah Prof. Dr. Sumarmi, M.Pd., akademisi yang saat ini tengah melakukan penelitian mendalam mengenai penerapan green packaging pada produk-produk UMKM, khususnya yang bergerak di sektor pertanian dan pariwisata stroberi di Kota Batu. Sumarmi menyoroti pentingnya kemasan ramah lingkungan bagi pelaku UMKM.

“Saya ingin melihat bagaimana pelaku UMKM di Kota Batu sudah pro terhadap lingkungan. Kalau mereka peduli lingkungan, tentu akan mengemas produknya dengan cara yang lebih ramah lingkungan. Misalnya, kemasan kue tradisional yang bisa dipakai berulang kali, jelas lebih baik daripada plastik sekali pakai,” tegasnya.

Dampak Penelitian pada UMKM Lokal dan Bumdes Stroberi

Penelitian ini menjadi bagian dari proyek yang juga mencakup wilayah Pamekasan dan Banyuwangi, dengan fokus utama pada bagaimana pelaku UMKM mampu mengembangkan inovasi kemasan yang tidak hanya menarik secara visual, tapi juga memiliki nilai ekologis. Di Kota Batu, fokus utamanya adalah pada produk stroberi buah khas daerah tersebut yang selama ini menjadi komoditas unggulan dan kini dikemas dengan pendekatan baru yang lebih hijau.

“Bumdes di Batu, khususnya yang mengelola lumbung stroberi, dinilai berhasil menjadi pusat penggerak ekonomi lokal. Keberadaan Bumdes bukan hanya sebagai wadah distribusi hasil pertanian, tetapi juga menjadi penyedia lapangan kerja dan pelindung ekosistem sosial-ekonomi desa. UMKM stroberi di sini sangat mengayomi masyarakat. Jika Bumdes maju secara ekonomi, otomatis perekonomian masyarakat juga ikut terdongkrak. Semua unsur dikerjakan oleh warga lokal, termasuk kelompok wanita tani. Tidak ada ketergantungan pada tenaga kerja luar,” jelas Sumarmi.

Produk Stroberi yang Menembus Pasar Luar Daerah

Menariknya, produk stroberi dari lumbung ini tidak hanya berputar di pasar lokal. Setiap minggunya, dua kuintal stroberi rutin dikirim ke Surabaya, menandakan permintaan pasar yang tinggi dan kepercayaan konsumen terhadap kualitas produk lokal. Ini menunjukkan bahwa Bumdes mampu menjadi jembatan antara petani dan pasar skala besar, sekaligus mengangkat kesejahteraan masyarakat desa.

“Lebih jauh lagi, Bumdes dan para petani stroberi kini telah mengintegrasikan pertanian dengan sektor wisata. Sekarang, lumbung stroberi tidak hanya fokus pada stroberi, tapi juga bunga potong dan paket wisata edukasi. Wisatawan bisa berkeliling kebun, menikmati produk lokal, dan membeli paket stroberi langsung dari kebun,” ungkap Sumarmi.

Wisata ditegaskan Sumarmi edukatif ini tidak hanya memperluas sumber penghasilan bagi petani, tetapi juga menjadi daya tarik tambahan bagi wisatawan yang ingin merasakan pengalaman langsung dari ladang ke tangan.

Pemberdayaan Perempuan dan Ketahanan Pangan Berbasis Komunitas

Salah satu aspek paling menarik dari penelitian Sumarmi adalah keterlibatan aktif kelompok wanita tani dalam pengelolaan stroberi. Mereka menjadi tulang punggung dari proses produksi hingga pemasaran.

“Semua dikerjakan oleh orang kampung, tidak mendatangkan industri dari luar. Ini memperkuat ekonomi lokal dan menjaga kearifan lokal tetap lestari,” katanya.

Selain itu, isu ketahanan pangan juga menjadi sorotan penting. Sumarmi berharap agar produk lokal bisa lebih berorientasi pada pasar dalam negeri dan tidak terus bergantung pada produk impor.

“Pemerintah sedang menghemat lumbung padi untuk ketahanan pangan. Saya berharap produk lokal bisa lebih berorientasi pada pasar dalam negeri dan tidak selalu bergantung pada impor. Di sini, produksi benar-benar berbasis masyarakat,” seru Sumarmi.

Harapan untuk Masa Depan: UMKM yang Mandiri dan Berdaya Saing

Melalui pendekatan yang holistik dari kemasan ramah lingkungan, pemberdayaan perempuan, integrasi pariwisata, hingga peningkatan daya saing produk apa yang dilakukan di Kota Batu bisa menjadi model inspiratif bagi daerah lain. .

“Penelitian ini bukan hanya sekadar akademik, tetapi membawa dampak nyata bagi ekonomi desa, lingkungan, dan ketahanan pangan,” tekan Sumarmi.

“Inovasi tak harus selalu datang dari kota besar atau industri raksasa. Dari desa kecil seperti di Kota Batu, perubahan besar justru bisa dimulai,” pungkas Sumarmi. (04/iKoneksi.com)

banner 325x300banner 325x300
banner 120x600
  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *