google.com, pub-7927405703202979, DIRECT, f08c47fec0942fa0

Bupati Humbahas: Pancasila Harus Hidup di Setiap Dimensi Kehidupan

  • Bagikan
banner 468x60

Kab Humbang Hasundutan, iKoneksi.com — Dalam era globalisasi dan digitalisasi yang semakin tak terbendung, ideologi bangsa Indonesia, Pancasila, tengah menghadapi tantangan yang kian kompleks. Pesan itu disampaikan dengan tegas oleh Bupati Humbang Hasundutan (Humbahas), Oloan Paniaran Nababan, saat membacakan pidato Kepala Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP), Yudian Wahyudi, dalam upacara peringatan Hari Lahir Pancasila di Halaman Kantor Bupati, Bukit Inspirasi, Doloksanggul, Minggu (1/6/2025).

Upacara yang digelar khidmat di dataran tinggi Doloksanggul ini menjadi pengingat keras bagi seluruh elemen bangsa: bahwa mempertahankan ideologi negara bukanlah tugas seremonial, melainkan kewajiban aktual yang harus diwujudkan dalam seluruh aspek kehidupan berbangsa dan bernegara.

Tantangan Pancasila di Era Digital dan Global

Di awal pidatonya, Oloan menyampaikan tantangan terhadap Pancasila tidak lagi bersifat implisit, namun sudah terang-terangan hadir dalam wujud ekstremisme, radikalisme, intoleransi, hingga disinformasi yang masif. Di era digital ini, ancaman terhadap kohesi sosial begitu nyata. Paham-paham menyimpang kian mudah menyusup ke ruang-ruang privat masyarakat, baik melalui media sosial, platform digital, maupun ruang pendidikan yang tak terbimbing.

“Penyebaran paham-paham ekstremisme, radikalisme, intoleransi hingga disinformasi kini menjadi ancaman serius yang harus dihadapi dengan keberanian ideologis dan moral yang kuat,” kata Oloan membacakan kutipan pidato BPIP.

Ia menegaskan Pancasila harus menjadi benteng utama bangsa dalam menghadapi berbagai gempuran yang berpotensi merusak harmoni sosial dan persatuan nasional.

Asta Cita: Menjawab Tantangan dengan Prioritas Nasional

Untuk menjawab tantangan itu, Oloan menyebutkan pemerintah telah mencanangkan Asta Cita, delapan prioritas utama menuju visi Indonesia Emas 2045. Di antara delapan pilar tersebut, memperkokoh Ideologi Pancasila, Demokrasi, dan Hak Asasi Manusia (HAM) disebut sebagai yang paling mendasar.

“Kemajuan tanpa arah ideologis akan mudah goyah. Kemajuan ekonomi tanpa pondasi nilai-nilai Pancasila bisa melahirkan ketimpangan. Kemajuan teknologi tanpa bimbingan moral Pancasila bisa menjerumuskan bangsa pada dehumanisasi,” tegas Oloan, mengingatkan hadirin.

Dengan pernyataan itu, pemerintah ingin menekankan bahwa kemajuan bukan hanya soal infrastruktur dan digitalisasi, melainkan juga tentang keseimbangan nilai dan moral bangsa.

Pancasila, Jiwa Bangsa yang Harus Dihidupkan

Peringatan Hari Lahir Pancasila tahun ini tidak hanya menjadi ajang mengenang sejarah perumusan dasar negara, tetapi juga sebagai momen peneguhan kembali komitmen seluruh rakyat terhadap nilai-nilai luhur Pancasila. Menurut Oloan, Pancasila bukan sekadar dokumen historis atau teks normatif dalam Pembukaan UUD 1945, melainkan jiwa bangsa dan bintang penuntun yang harus menjadi pedoman nyata dalam kehidupan sehari-hari.

“Pancasila adalah pedoman hidup bersama, bintang penuntun dalam mewujudkan cita-cita Indonesia yang merdeka, bersatu, berdaulat, adil dan makmur,” sebut Oloan.

Dalam lima sila Pancasila, terkandung prinsip-prinsip universal yang tak lekang oleh zaman.

“Dari Ketuhanan, Kemanusiaan, Persatuan, Musyawarah, hingga Keadilan Sosial, semuanya mengajarkan bangsa Indonesia untuk membangun dengan semangat gotong royong, menghormati martabat manusia, dan menjunjung keadilan,” ungkap Oloan.

Revitalisasi Nilai-Nilai Pancasila di Segala Dimensi

Salah satu sorotan penting dalam pidato Kepala BPIP yang dibacakan oleh Bupati Humbahas adalah pentingnya revitalisasi nilai-nilai Pancasila dalam segala dimensi kehidupan, mulai dari pendidikan, birokrasi, ekonomi, hingga ruang-ruang spiritual dan ritual masyarakat.

“Revitalisasi ini bukan sekadar slogan, tetapi harus menjadi gerakan yang menyentuh langsung praktik kehidupan sehari-hari. Pendidikan Pancasila harus menyatu dalam sistem pengajaran, birokrasi harus mengedepankan pelayanan berbasis nilai-nilai luhur, dunia ekonomi harus adil dan tidak eksploitatif, dan ruang keagamaan harus menjadi sarana memperkuat toleransi,” beber Oloan.

Peringatan yang Menggugah, Bukan Sekadar Rutinitas

Oloan juga berharap, peringatan Hari Lahir Pancasila tidak terjebak dalam formalitas tahunan belaka. Ia mengajak seluruh masyarakat, khususnya di Kabupaten Humbahas, untuk menghidupkan kembali semangat Pancasila dalam tindakan nyata. Menghormati perbedaan, menjaga kerukunan, menjunjung tinggi etika sosial, serta menolak paham-paham yang bertentangan dengan prinsip negara.

Ia juga mengingatkan para pemuda dan pelajar agar tidak lengah terhadap arus informasi yang bisa menyesatkan, serta terus memperkuat literasi digital dan ideologis.

“Jangan sampai anak-anak kita lebih akrab dengan budaya luar yang mengikis jati diri bangsa. Pancasila adalah akar kita, dan kita harus terus menyiraminya agar tidak kering oleh zaman,” tegasnya.

Menghidupkan Pancasila dalam Aksi Nyata

Peringatan Hari Lahir Pancasila di Bukit Inspirasi ini menjadi refleksi penting: bahwa Pancasila bukan simbol atau hafalan semata, tetapi harus diwujudkan dalam sikap dan tindakan nyata setiap anak bangsa. Terutama di masa kini, ketika tantangan global dan digital datang tanpa ampun, Pancasila harus menjadi kompas moral dan arah kebijakan bangsa.

“Pemerintah, masyarakat, dunia pendidikan, dan sektor swasta semua pihak harus bersatu mengemban amanat Pancasila, agar Indonesia tidak hanya menjadi negara yang maju secara teknologi dan ekonomi, tetapi juga menjadi bangsa yang berkeadaban, berkepribadian, dan berjiwa luhur. Dengan semangat gotong royong dan komitmen kebangsaan yang kuat, Pancasila akan terus hidup tak hanya dalam pidato atau upacara, tetapi dalam denyut nadi kehidupan bangsa sehari-hari,” pungkas Oloan. (04/iKoneksi.com)

banner 325x300banner 325x300
banner 120x600
  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *