Kota Malang, iKoneksi.com – Mahasiswa S1 Ilmu Keperawatan STIKES Maharani Malang menggelar kegiatan sosialisasi bertajuk Penguatan Peran Masyarakat dalam Pencegahan Bunuh Diri melalui Program Desa Sadar Kesehatan Jiwa di Kelurahan Dinoyo, Kota Malang, Sabtu (29/11/2025). Kegiatan ini menjadi langkah konkrit mahasiswa dalam mendorong kesadaran masyarakat terhadap bahaya gangguan kesehatan mental serta pentingnya deteksi dini untuk mencegah kasus bunuh diri yang belakangan menunjukkan tren mengkhawatirkan, termasuk pada kelompok remaja .
Ketua panitia, Didik Dwi Ferdianto, menjelaskan bahwa sosialisasi ini dirancang sebagai upaya memperkuat peran masyarakat dalam mengenali dan menanggulangi risiko bunuh diri di lingkungan sekitar.
“Kegiatan ini bertujuan untuk mengetahui dan menguatkan peran warga dalam pencegahan bunuh diri melalui Program Desa Sadar Kesehatan Jiwa. Kami juga ingin memberdayakan kader, perangkat kelurahan, dan warga untuk mampu melakukan deteksi dini tanda risiko bunuh diri maupun gangguan jiwa,” katanya.
Kegiatan ini mendapatkan dukungan langsung dari dosen pengampu Keperawatan Jiwa STIKES Maharani Malang, Ns. Kurnia Laksana, S.Kep., M.Kep., CH., CHt. Ia menegaskan literasi kesehatan mental menjadi kunci penting dalam mencegah kasus-kasus ekstrem yang sering kali terjadi karena kurangnya pengetahuan keluarga maupun masyarakat mengenai tanda-tanda bahaya.
“Materi juga diperkuat dengan referensi mengenai tanda awal bunuh diri, termasuk perubahan perilaku, emosional, hingga ucapan yang mengarah pada keputusasaan,” jelas Kurnia.
Lurah Dinoyo, Edwin Daniel Seputra, S.H., M.MG., M.AP., menyampaikan apresiasi terhadap inisiatif mahasiswa yang dinilai sejalan dengan kebutuhan masyarakat. Ia menilai langkah ini penting untuk membangun lingkungan yang peka terhadap kesehatan mental warganya.
“Kami sangat terbantu dengan edukasi seperti ini. Deteksi dini sangat penting agar kita dapat mencegah kasus-kasus yang tidak diinginkan,” katanya.
Materi inti disampaikan oleh dua mahasiswa keperawatan semester 5, Amanda Analicia dan Azzahra Sintya. Keduanya menjelaskan berbagai bentuk gangguan mental, termasuk depresi, kecemasan, hingga psikotik, lengkap dengan gejala, faktor risiko, dan dampak apabila tidak mendapat penanganan cepat. Pada sesi pemaparan, masyarakat diberi pemahaman mengenai ciri-ciri verbal, perilaku, hingga tanda emosional yang sering muncul pada individu yang berisiko melakukan bunuh diri, seperti menarik diri, perubahan suasana hati ekstrem, dan pernyataan keputusasaan .
Para pemateri juga memaparkan langkah-langkah pertolongan pertama ketika menemukan seseorang menunjukkan gejala bunuh diri, termasuk mendengarkan tanpa menghakimi, mengamankan benda berbahaya, serta menghubungkan korban dengan layanan kesehatan mental seperti psikolog, psikiater, atau fasilitas kesehatan terdekat .
Sosialisasi ditutup dengan ajakan bagi seluruh peserta untuk berkomitmen menjaga kesehatan mental diri sendiri dan orang-orang di sekitar.
“Program Desa Sadar Kesehatan Jiwa diharapkan menjadi gerakan berkelanjutan di tingkat masyarakat agar pencegahan bunuh diri tidak hanya berhenti pada edukasi, tetapi menjadi budaya kewaspadaan dan kepedulian sosial,” pungkas Amanda dan Azzahra.




















