google.com, pub-7927405703202979, DIRECT, f08c47fec0942fa0

DPRD Kota Malang Desak Pemkot Promosi Wisata Diperkuat

  • Bagikan
banner 468x60

Kota Malang, iKoneksi.com – Sektor pariwisata di Kota Malang kembali menjadi sorotan serius. Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kota Malang melalui Komisi B mendorong Pemerintah Kota (Pemkot) Malang agar mengoptimalkan promosi wisata secara lebih masif dan terstruktur. Langkah ini dinilai penting sebagai upaya untuk menanggulangi dampak kebijakan efisiensi anggaran yang kini mulai dirasakan langsung oleh pelaku usaha perhotelan di kota ini.

Ketua Komisi B DPRD Kota Malang, Bayu Rekso Aji, menegaskan promosi wisata tidak boleh dilakukan setengah hati. Menurutnya, dengan potensi wisata yang sudah terbentuk dan cukup dikenal, seperti Kayutangan Heritage dan Kampung Warna-Warni, sudah saatnya Kota Malang tampil lebih agresif dalam menarik kunjungan wisatawan, bukan hanya mengandalkan tamu dari agenda pemerintahan.

Wisata Bukan Sekadar Alam, Tapi Budaya dan Kreativitas

Bayu menekankan pariwisata Kota Malang tak melulu soal potensi alam. Justru, keunggulan kota ini terletak pada kreativitas masyarakatnya dalam membangun objek wisata berbasis sejarah, budaya, dan seni. Contohnya seperti kawasan Kayutangan Heritage yang menampilkan keunikan arsitektur kolonial, hingga kampung-kampung tematik yang kini menjadi favorit para pelancong domestik.

“Wisata di Kota Malang sebenarnya sudah terbentuk dengan baik. Sekarang tinggal bagaimana mempromosikannya lebih gencar lagi, agar kunjungan tidak hanya bergantung pada agenda pemerintah,” kata Bayu.

Kontribusi Hotel Terbukti Besar, Tapi Terabaikan

Menurut Bayu, masifnya promosi wisata juga merupakan bentuk timbal balik yang pantas diberikan kepada pelaku usaha hotel dan restoran yang telah menyumbang pendapatan signifikan bagi daerah. Berdasarkan data dari Badan Pendapatan Daerah (Bapenda) Kota Malang, sepanjang tahun 2024 saja, pajak hotel menyumbang Rp56 miliar untuk kas daerah.

“Tak berhenti di situ, pada triwulan pertama tahun 2025, pendapatan pajak dari sektor perhotelan sudah mencapai Rp14 miliar. Rinciannya, Januari menyumbang Rp6 miliar, Februari Rp4,6 miliar, dan Maret Rp3,4 miliar. Angka ini membuktikan bahwa sektor perhotelan menjadi salah satu tulang punggung pendapatan daerah, sehingga perlu diperhatikan dan diberi dukungan yang setimpal,” jelas Bayu.

“Teman-teman dari PHRI sudah membuktikan kontribusinya. Mereka membayar pajak secara konsisten. Sudah saatnya pemerintah mendampingi mereka lewat strategi promosi wisata yang lebih kuat,” tegas Bayu.

Pemkot Diminta Susun Strategi Jangka Panjang

Bayu juga mengingatkan agar Pemkot Malang tidak hanya bergerak reaktif, tetapi perlu menyusun strategi jangka panjang yang dapat disesuaikan dengan arah kebijakan pusat. Ia mencontohkan permasalahan perizinan yang sering menjadi hambatan pengembangan usaha wisata dan perhotelan. Persoalan tidak hanya berhenti di Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPM-PTSP), tetapi juga menyangkut Dinas Lingkungan Hidup (DLH) dan instansi lainnya.

“Kalau soal perizinan dan tata kelola terlalu rumit, investor akan lari. Padahal sektor wisata dan hotel ini sangat potensial membuka lapangan kerja,” ungkap Bayu.

PHRI Harap Promosi Bukan Sekadar Formalitas

Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Kota Malang, Agoes Basoeki, turut menyuarakan harapan serupa. Ia mengatakan promosi wisata yang selama ini dilakukan pemerintah masih belum maksimal. Menurutnya, hotel-hotel saat ini terlalu bergantung pada agenda pemerintahan, yang tentu tidak bisa diandalkan sebagai sumber utama pendapatan secara berkelanjutan.

“Program promosi harus dipertajam lagi. Kemarin itu promosinya belum maksimal. Kami harap pemerintah mendorong ini agar sektor pariwisata benar-benar bergerak,” tutur Agoes.

Kunci Kemajuan: Kolaborasi dan Inovasi

Kebangkitan sektor wisata Kota Malang tidak bisa diserahkan pada satu pihak saja. Perlu kolaborasi nyata antara pemerintah, DPRD, pelaku usaha, serta masyarakat sebagai pelaku budaya lokal. Inovasi dalam promosi, penggunaan platform digital, hingga pengemasan event-event wisata yang kreatif menjadi kunci.

“Jika langkah konkret segera diambil, maka Kota Malang bukan hanya akan dikenal sebagai kota pelajar atau kota sejarah, tetapi juga sebagai destinasi wisata unggulan yang mandiri dan berdaya saing tinggi di tingkat nasional,” pungkas Bayu. (04/iKoneksi.com)

banner 325x300banner 325x300
banner 120x600
  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *