Menu
Koneksi Informasi Pikiran Merdeka

Dua Pelajar Ciptakan DJOGOSURO, Website Mitigasi Erupsi Kelud Berbasis Lembu Suro

  • Bagikan
banner 468x60

Kota Malang, iKoneksi.com – Tinggal di lereng Gunung Kelud membuat ancaman erupsi bukan sekadar pengetahuan dari buku. Pengalaman erupsi 2014 yang meninggalkan kerusakan bangunan, rumah warga, ternak hingga fasilitas masyarakat menjadi pengingat bahwa kesiapsiagaan perlu dikenalkan sejak dini.

Berangkat dari kondisi tersebut, dua pelajar, Griselda Nuria Alisha dan Azza Syahida Fadila, mengembangkan DJOGOSURO, website edukasi interaktif yang menggabungkan pengetahuan mitigasi bencana dengan kearifan lokal Lembu Suro. Media tersebut mulai diimplementasikan pada Senin (24/8/2026) di SDN Pandansari 2, Kecamatan Ngantang, Kabupaten Malang, salah satu wilayah yang berada di kawasan lereng Gunung Kelud dan memiliki risiko terdampak aktivitas vulkanik.

Dari Pengalaman Erupsi Kelud 2014

Pemilihan SDN Pandansari 2 bukan tanpa alasan. Kawasan Ngantang memiliki kedekatan geografis dengan Gunung Kelud sehingga masyarakatnya memiliki pengalaman menghadapi dampak erupsi. Guru di sekolah tersebut mengungkapkan, erupsi Gunung Kelud pada 2014 memberikan dampak cukup besar. Sejumlah bangunan mengalami kerusakan. Rumah warga, hewan ternak hingga fasilitas masyarakat juga terdampak.

Pengalaman tersebut menjadi salah satu alasan Griselda dan Azza merancang media edukasi yang membuat materi kebencanaan lebih mudah diterima anak-anak. Mereka tidak ingin mitigasi bencana hanya disampaikan dalam bentuk teks yang berpotensi membuat siswa cepat bosan.

Lembu Suro Jadi Pintu Masuk Edukasi

Keunikan DJOGOSURO terletak pada penggunaan Lembu Suro sebagai karakter edukasi. Tokoh yang lekat dengan cerita dan kearifan lokal masyarakat di sekitar Gunung Kelud tersebut dihadirkan ke dalam ruang digital sebagai penghubung antara budaya lokal dan pendidikan kebencanaan.

Informasi mengenai Lembu Suro diperoleh melalui penelusuran data sekunder yang kemudian dikonfirmasi dan divalidasi kepada masyarakat di kawasan lereng Gunung Kelud, khususnya Ngantang. Sementara materi mengenai mitigasi dan kesiapsiagaan bencana divalidasi oleh BPBD Kabupaten Malang.

Pendekatan tersebut membuat edukasi tidak hanya berbicara tentang ancaman erupsi. Siswa juga diajak mengenali budaya dan lingkungan yang selama ini menjadi bagian dari kehidupan masyarakat di sekitar Kelud.

Ada Video, Kuis hingga Simulasi Gunung

DJOGOSURO dikembangkan selama sekitar dua hingga tiga bulan. Website ini dirancang agar dapat digunakan siswa, guru, orang tua hingga masyarakat umum. Materinya dikemas melalui video animasi, kuis interaktif, simulasi kondisi gunung serta akses komunikasi dengan relawan BPBD Kabupaten Malang. Pengguna dapat mempelajari penyebab dan dampak erupsi, pengurangan risiko serta langkah yang perlu dilakukan sebelum, saat dan setelah bencana.

Setelah mempelajari materi, pengguna dapat menguji pemahaman melalui kuis dengan tiga tingkatan, yakni mudah, sedang dan sulit. Fitur lainnya berupa simulasi empat status aktivitas gunung: Normal, Waspada, Siaga dan Awas. Fitur tersebut membantu pengguna memahami bahwa tingkat kewaspadaan harus disesuaikan dengan kondisi aktivitas gunung.

DJOGOSURO juga menyediakan akses kontak relawan BPBD Kabupaten Malang untuk memperoleh informasi maupun bantuan ketika menghadapi kondisi kebencanaan.

Siswa SDN Pandansari 2 Langsung Mencoba

Dalam implementasi di sekolah, siswa diperkenalkan dengan website, mengikuti materi, menyaksikan video animasi hingga mengerjakan kuis. Respons siswa disebut positif. Materi mitigasi lebih mudah diterima karena disajikan secara visual dan interaktif.

Guru SDN Pandansari 2 juga mendukung penggunaan DJOGOSURO sebagai media pembelajaran kesiapsiagaan bencana. Pihak sekolah bahkan mendorong agar edukasi tersebut turut diperkenalkan kepada orang tua dan wali murid.

Langkah itu dinilai penting karena kesiapsiagaan tidak cukup hanya dimiliki siswa. Pengetahuan yang sama perlu dimiliki guru, orang tua dan masyarakat agar setiap orang mengetahui tindakan yang harus dilakukan ketika bencana terjadi.

Teknologi Bertemu Kearifan Lokal

DJOGOSURO memperlihatkan bagaimana teknologi dapat digunakan untuk mendekatkan edukasi kebencanaan kepada masyarakat. Video, kuis dan simulasi menjadi pendekatan digital, sementara Lembu Suro menjaga kedekatan materi dengan budaya lokal masyarakat Gunung Kelud.

Pesan yang ingin dibangun bukan membuat masyarakat takut hidup di kawasan rawan bencana. Sebaliknya, masyarakat didorong mengenali lingkungan, memahami risiko dan mempersiapkan diri sebelum bencana terjadi. Griselda dan Azza berharap edukasi mitigasi dapat dikenalkan sejak usia dini sehingga generasi muda memahami cara melindungi diri dan keluarganya ketika menghadapi ancaman bencana.

DJOGOSURO Tak Berhenti di Ngantang

Implementasi di SDN Pandansari 2 menjadi awal pengembangan berikutnya. Setelah memperoleh validasi BPBD Kabupaten Malang dan respons positif dari sekolah, DJOGOSURO direncanakan terus dikembangkan. Relawan Palang Merah Indonesia (PMI) juga menyambut positif media tersebut dan mendukung penyebaran informasinya kepada masyarakat.

Ke depan, DJOGOSURO diharapkan dapat digunakan lebih luas oleh pelajar, guru, orang tua dan masyarakat yang tinggal di kawasan rawan erupsi Gunung Kelud. Melalui karakter Lembu Suro, dua pelajar tersebut mencoba membawa kearifan lokal ke ruang digital sekaligus menjadikannya jembatan menuju kesadaran kebencanaan.

Dari lereng Kelud, pesan yang dibawa sederhana: mengenal alam, memahami risikonya dan bersiap sebelum bencana datang dapat menjadi bagian penting dari upaya menyelamatkan diri.

banner 325x300 banner 325x300
banner 120x600
  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *