google.com, pub-7927405703202979, DIRECT, f08c47fec0942fa0

Gedung DPR Senayan Sepi, Buruh Duduki Jalanan

  • Bagikan
banner 468x60

Jakarta, iKoneksi.com – Jakarta kembali diguncang aksi unjuk rasa besar-besaran para buruh. Ribuan massa dari Koalisi Serikat Pekerja dan Partai Buruh (KSP-PB) turun ke jalan, Kamis (28/8/2025), dengan salah satu titik konsentrasi di kawasan Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta. Sementara itu, suasana di dalam gedung DPR justru terlihat jomplang: nyaris kosong dan tanpa aktivitas berarti.

Pantauan langsung di lokasi menunjukkan gedung megah wakil rakyat itu lengang. Area yang biasanya padat kendaraan dinas para anggota dewan kini hanya dihuni oleh beberapa mobil petugas keamanan, sejumlah wartawan, dan sedikit pegawai yang masih bertugas.

Aktivitas DPR Lumpuh

Berdasarkan jadwal resmi yang dirilis Sekretariat Jenderal DPR, hari itu hanya ada satu agenda penting: rapat dengar pendapat umum (RDPU) Badan Legislasi DPR pukul 14.00 WIB. Agenda tersebut membahas lanjutan Rancangan Undang-Undang Perlindungan Pekerja Rumah Tangga (RUU PPRT) yang sampai saat ini masih dalam tahap penyerapan aspirasi publik.

Di luar agenda itu, tidak ada rapat-rapat komisi lain yang biasanya menjadi denyut harian gedung parlemen. Suasana lengang ini memperlihatkan bagaimana demonstrasi buruh berdampak langsung pada ritme kerja DPR.

Imbauan WFH untuk Pegawai DPR

Salah satu faktor yang membuat gedung DPR sepi adalah kebijakan baru yang dikeluarkan Sekretariat Jenderal DPR. Melalui Surat Edaran Nomor 14/SE-SEKJEN/2025, Sekjen DPR Indra Iskandar mengimbau para pegawai, staf ahli, hingga tenaga pendukung untuk bekerja dari rumah (WFH) pada Kamis, 28 Agustus 2025.

Langkah ini diambil sebagai bentuk antisipasi terhadap hambatan akses menuju gedung parlemen serta potensi gangguan keamanan akibat demonstrasi besar yang berlangsung di depan DPR. Namun hingga kini, Indra belum memberikan penjelasan resmi kepada publik terkait kebijakan tersebut.

Ribuan Massa Penuhi Jalan

Di luar gedung, ribuan buruh sudah memadati kawasan Senayan sejak pagi. Mereka menuntut pemerintah dan DPR untuk memperhatikan nasib pekerja, menolak kebijakan yang dianggap merugikan buruh, serta mendesak pengesahan RUU PPRT.

Aksi ini berlangsung di tengah pengawalan ketat aparat kepolisian yang sudah berjaga sejak dini hari. Polisi menutup sebagian akses jalan di sekitar Senayan untuk mengantisipasi kemacetan dan bentrokan. Situasi itu membuat lalu lintas di sekitar kawasan Senayan tersendat, sementara arus kendaraan dialihkan ke jalur alternatif.

Konteks Politik dan Pesan Buruh

Unjuk rasa kali ini bukan hanya bentuk protes biasa, melainkan juga simbol ketidakpuasan buruh terhadap DPR yang dianggap lamban menyelesaikan regulasi penting terkait pekerja. Sebagian besar massa aksi menyoroti RUU PPRT yang tak kunjung disahkan meski sudah bertahun-tahun masuk dalam daftar program legislasi nasional.

Koalisi Serikat Pekerja dan Partai Buruh menilai, keterlambatan ini adalah bentuk abai negara terhadap perlindungan pekerja rumah tangga yang selama ini rentan dieksploitasi. Dengan menduduki jalanan di depan gedung parlemen, mereka ingin memastikan suara buruh tidak lagi diabaikan.

Gedung Kosong, Jalanan Bergemuruh

Kontras yang terlihat antara jalanan Senayan yang bergemuruh oleh suara buruh dengan gedung DPR yang lengang menimbulkan pertanyaan besar: sejauh mana wakil rakyat benar-benar mendengar aspirasi mereka?

Di tengah lengangnya parlemen, suara massa buruh justru menggema lebih keras dari luar gedung. Situasi ini menggambarkan jarak yang kian menganga antara rakyat pekerja dengan lembaga yang seharusnya mewakili mereka. (04/iKoneksi.com)

banner 325x300banner 325x300
banner 120x600
  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *