google.com, pub-7927405703202979, DIRECT, f08c47fec0942fa0

Himapsi Politeknik Negeri Medan Tolak Konversi Kebun Teh ke Sawit

  • Bagikan
banner 468x60

Kota Medan, iKoneksi.com – Suara lantang penolakan kembali menggema dari kampus Politeknik Negeri Medan. Melalui pernyataan resmi yang disampaikan oleh Ketua Himpunan Mahasiswa Program Studi (HIMAPSI), Aldo Natanael Purba, mahasiswa menyatakan sikap tegas menolak segala bentuk konversi kebun teh menjadi perkebunan kelapa sawit. Mereka menilai praktik ini sebagai bentuk pengabaian serius terhadap nilai-nilai ekologis, sosial, dan budaya.

Kebun Teh: Lebih dari Sekadar Komoditas

Dalam pernyataan yang dibacakan oleh Aldo, kebun teh ditegaskan bukan sekadar aset agraria, melainkan bagian dari warisan sejarah, identitas kawasan, serta penopang ekosistem dataran tinggi. Konversi sepihak kebun teh ke perkebunan sawit dianggap sebagai ancaman terhadap keberlanjutan lingkungan hidup dan bentuk pengingkaran terhadap kearifan lokal.

Kebun teh adalah bagian dari identitas ekologi kita. Mengalihfungsikannya demi sawit tanpa kajian yang menyeluruh adalah tindakan ceroboh dan destruktif,” tegas Aldo.

Dugaan Pelanggaran dan Kejahatan Ekologis

Lebih jauh, HIMAPSI menyoroti dugaan keterlibatan pihak tertentu, termasuk perusahaan negara seperti PTPN, dalam proses konversi yang dilakukan secara diam-diam dan tanpa konsultasi publik. Mereka menilai hal ini bukan hanya kelalaian administratif, melainkan kejahatan ekologis dan sosial yang nyata.

“Kami melihat adanya pengkhianatan terhadap tanggung jawab sosial dan ekologis perusahaan terhadap rakyat. Jika aset milik negara dikelola tanpa akuntabilitas, maka rakyat berhak mempertanyakan dan menuntut keadilan,” jelasnya.

Sawit vs Teh: Antara Untung dan Dampak

Meski kelapa sawit dikenal sebagai komoditas bernilai ekonomis tinggi, HIMAPSI menilai bahwa keuntungan jangka pendek dari sawit tidak sebanding dengan kerugian ekologis dan sosial jangka panjang. Kerusakan hutan, konflik agraria, penurunan kualitas air dan tanah, serta hilangnya mata pencaharian masyarakat adat menjadi beberapa ancaman nyata yang mereka soroti.

Sebaliknya, teh dianggap lebih ramah lingkungan dan memiliki potensi stabil jika dikelola secara berkelanjutan.

“Teh sudah terbukti mampu menopang kehidupan petani kecil dan menjaga ekosistem dataran tinggi. Ini yang harus kita lindungi,” tutur Aldo.

Seruan Aksi dan Tuntutan kepada Pemerintah

Melalui sikap ini, HIMAPSI menyerukan kepada seluruh elemen masyarakat, termasuk mahasiswa, akademisi, petani, dan aktivis lingkungan, untuk bersatu menolak konversi kebun teh menjadi sawit. Mereka juga mendesak pemerintah pusat, khususnya Kementerian BUMN dan Kementerian Pertanian, untuk segera melakukan audit menyeluruh terhadap kebijakan konversi yang dilakukan oleh PTPN.

“Jangan biarkan kebijakan jangka pendek menghancurkan masa depan generasi mendatang,” tegas Aldo dalam akhir pernyataannya.

Mahasiswa Jadi Benteng Terakhir

Sebagai Ketua HIMAPSI, Aldo Natanael Purba juga menekankan mahasiswa hari ini bukan hanya agen perubahan, melainkan benteng terakhir yang menjaga kelestarian alam dan budaya bangsa. Ia menegaskan bahwa perjuangan ini tidak akan berhenti.

“Kami akan terus bersuara, bergerak, dan berjuang demi tegaknya keadilan ekologis di tanah kami tercinta,” ungkapnya.

Dengan semangat juang yang berkobar, mahasiswa Politeknik Negeri Medan membuktikan bahwa generasi muda siap berdiri di garis depan melawan segala bentuk kerusakan lingkungan yang mengancam masa depan bersama.

“Hidup Mahasiswa! Hidup Rakyat! Tolak Konversi Kebun Teh Jadi Sawit!,” pungkasnya. (04/iKoneksi.com)

banner 325x300banner 325x300
banner 120x600
  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *