google.com, pub-7927405703202979, DIRECT, f08c47fec0942fa0

Inflasi Melonjak di Pematangsiantar dan Labuhanbatu, BI Ungkap Komoditas Penyebab

  • Bagikan
banner 468x60

Kota Pematangsiantar, iKoneksi.com – Kepala Perwakilan Wilayah Bank Indonesia (BI) Pematangsiantar, Muqorobin, merilis data terbaru mengenai perkembangan inflasi di wilayah kerja Kantor Perwakilan BI Pematangsiantar (KPwBI) untuk periode April 2025. Kota Pematangsiantar dan Kabupaten Labuhanbatu tercatat mengalami inflasi yang cukup signifikan jika dibandingkan bulan-bulan sebelumnya, dan kondisi ini mendorong BI serta pemerintah daerah untuk mengambil langkah strategis dalam menstabilkan harga.

Kenaikan Inflasi Pascahari Besar Keagamaan Nasional

Pada April 2025, inflasi bulanan (month-to-month/mtm) di Kota Pematangsiantar mencapai 1,14 persen. Sementara di Kabupaten Labuhanbatu, inflasi bahkan lebih tinggi yaitu 1,25 persen. Secara tahunan (year-on-year/yoy), inflasi Pematangsiantar mencapai 3,54 persen dan Labuhanbatu 1,49 persen. Adapun inflasi secara tahunan di Sumatera Utara tercatat 2,09 persen, sedangkan nasional 1,95 persen.

“Angka ini menunjukkan bahwa Kota Pematangsiantar mengalami inflasi bulanan lebih tinggi dibandingkan rata-rata nasional dan provinsi. Hal serupa juga terjadi di Labuhanbatu. Kenaikan ini sangat kontras jika dibandingkan Februari 2025, di mana kedua kota ini justru mengalami deflasi Pematangsiantar sebesar -0,86 persen dan Labuhanbatu sebesar -0,59 persen,” kata Muqorobin.

Menurut Muqorobin, lonjakan inflasi ini disebabkan oleh dua faktor utama, yaitu normalisasi tarif listrik dan peningkatan permintaan barang dan jasa pasca Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) Idul Fitri 1446 Hijriah.

Komoditas Penyumbang Inflasi dan Deflasi di Pematangsiantar

BI mencatat tiga komoditas utama penyumbang inflasi terbesar di Pematangsiantar pada April 2025. Yang paling dominan adalah tarif listrik yang menyumbang inflasi sebesar 0,80 persen. Disusul oleh emas perhiasan sebesar 0,19 persen dan bawang merah sebesar 0,10 persen.

“Namun, di sisi lain terdapat beberapa komoditas yang memberikan efek deflasi, yakni kentang dengan kontribusi -0,08 persen, cabai rawit sebesar -0,06 persen, dan daging ayam ras sebesar -0,04 persen,” jelas Muqorobin.

Situasi Serupa di Kabupaten Labuhanbatu

Kondisi serupa dikatakan Muqorobin juga terjadi di Kabupaten Labuhanbatu. Inflasi tertinggi di daerah ini disumbang oleh tarif listrik sebesar 0,69 persen, kemudian cabai merah sebesar 0,44 persen, dan emas perhiasan sebesar 0,25 persen.

“Sementara untuk komoditas penyumbang deflasi, tercatat cabai rawit sebesar -0,21 persen, ikan kembung sebesar -0,14 persen, dan kentang sebesar -0,11 persen. Kondisi ini memperlihatkan pola yang konsisten antara dua wilayah kerja KPwBI Pematangsiantar dalam hal faktor pendorong dan penekan harga,” ucap Muqorobin.

BI dan Pemda Bergerak Cegah Inflasi Lebih Lanjut

Menghadapi tantangan inflasi tersebut, Bank Indonesia melalui KPwBI Pematangsiantar bersama pemerintah daerah dan Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) segera mengambil langkah-langkah pengendalian yang konkret. Dua strategi utama langsung digelar.

“Pertama adalah High Level Meeting (HLM) TPID Wilayah Sisibataslabuhan, yang mencakup wilayah kerja KPwBI Pematangsiantar. Dalam forum ini, dibahas berbagai strategi jangka pendek dan jangka menengah untuk pengendalian inflasi. Di antaranya adalah pelaksanaan sidak pasar, penyelenggaraan pasar murah, serta penguatan edukasi masyarakat mengenai belanja bijak,” terang Muqorobin

Selain itu, diungkapkan Muqorobin disusun juga neraca pangan dan pemetaan pola tanam sebagai bagian dari strategi jangka panjang untuk menekan gejolak harga pangan musiman. Muqorobin menekankan sinergi dan komitmen semua anggota TPID sangat penting untuk mengawal stabilitas harga di daerah.

Gerakan Pangan Murah: Langkah Cepat dan Tepat

Langkah kedua adalah pelaksanaan Gerakan Pangan Murah. Kolaborasi antara BI dan TPID Kota Pematangsiantar ini menjadi instrumen utama dalam meredam inflasi pangan yang melonjak pasca HBKN. Pada April 2025, BI telah menyelenggarakan pasar murah di satu titik strategis yang bertujuan menjaga keterjangkauan harga komoditas utama di masyarakat.

“Gerakan ini tidak hanya mengurangi tekanan inflasi jangka pendek, tetapi juga meningkatkan kesadaran masyarakat untuk membeli komoditas sesuai kebutuhan dan secara lebih bijak,” tegas Muqorobin.

Waspada tapi Terkendali

Inflasi yang melanda Pematangsiantar dan Labuhanbatu pada April 2025 menjadi pengingat penting bahwa kondisi ekonomi sangat dinamis, terutama saat momentum pascahari besar. Namun, dengan strategi pengendalian yang terukur dan koordinasi lintas sektor yang solid, Bank Indonesia optimistis inflasi di wilayah ini bisa dikendalikan dan tidak menjadi ancaman serius bagi daya beli masyarakat.

“Saya mengajak seluruh masyarakat dan pemangku kepentingan untuk terus mendukung langkah-langkah pengendalian harga demi mewujudkan stabilitas ekonomi daerah yang berkelanjutan,” tutup Muqorobin. (04/iKoneksi.com)

banner 325x300banner 325x300
banner 120x600
  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *