google.com, pub-7927405703202979, DIRECT, f08c47fec0942fa0

Jakarta Ulang Tahun, Mengapa Budaya Betawi Kian Sulit Ditemukan?

  • Bagikan
banner 468x60

Jakarta, iKoneksi.com – Jakarta merayakan hari jadinya yang ke-499 pada Juni 2026. Perayaan ulang tahun ibu kota setiap tahun selalu diramaikan dengan festival budaya, pertunjukan ondel-ondel, hingga kuliner khas Betawi. Namun, di balik kemeriahan tersebut, sebagian masyarakat mulai mempertanyakan keberadaan budaya Betawi dalam kehidupan sehari-hari di Jakarta. Di tengah pesatnya pembangunan dan modernisasi kota, budaya asli Jakarta dinilai semakin sulit ditemukan di ruang-ruang publik.

Budayawan Betawi Yahya Andi Saputra, mengatakan budaya Betawi yang dahulu lekat dengan kehidupan masyarakat kini lebih sering muncul pada acara seremonial atau perayaan tertentu. Bahasa Betawi mulai jarang digunakan oleh generasi muda, sementara kesenian seperti palang pintu, lenong, dan tanjidor semakin jarang ditemui di lingkungan perkotaan. Ondel-ondel yang dahulu menjadi bagian dari tradisi budaya kini lebih sering terlihat di jalanan sebagai sarana mencari nafkah.

“Menurut data pada Badan Pusat Statistik (BPS) DKI Jakarta 2024, masyarakat Betawi kini bukan lagi kelompok etnis mayoritas di Jakarta akibat tingginya urbanisasi dan perpindahan penduduk dari berbagai daerah ke ibu kota. Kondisi tersebut turut memengaruhi perubahan wajah budaya Jakarta yang semakin beragam, tetapi di sisi lain membuat identitas lokal perlahan memudar,” kata Yahya.

Yahya menyebutkan modernisasi kota membuat ruang budaya masyarakat Betawi semakin menyempit. Kampung-kampung Betawi yang dahulu menjadi pusat interaksi budaya kini banyak berubah menjadi kawasan permukiman padat maupun area komersial. Akibatnya, generasi muda semakin jarang bersentuhan lanysung dengan budaya daerahnya sendiri.

“Di tengah kondisi tersebut, kawasan Setu Babakan di Jakarta Selatan menjadi salah satu ruang yang masih mempertahankan budaya Betawi melalui pertunjukan seni, kuliner, hingga aktivitas masyarakatnya. Namun, sebagian masyarakat menilai pelestarian budaya Betawi tidak cukup hanya melalui festival atau kawasan wisata budaya semata,” jelas Yahya.

Ia menegaskan perayaan ulang tahun Jakarta seharusnya tidak hanya menjadi seremoni tahunan, tetapi juga momentum untuk mempertanyakan kembali posisi budaya Betawi di kotanya sendiri.

“Ketika gedung-gedung tinggi terus bermunculan dan wajah kota semakin modern, muncul pertanyaan mengenai sejauh mana budaya asli Jakarta masih memperoleh ruang untuk hidup dan berkembang di tengah perubahan tersebut,” pungkasnya.

banner 325x300banner 325x300
banner 120x600
  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *